Skip to main content

[Musik] Bali Total Grunge Compilation 2011 - Vol. 1

Sudah sejak lama saya ingin membuat ulasan tentang sebuah album yang sedang ada di tangan saya sekarang. Saya sudah memilikinya sejak lama namun tak juga menemukan Kamis yang tepat untuk membuat ulasannya. Album ini sendiri saya dapatkan dari seorang musisi bernama Ricky Respito, personil Respito (band Grunge), sekaligus pemilik Omahku Studio Musik.

Album ini merupakan album kompilasi yang dibuat oleh komunitas Grunge Bali bernama Bali Total Grunge. Band yang ada di dalamnya pun sangatlah beragam. Mulai dari jenis musik, unsur instrumen yang dimainkan, dan juga tema lirik dari lagu mereka. Semua hal itu membuat perbedaan yang ada dalam album ini terkesan indah. Perbedaan yang terjadi bukannya membuat perpecahan malah membuat warna musik yang semakin beragam saja. Di samping itu, keindahan perbedaan itu bisa menyatukan seluruh penggiat scene Grunge di Bali dan Indonesia tentunya.

Dan bagaimanakah bentuk dari album kompilasi keren dari komunitas yang juga keren ini? Sila disimak.

Patrick dan CD Kompilasi BTG
(Lihat! Gambar Kurt memakai udeng! :D)


Pertama membuka sampul plastik album tersebut, saya terkesima melihat design cover yang sangat unik. Raster gambar Kurt Cobain yang mengenakan udeng (ikat kepala khas Bali) terlihat mendominasi hampir seluruh bagian depan cover album tersebut. Wah, ini keren sekali! Menurut saya, yang membuat kompilasi ini berbeda dari kompilasi lainnya adalah karena desain sederhana yang identik dan berbeda dari album-album kompilasi lainnya.

Tampilan CD dan kemasannya
Desain sederhana berlatar belakang putih kekuning-kuningan dengan detil biru muda, membuat album ini layak dipandang mata. Malah terkesan menyegarkan kalau menurut saya. Nama sang desainer tercetak di bagian belakang album, berikut keterangan-keterangan lain tentang album itu. Kalau tidak salah, gambar Kurt Cobain dengan udeng itu diplesetkan oleh Robi Navicula dari cover buku "Heavier Than Heaven". Bagian dalam album ini juga sangat eyecatchy sekali lho teman! Mulai dari sebelah kanan yang menceritakan kronologi berdirinya Bali Total Grunge oleh "Ketut Cobain" dan di sebelah kiri ada penjelasan singkat tentang band-band yang mengisi kompilasi. Ada fanpage, contact person, dan akun twitter dari band-band di dalam kompilasi.

Sekitar tanggal 20 Maret yang lalu, sambil mendengarkan lagu-lagu dari album kompilasi ini, saya menyempatkan diri untuk membuat review 140 karakter dalam twitter @ayuiniteh terkait album kompilasi ini. Ulasan pendek ini bisa dibaca dengan hashtag #balitotalgrungecompilation. Dan kurang lebih, seperti inilah poin-poin dari ulasan di twitter.

