Skip to main content

Jangan Main-Main Dengan...

Djenar Maesa Ayu
Hari Selasa ini adalah waktunya untuk review buku ke-14 dalam reading list yang saya harus selesaikan di tahun 2012. Dan untungnya, sesuai target, sepertinya saya bisa membereskan limabelas buku untuk bulan ke-3 di tahun 2012 ini. 

Buku ke-14 ini sepertinya tidak akan jauh-jauh dari tema dua buku di minggu-minggu sebelumnya. Buku kali ini masih berkutat di seputar kehidupan dewasa. Hehe. Bukannya saya suka cerita-cerita berbau vulgar. Saya membacanya terlebih karena saya lebih dulu membaca tema yang ditawarkan. Kali ini, marilah kita angkat tema feminisme.

Buku ke-14 ini adalah buku dari seorang penulis berbakat dan kerap kali memenangkan penghargaan dan juga nobel sastra di Indonesia maupun luar negeri. Kenalkah kalian pada Djenar Maesa Ayu? Nah, itulah nama penulisnya. Dan buku yang saya baca dari penulis tersebut berjudul Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu).

Ada sebelas cerita pendek dalam buku ini. Kesemuanya mengisahkan tentang perempuan dan problematikanya. Awal-awal membaca cerpen pertama, memang agak membingungkan karena bercerita dari sudut pandang empat orang yang berbeda. Yang mencirikan khas Djenar pun tergambar dari setiap cerpen. Cinta semalam, seksologi, perempuan malam, desah dan peluh, juga ciri khas lain yang mungkin akan kalian dapatkan kalau membaca karya-karya Djenar yang lain.

Cover Jangan Main-Main
Salah satu cerpen dalam kumpulan cerpen Djenar ini sempat menjadi cerpen terbaik Jurnal Perempuan pada tahun 2002 dalam rangka mengkampanyekan "Anti Kekerasan Pada Perempuan". Cerpen yang dimaksud berjudul "Menyusu Ayah" dan menggambarkan seorang gadis bernama Nayla yang rindu Ibu, sehingga mengganti sosok Ibu dengan Ayah.

Cerpen berjudul "Staccato" dituliskan dengan gaya penulisan menarik. Pemotongan-pemotongan kalimat yang berulang dan bergaya susul-menyusul sehingga menjadi menarik. Meski tema yang disajikan tak jauh dari hal yang berbau "vulgar", tak mengurangi keindahan unsur literatur Indonesia. 

Cerpen yang tak kalah menarik adalah cerpen berjudul "Moral". Membahasakan bagaimana moral bisa dibeli. Membahasakan bagaimana moral dijual murah, dikalahkan dengan rok mini yang berharga lebih mahal. Membahasakan bagaimana orang-orang di pesta, memakai "moral" sedangkan seorang perempuan dan sahabatnya yang trans-gender tak memakai moral. Ini menampar semua orang dan bagian terakhir cerpen yang berbunyi, "Hari ini moral diobral di DPR lima ribu tiga!", jelas menampar pemerintahan. Bagaimana tidak? Demi uang dan tahta, moral rela diobral pemerintah busuk kita.

Cerpen lain tentang problematika perempuan atas kecantikan fisik tergambar dalam cerpen berjudul "Payudara Nai-Nai". Nai-Nai seorang Tionghoa yang mempertanyakan, kenapa dirinya dinamai Nai-Nai? Padahal, arti Nai-Nai sendiri adalah payudara sehingga membuat dirinya diolok-olok teman karena namanya tidak sesuai dengan bentuk fisiknya. Hal tersebut membuat Nai-Nai jadi semakin gila. Dia senang membaca stensilan yang akan dijual ayahnya pada malam hari dan dia seringkali berfantasi.

Cerpen-cerpen lainnya bisa dibaca sendiri dalam buku kumpulan cerpen ini. Semua cerpen yang ada dalam buku tersebut bukanlah cerpen seks semata melainkan cerpen yang di dalamnya tersisipkan perasaan dan hal yang ditabukan masyarakat. Betapa peran perempuan pengganti sangatlah besar dan betapa perempuan begitu berharga dan sudah seharusnya untuk dihargai dan dihormati. Betapa perempuan menjadi bermasalah bukan karena dirinya ingin, tetapi karena suatu faktor yang membuatnya begitu. [Ayu]

Judul Buku: Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)
Pengarang: Djenar Maesa Ayu
Penerbit: Gramedia
Tahun Rilis: 2004
ISBN: 9789792206708
Page: 200
Genre: Kumpulan Cerpen, Bacaan Dewasa, Feminisme
Harga: Rp 35.500,-
Rate: 3 / 5
Pics: random from Google

Comments

  1. Pertamina! Gk peduli org demo bbm, baca jalan trus! Hehehe, bacaan dewasa ya mbak? Mantep kayaknya... ;-)

    ReplyDelete
  2. Dari covernya mengundang untuk dibaca,dan isinya ternyata menarik :)

