Posts

Showing posts from April, 2012

Weekly Song - Green Eyes

Image
Saya termasuk orang yang idealis terhadap pilihan warna. Kalau saya bilang saya suka biru, ya sudah. Orang lain yang mencoba melakukan intervensi terhadap saya perihal warna kesukaan, akan saya tolak mentah-mentah. Saya suka hijau, dulu sekali. Hijau bagi saya menjadi suatu ketenangan tersendiri. Sampai akhirnya, hijau jugalah yang membuat saya benci. Entah benci darimana, intinya saya jadi tidak suka.
Sama seperti warna, musik pun begitu. Saya termasuk orang yang susah diubah pendiriannya, perihal kesukaan lagu. Kalau saya bilang lagu itu enak, meski orang lain tak bilang begitu, saya tidak bisa dibantah. 
Antara musik dan warna, saya jadi ingat lagu yang terus terngiang dalam benak saya minggu ini. Entah darimana mulanya. Yang jelas, saya tiba-tiba saja memutar lagu Coldplay secara berkala. Tidak satu diskografi yang saya putar, melainkan satu lagu. Lagu yang itu-itu saja. Lagu yang dari judulnya sebenarnya bisa membuat saya langsung memindahkan daftar lagu ke lagu lain. Tapi, nyat…

Perdukunan Dalam Literasi

Image
Sejak membaca cerita tentang kultur Betawi di novel Ratih Kumala yang tak sengaja terbeli, saya jadi tertarik untuk membaca beberapa karya Ratih Kumala yang lain. Saya membaca karya Ratih secara acak, tidak berurutan, karena saya memang baru mengetahui tentang penulis satu ini dari koran. Saat menemukan Kronik Betawi dan sempat saya ceritakan di sini, saya pun ingin membeli lagi.
Setelah mendengar bahwa Ratih akan launching buku terbarunya yang berjudul Gadis Kretek, saya malah membeli kumpulan cerpennya. Entah darimana keinginan itu, yang jelas saya menemukan kumpulan cerpennya secara tidak sengaja. Kumpulan cerpen ini memuat beberapa cerita pendek Ratih Kumala yang sudah pernah diterbitkan dalam kolom-kolom surat kabar. Menurut saya, cerpen Ratih Kumala memang tidak biasa dan mengandung unsur-unsur yang jarang sekali dikemukakan oleh penulis muda. Berbagai hal yang menyerempet kepada kultural, sosial, dan juga dunia perdukunan seakan menghiasi setiap tulisan-tulisannya.
Yang menarik p…

Banyak Nama Untuk Satu Cinta

Image
Beli di sini: Leutikaprio
[judul] Banyak Nama Untuk Satu Cinta [penerbit] Leutikaprio [jenis] Antologi Cerita Pendek [terbit] April 2012 [tebal] 199 halaman
Orang bilang cinta dapat membuat kita menjadi gila. Seperti kisah seorang perempuan yang membuat berbagai akun di media sosial, karena terpikat seorang lelaki. Lelaki yang hanya diajaknya bicara di situs jejaring sosial. Cinta juga bisa begitu bodoh sehingga tidak dapat membedakan sepenggal kata yang sederhana karena dihujani ciuman hangat bertubi-tubi. Kisah cinta tidak hanya berhenti pada sebuah happy ending seperti di dalam dongeng-dongeng, sebab ada cinta terlarang yang dijalani oleh sebagian manusia dan mereka menikmatinya diam-diam, menerima keadaan apa adanya. 
Cinta memang hanya sebuah kata, tetapi ia memiliki berbagai macam nama, nama pelaku-pelaku cinta itu sendiri. Kadang ia datang dan menetap, menghadirkan keindahan tiada tara, klasik, cinta yang sekokoh batu karang, hingga maut memisahkan mereka. Kadang ia hinggap lal…

Memoar Untukmu, Munir...