  1. banyak unsur silverchair dan riff-riff nada rendah di Bali Total Grunge Compilation vol. 1... hmmm... #balitotalgrungecompilation
  2. ada sedikit unsur rock 'n roll juga loh ternyata!!! #balitotalgrungecompilation
  3. tema yang diusung beragam. ada yang mengangkat tema seputar isu negara dan realitas wanita #balitotalgrungecompilation
  4. efekbatik dengan hate the doctor yang berdistorsi rendah, hampir mirip dengan israel son, pada bagian awalnya. #balitotalgrungecompilation
  5. spankmonera dng lagu damai, menarik d bag. awal, ada sliding senar! :D namun masuk beat awal, agak lambat. #balitotalgrungecompilation
  6. @naviculamusic dengan metropolutan, hmm. berhubung sudah dengar, jadi tidak begitu banyak komentar u/ ini. :D #balitotalgrungecompilation
  7. in utero w/ bumi pertiwi. ad efek laser2 gitu di awal. :D saya suka suara vokalisnya. berat tp nyecep ke hati! #balitotalgrungecompilation
  8. midbangs w/ imajinasi liar. suka gitar di awal, krn kesannya jadi etnik. teriakan di tengah lagu memberi klimaks #balitotalgrungecompilation
  9. nymphea w/ peace. ini satu2nya band yg bervokalis wanita. u/ lagu sekeras ini, vokalisnya mampu membawa dinamika #balitotalgrungecompilation
  10. naughtoria w/ nafsu amoral. wow! saya seperti mendengar koil + silverchair nih! mirip spawn again apa gimana yaaa? :D.
  11. nah, ini nocturnal w/ she, lagunya agak mirip the calling malah. :D tapi suara vokalisnya empuk banget. #balitotalgrungecompilation
  12. otakering w/ manusia fermentasi ini yang agak berbau nirvana. yg membedakan cm cr nyanyinya, di-sliding. #balitotalgrungecompilation
  13. electric w/ wanita liar. vol. gitarnya agak krg sih. tp mungkin mmg dbwt sprti itu biar serupa ruang redam kali. #balitotalgrungecompilation
  14. moist vagina - kupu2 malam. agak mirip smells like teen spirit nirvana tp it's okay lah, nmany jg influence. ^^ #balitotalgrungecompilation
  15. negative - die. inipun sepertinya terinfluence dari nirvana. :D malah dinamikanya mirip sekali. mirip lagu ap y? #balitotalgrungecompilation
  16. balian - lost at sea. waaaah ini saya suka. malah kayak the sigit loh! :D jadi nuansa rokenroll juga ada nih. :D #balitotalgrungecompilation
  17. valium - sebut dia. yang ini juga unik. vokalnya unik, dinamika lagu jg naik-turun, ngga datar. musikalitas top! #balitotalgrungecompilation
  18. nameless noise - the moon & me. akhir2 album malah brnuansa rokenroll & a little touch of blues/folks. cool! #balitotalgrungecompilation
  19. ini bukan sok tahu, melainkan hanya penilaian dari orang luar yang objektif kok. #balitotalgrungecompilation
  20. nah, intinya adalah, tetap gemakan grunge dimanapun anda berada. salam grunge! #balitotalgrungecompilation

Dalam album kompilasi ini ada 15 band yang mengisi. Pembukaan album disambut oleh band bernama Efek Batik. Band ini mengisi kompilasi dengan lagu "Hate the Doctor". Pada awal lagu, kita akan mendengar solo bass yang sekilas mirip dengan Israel Son dari Silverchair. Dan pada tengah lagu, kita akan mendengar teriakan-teriakan sebagai bentuk protes terhadap objek utama lagu, seorang dokter. Entah mengambil segi apa lagu ini. Sepertinya lagu ini mengambil tema penolakan mal praktek yang ditujukan langsung kepada si dokter sehingga menghasilkan bunyi-bunyian dengan riff bernada rendah yang sarat kekecewaan.

Spankmonera di track 2 dengan lagu Damai. Pada bagian awal memang beat-nya agak lambat, namun setelah bagian itu lewat ada sliding senar gitar yang membuat lagu ini jadi menarik. Dan setelah itu, dilanjutkan dengan Navicula. Lagu Metropolutan dari Navicula mengisi track 3 untuk kompilasi ini. Lagu ini adalah lagu yang familiar untuk kita semua. Lagu yang mengangkat realita di kota Jakarta dan segudang masalah saat kemacetan. Betapa lagu ini kaya akan konflik, meski hanya mengangkat tema yang sederhana, yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tampilan CD dan keseluruhan paket bagian dalam