    ReplyDelete
  3. belum punya bukunya djenar maesa ayu neh...lumayan bisa baca sekilas infonya di sini. so tengkyuu

    ReplyDelete
  4. @eksakSaya juga demo kok, demo dengan cara berbeda. :) Saya kan kerja, tapi kuliah juga, saya juga demo lewat sesuatu yang tidak musti turun ke jalan. :)

    Yaaa baca jalan terus, biar pinter. Kalo pinter, bisa demo pake kepala, bukan kaki dan tangan. :)))

    ReplyDelete
  5. @Asep SaepurohmanUdah 20 tahun belum Sep? Kalo belom gak boleh baca. :P

    ReplyDelete
  6. Waah...kasihan Nai nai.. jadi pengen tau gimana endingnya -_- sayang lagi tongpes gak mampu buat belanja buku :( hikss...

    ReplyDelete
  7. @Si Belolagipula buku ini udah susah dicari T___T huhuuuuuuu

    ReplyDelete
  8. bagus yaa mbak cerita na, jadi pingin baca, pinjem dung mbak lagi kanker ini (kantong kering) :D

    ReplyDelete
  9. ini nih orang yang pernah bilang saya monyet, huhuhuhuhu ^^

    ReplyDelete
  10. Kenceng yu bacanya, aku De Liefde-nya Afra nggak selesai2 ha..ha..

    ReplyDelete
  11. Ini bukannya ada filmnya ya? Jangan main main dengan kelaminmu.

    ReplyDelete
  12. Judulnya frontal.. :)
    Terbitan 2004 ya. masih ada ngak ya di gramed???
    Jadi tertarik buat baca. masukin ke list pembelian buku bulan depan aht.

    ReplyDelete
  13. Xixiixi... baca judulnya kayaknya asik neh bukunya :D

    ReplyDelete
  14. wah, selalu dengan judul yang membuat mata terbelalak...^^

    ReplyDelete
  15. @s y a mYang ada filmnya kalo gak salah sih cuma yang Mereka Bilang Saya Monyet :D

    ReplyDelete
  16. @Yan Muhtadi Arbaada, tapi mungkin sisa-sisa. Coba dicari duluuu ^^ Di Kinokuniya sih ada. :D

    ReplyDelete
  17. dapat 3/5 hmm.... jadi ga penasaran bacanya :P

    ReplyDelete
  18. saya suka buku seprti ini karna biasanya diambil dari cerita2 yg ada di masyrakat :D

    ReplyDelete
  19. @Miss 'UItu kan rating subjektif, kalau objektif sih beda lagi :P

    ReplyDelete
  20. hmm...dari judulnya aja udh pasti bikin para pembaca penasaran..

    ReplyDelete
  21. aku belum pernah baca bukunya Djenar Maesa Ayu, abis judulnya bikin mengernyitkan alis :D maybe someday i'll try :)

    ReplyDelete
  22. Aku ngakunya suka koleksi buku tapi buku Djenar Maesa Ayu satupun nggak punya, cuma sering baca namanya di deretan buku-buku di toko buku.

    Sepertinya yang ini menarik :) Salam kenal ya

    ReplyDelete
  23. @NFJudul tak selalu mencerminkan isi kok :)

    ReplyDelete
  24. Kyaaaa, banyak pelajaran didalam ceritanya =)

    ReplyDelete
  25. Wow ... uniknya seorang Djenar :)
    #Itu saja bisa dikomen hehehe#

    ReplyDelete
  26. Reviewnya keren.. Kayaknya buku ini keren juga ya, cuman untuk seumuranku kayaknya masih dilarang baca begini, bukan masalah apanya. judulnya itu.. pasti ortu aku nyangka aku baca yang aneh-aneh hehe :D

    ReplyDelete
  27. wooo, bukunya...
    ah aku komen template'a aja ah :P

    headernya keren aku suka
    *dilempar sendal, gara2 komen OOT*
    :D

    ReplyDelete
  28. @Ayu Welirang hehe iya juga sih, btw slamat juga yaa cerpennya masuk antologi cecintaan ;)

    ReplyDelete
  29. @NF:D padahal aku gak tahu, waktu itu nulis cerpen macem apa. -_-

    ReplyDelete
  30. @Elfrida ChaniaOh iya, ini semi-stensil. Jadi di bawah 20 tahun belum boleh bacaaa. :D

    ReplyDelete
  31. Aku belum membaca buku ini, sempat kepikiran mau beli tahun-tahun lalu namun apa daya, belum terealisasi.

    Rupanya isinya adalah sindiran dan pesan moral ya.

    ReplyDelete
  32. mantap bukan hanya covernya yang menarik ternyata isinya pun menarik
    di tunggu ya kunjungan baliknya ke http://articles.century21.co.id

    ReplyDelete
  33. buku stensilan yah, mesti ngeseks trus nih lakonnya

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…