Image
Seharusnya saya menuliskan ini hari Selasa lalu. Hanya saja, saya sedang bingung mau memulainya dari mana. Makanya, saat ada kesempatan, saya baru menuliskannya.
Hari Rabu ini menggantikan hari Selasa untuk membahas tentang buku. Ya, buku dan buku. Katanya, banyak membaca itu menjembatani antara bodoh dan semakin bodoh. Saya setuju, karena dengan begitu banyak membaca cenderung membuat orang skeptis dan bodoh. Bodoh dalam bersosial? Bisa jadi. Seperti saya ini lah. Dan karena saya suka menjadi bodoh, maka saya membudayakan membaca. Hehehe.
Ini buku ke-17 yang saya baca. Di antara deretan buku yang siap untuk dilahap, saya  mengambilnya. Buku ini tipis. Tak banyak yang diharapkan dari buku tipis. Seyogyanya memang begitu. Tapi, saya tak pernah membedakan ras antar buku. Apakah yang tipis itu bagus atau yang tipis itu jelek? Bagi saya, asal menarik dan berarti untuk dibaca, pastilah saya baca.
Dan benar saja. Buku tipis tak selalu benar-benar tak sarat makna. Justru, dengan penyampaian…

Dua Hari "Kencangkan Suara" dalam Pameran Jurnalisme Warga

Pada hari Minggu kemarin, saya sedang melihat-lihat linimasa saya di twitter dan seperti biasa, saya dibuat senang dengan tampilan twit dari salah satu band yaitu Efek Rumah Kaca. Mereka akan tampil sebagai salah satu band tamu, bersama dengan Tika & The Dissidents dalam penutupan acara pelatihan Citizen Journalism atau jurnalisme warga.
Acara yang digagas oleh yayasan Tempo Institute dan afiliasi dengan beberapa media independen yang bergerak dalam bidang jurnalistik, fotografi, desain, penulisan dan perfilman ini ternyata sudah saya lewatkan satu hari, yaitu pada tanggal empatbelas April. Jadi, saat saya membaca linimasa tersebut, saya tak lagi pikir panjang apakah harus datang atau tidak. Dan rencana saya untuk mengambil antrian di toko buku Leksika Kalibata City, saya batalkan. Padahal, buku gratis yang dibagikan Leksika pada Minggu sore itu adalah buku dari Dee yang terbaru, berjudul Partikel. Antara kecewa dan tidak, tapi ya sudahlah. Toh, saya mendapatkan ganjaran setimpal…

Secuil Kisah Sosio-Musika

Image
Soal musik bukan sekedar fanatisme saja. Ada pesan dan unsur utama yang seharusnya memang dapat terlaksana dengan baik oleh para pendengarnya. Seputar kemanusiaan, seputar keadilan, kebobrokan sosial, dan hal-hal tertentu semacam itu yang tidak bisa dihapuskan dari negara bobrok hanya dengan teriakan-teriakan dan peluh saja. Hal tersebut tidak bisa dihapuskan hanya dengan meneriaki kantor dan gedung DPR atau bahkan melempari aparat dengan batu panas. Ada satu hal yang efektif dan benar-benar fleksibel untuk menyuarakan sebuah kesenjangan dalam sosial. Hal tersebut tentu saja disebut musik. Musik yang bagaimana? Mari simak ulasan berikut.
Satu bulan lalu, saya sempat menulis di kompasiana tentang hal yang sama akan sebuah sosial dalam musik. Menulis tentang sosial yang disampaikan melalui musik. Saya membahas musik reggae sebagai salah satu suara dari gerakan Rastafari. Suara yang dicetuskan para kaum kulit hitam dan buruh-buruh yang terganggu sosialnya. Secara tidak sadar, tulisan sa…

Si Kupu-Kupu Biru

Image
Hari Selasa dalam minggu kedua bulan April ini, sudah saatnya saya mengulas kembali apa yang saya baca minggu lalu. Dan setelah mencapai buku ke-16 di tahun ini, sudah saatnya saya menceritakan tentang buku bacaan yang sama sekali berbeda dengan genre yang kemarin. 
Buku ini dipinjamkan oleh seorang blogger dan juga kakak dari kampus tetangga, seorang jurnalis sekaligus tukang baca.
Buku novel sastra-kontemporer ini ditulis secara bersama-sama alias keroyokan. Komunitas penulis yang menamai diri mereka dengan sebutan "Sarekat Penulis Kuping Hitam" ini adalah para kader-kader penulis yang dihasilkan dari Bengkel Penulisan Novel DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) pada tahun 2008 dan 2009. Setelah sekian lama bergelut dengan emosi dan elegi masing-masing, akhirnya mereka bisa menghasilkan satu novel beralur campuran yang diberi judul LENKA.
Sekilas, saya agak kaget ketika membaca. Saya pikir, judul bukunya Lekra. Ternyata saya salah baca judul. Setelah memperhatikan lebih lanjut, juduln…