Track 4 diisi oleh In Utero. Band ini mengisi dengan lagu berjudul Bumi Pertiwi. Lagu yang sarat pesan moral mengenai bangsa sendiri ini tak hanya mengedepankan komposisi lirik tetapi juga musikalitas. Efek laser yang ada dalam lagu membuat lagu ini semakin indah dan suara vokalis yang berat namun menyayat, mampu mengembangkan dinamika pendengar lagu. Setelahnya ada Midbangs dengan Imajinasi Liar. Diawali dengan gitar yang membuat kesan lagu ini jadi agak etnik dan kontemporer. Seperti petikan kecapi. Lagu yang sekilas seperti mendengar lagu bertipe psychadelic dan mengedepankan imajinasi yang liar. Dengan teriakan di tengah lagu, membuat lagu ini mencapai klimaksnya. 

Nymphea berada di posisi setelahnya. Band ini adalah pengisi kompilasi satu-satunya yang bervokalis wanita. Membawakan lagu berjudul Peace yang berisi pesan tentang perdamaian. Untuk lagu yang bertipe keras, riff kasar dan tempo agak kencang ini, Sari--nama vokalisnya--bisa membawa dinamika lagu tetap pada kontrol. Salut! Naughtoria dengan lagu Nafsu Amoral. Mengusung tema "wanita" lebih tepatnya, "wanita malam", band ini menghiasi lagunya dengan musikalitas yang menyerupai Koil bercampur Silverchair. Mendengar ini, saya seperti mendengar suramnya Silverchair pada lagunya yang berjudul Spawn Again.

Nocturnal dengan lagunya "She". Lagu ini diawali dengan petikan gitar yang sekilas menyerupai lagu The Calling--band yang sukses mempopulerkan lagu "Wherever You Will Go". Suara vokalisnya yang empuk membuat lagu ini sangat easy listening dibandingkan lagu lainnya yang sarat emosi. Namun, masih tetap bisa dinikmati kok oleh para pecinta Grunge. Selanjutnya ada Otakering dengan Manusia Fermentasi. Ini salah satu band yang lagunya membawa influence Nirvana. Yang membedakannya dengan Nirvana adalah suara vokalisnya yang tidak seperti Kurt. Suara Kurt agak serak dan berat, sedangkan vokalis band ini bersuara melengking dan membawakan lagu bernuansa Nirvana dengan teknik sliding vokal. Keren lho kawan!

Electric dengan Wanita Liar. Menurut saya, volume gitar dalam lagu ini agak kurang. Warna vokalnya juga agak aneh. Mungkin memang sengaja dibuat seperti itu agar terkesan seperti menyanyi dalam ruang redam dan direkam. Moist Vagina dengan Kupu-Kupu Malam. Lagu ini agak terkesan menyerupai Smells Like Teen Spirit-nya Nirvana. Mungkin memang influence band ini datang dari band legendaris Grunge itu. 

Selanjutnya ada band Negative dengan lagunya yang berjudul Die. Band ini yang membawa influence Nirvana dari segala aspek. Mulai dari teknik vokal, teknik permainan gitar dan hentakan drum, tak lupa juga dinamika musik yang mirip Nirvana. Untunglah artikulasi penyampaian lirik cukup jelas dan melodi rumit nan terstruktur menghiasi lagu ini. Balian dengan Lost at Sea. Wah, ini nih yang paling saya suka! Grunge yang tidak melulu harus distorsi kasar. Permainan melodi dan musikalitas yang sangat dekat dengan Rock 'n Roll atau Blues! Saya seperti mendengar Grunge, dibawakan oleh The S.I.G.I.T.

Selanjutnya ada Valium dengan Sebut Dia. Yang ini sangat unik lho kalau menurut saya. Dinamika lagu dan juga warna vokalnya sangat unik. Seperti membaca cerita dalam alur maju dan mundur. Bedanya, yang ini tidak melulu datar. Ya seperti yang saya bilang, dinamikanya naik-turun dan menurut saya, band ini memiliki musikalitas bagus. Yang terakhir ada Nameless Noise dengan The Moon and Me. Mendengar nama band, saya kira akan ada unsur noise yang gila dari band ini. Ternyata, saya dibuat terhenyak dengan musikalitas yang sangat Rock 'n Roll sekali! Bernuansa Blues dan juga Folks. Tidak begitu banyak noise yang sengaja dimainkan. Wah, menjelang akhir album ditutup dengan hiasan Folks! Sangat tidak terduga. 

