Skip to main content

Banyak Nama Untuk Satu Cinta

Beli di sini: Leutikaprio

[judul] Banyak Nama Untuk Satu Cinta
[penerbit] Leutikaprio
[jenis] Antologi Cerita Pendek
[terbit] April 2012
[tebal] 199 halaman

Orang bilang cinta dapat membuat kita menjadi gila. Seperti kisah seorang perempuan yang membuat berbagai akun di media sosial, karena terpikat seorang lelaki. Lelaki yang hanya diajaknya bicara di situs jejaring sosial. Cinta juga bisa begitu bodoh sehingga tidak dapat membedakan sepenggal kata yang sederhana karena dihujani ciuman hangat bertubi-tubi. Kisah cinta tidak hanya berhenti pada sebuah happy ending seperti di dalam dongeng-dongeng, sebab ada cinta terlarang yang dijalani oleh sebagian manusia dan mereka menikmatinya diam-diam, menerima keadaan apa adanya. 

Cinta memang hanya sebuah kata, tetapi ia memiliki berbagai macam nama, nama pelaku-pelaku cinta itu sendiri. Kadang ia datang dan menetap, menghadirkan keindahan tiada tara, klasik, cinta yang sekokoh batu karang, hingga maut memisahkan mereka. Kadang ia hinggap lalu menciptakan kegalauan tak menentu. Kadang ia bisa membuat situasi menjadi konyol dan pihak-pihak yang terlibat terlihat bodoh atas nama cinta. Kadang ia juga menimbulkan luka yang menyakitkan dan sulit untuk dilupakan. Beberapa bahkan rela mati untuk satu nama itu. 

Banyak Nama Untuk Satu Cinta membawa Anda ke dalam kisah-kisah cinta orang-orang biasa dari sudut yang tidak biasa, sebab cinta memang luar biasa. It’s love, it’s love that makes the world go round!

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…