Mengenal Musik Grunge Yang Berbeda

Image
Beberapa penggiat musik era 90-an yang sampai sekarang masih mendengarkannya dengan loyal mungkin akan sangat bergembira dengan isu kembali bergemanya musik tersebut. Beberapa aliran musik yang sempat mewarnai pasar musik Indonesia di tahun 90-an akhirnya bisa ditemukan kembali oleh para pecintanya. Maraknya acara-acara musik kaum minoritas, menjadi indikator penting atas kembalinya era musik idealis yang dinantikan.
Salah satu dari berbagai genre 90-an itu antara lain adalah musik Grunge. Dalam beberapa tulisan saya tentang Grunge, yang pernah saya ulas di tautan ini, mungkin masih banyak yang bertanya-tanya tentang apakah Grunge itu? Nah, pertanyaan kalian akan dijabarkan secara singkat, padat, dan jelas, sebagai bentuk edukasi tentang musik juga. Lumayan bukan? Menambah wawasan teman-teman semua akan musik Grunge yang mungkin masih terdengar asing di telinga kalian.
Menurut sumber yang di ambil dari Wikipedia, Grunge atau Seattle sound adalah sebuah sub genre dari rock alternatif …

Komunikasi dan Persahabatan Antardimensi

Image
"Tahukah kalian apa itu Danur? Danur adalah cairan berbau yang menyeruak dari seseorang yang sudah mati...."
Abaikan tulisan curhat saya Senin kemarin. Itu hanya buah pikiran di sela-sela rutinitas membosankan kok. Hari ini Selasa, dan sesuai janji untuk diri sendiri--meski membuat bingung--saya ternyata bisa membereskan buku ke-15 di tahun ini. Sejauh ini, janji membaca dari reading challenge di Goodreads yang seharusnya tidak perlu diambil pusing nyatanya malah bisa maju sedikit-sedikit, sesuai target. Dan karena janji pun, saya menulis ulasan buku-buku bacaan itu untuk menghibur teman-teman sekalian.
Saya adalah tipe orang yang suka membaca berbagai jenis buku. Di antara ribuan perempuan seusia saya yang senang membaca roman klasik, metropop, dan beberapa kisah fantasi, saya mengabaikan pemahaman itu. Buku saya cukup beragam, dari yang saya miliki sampai pinjam ke teman. Dan kali ini, saya membaca buku beraroma horror dengan gaya bercerita seperti diary karena sepertinya bu…

Ada Kultur di Wrath of the Titans

Image
Kenapa judul artikel ini saya beri tagging kategori "culture"?
Sebelum menjawab itu, saya akan membahas judul kali ini. Judul posting kali ini saya buat begitu karena memang hari ini hari Minggu dan saatnya kita belajar dari sebuah "tontonan" atau film. Entah kenapa, saya akhir-akhir ini sedang membuang jenuh terhadap segala rutinitas. Membaca di lantai teratas gedung yang setengah jadi di daerah Cilandak, berteriak-teriak di pinggir pantai, menonton film sampai bosan, dan berkumpul bersama orang-orang baru yang menyenangkan. Karena kejenuhan itulah, rutinitas saya pun berganti. Dari seorang yang disiplin dan sangat struktural, menjadi orang yang cuek, ceplas-ceplos, dan apa adanya. Hehe.
Hari Minggu ini saya mau membahas sebuah film yang tidak lain membuat saya berpikir, apakah memang sudah seharusnya mitologi Yunani menjadi seperti itu? Nah, dari sinilah saya menarik kesimpulan bahwa film yang kali ini saya tonton, mengandung muatan kultural atau budaya yang mengak…