Itulah cuplikan ulasan mengenai Bali Total Grunge Compilation Volume 1, yang diluncurkan tahun 2011 itu. Betapa perbedaan terlihat indah dan sejuk di telinga, membuat kita semakin mencintai produk dalam negeri yang masih mempertahankan idealisme dalam bermusik. Tentunya dalam musik yang berkualitas dan mengedepankan perbedaan untuk idealis bersama-sama. [Ayu]

=========================================
Info lebih lanjut, jika ingin memesan atau mendengar demo lagu:

Comments

  1. sepertinya semangat baru mulai bermunculan nih, di doaken gudlak buat mereka :p

    ReplyDelete
  2. Ayu banyak tahu tentang musik ya, aku nggak ngerti malah :(

    Btw itu si Patrick ngefans sama kompilasi BTG juga ya :D

    ReplyDelete
  3. Bener2 gak gerti aku masalah musik ini. Walaupun aku penggemar lagu rock.
    Semoga sukses lah pokoknya hehe...

    ReplyDelete
  4. warna disk nya keyeen... *biruuu* :)

    aye kaga ngerti dah soal lagu2 beginian maklum ndesoo...hehhee

    ReplyDelete
  5. design cdnya kayak baju batikku waktu smu cm bedanya merah batikku :P

    ReplyDelete
  6. Weih! Mantep, nih! Komunitas grunge emang gk keliatan, tp muga aja bs dikit2 nunjukin giginya! Gudlak, ya... ;-)

    ReplyDelete
  7. @eksakAh kata siapa gak keliatan? Keliatan kok, malah saya sering datang.

    ReplyDelete
  8. maaf, gak ngerti jenis musik ..huaa...

    TAunya 'pendengar' only neh...asal enak di dengerin gtu deh..

    ReplyDelete
  9. Kataku dong, yu! Emang sering dateng kemana? :-P

    ReplyDelete
  10. @Ririe Khayanyaaa gpp Mbak :) Nggak maksa denger ini kok, saya cuma share buat kepentingan komunitas lain yang baca blog ini juga. ^^

    ReplyDelete
  11. grunge itu yang riuh ramai itu ya Yu?

    ReplyDelete
  12. widiw, sepertinya sesuatu banget yah nih lagu XD

    ReplyDelete
  13. @naspardbegitulah.. :) dari rakyat, untuk rakyat.

    ReplyDelete
  14. Wah si Ayu ngerti banget tentang musik, aku kalah nih. Aku nggak begitu mengikuti soalnya. Sukses buat komunitas Grunge Bali :)

    ReplyDelete
  15. suaranya empuk banget hehe seempuk apa ya? ini sekaligus menandakan animo anak muda untuk bsa lebih dalam berkarya :) sukses ya...

    ReplyDelete
  16. Ayuuuu... sekali-kali bahas musik dangdut donkkk... kan dangdut is the music of my country... hahahahah

    ReplyDelete
  17. eh ternyata review music juga... tetap kereen,,,

    mau review The Woman In Black, takut jelek :P

    ReplyDelete
  18. saya ngefans sm Patricnya aja dah, hehehe...

    ReplyDelete
  19. Mantap ulasannya..Grunge Never Die

    ReplyDelete
  20. @ayu welirang : Dimana saya bisa dapatkan album ini, posisi saya di bali ( badung ). bisa dibantu ? trims

    ReplyDelete
    Replies
    1. waduh, sepertinya sudah tidak available bang. Nanti coba saya tanya teman dulu ya. Coba hubungi FB Ian Wisanggeni saja Bang.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…