Skip to main content

Hati-Hati Berbagi Suami!

Berbagi suami atau sebuah kejadian yang dialami istri dalam poligami adalah sesuatu yang tidak dilarang oleh Islam. Yang menjadikannya terlarang adalah apabila sang istri mulai tak ikhlas dipoligami dan sang suami tak lagi bisa berbuat adil terhadap istri-istrinya, baik secara materi maupun batiniah. Dan semua hal tentang poligami memang masih menjadi perdebatan di kalangan feminis yang pro maupun tidak.

Pandangan lain tentang poligami, saya dapatkan dari sebuah film. Betapa poligami membuat ikatan batin antar istri-istri menjadi kuat. Betapa poligami pun bisa membuat istri-istri bertengkar, karena kadang itulah yang terjadi di antara para istri.

Seperti kisah poligami dari tiga perempuan dengan latar belakang berbeda dan hidup dalam kerangka yang berbeda. Dari kerangka tersebut, terdapat benang merah antara perempuan-perempuan itu sehingga kalau kita perhatikan dengan jeli, kita sebenarnya berada di waktu yang sama, dengan kisah berbeda. Jenis film seperti itu sudah cukup banyak kita temukan, namun jarang sekali ada insan perfilman yang berhasil menggabungkan beberapa kisah dalam satu waktu. Dan jenis film seperti itu, sangat apik digarap oleh Nia Dinata sang sutradara yang menghasilkan film dengan judul Berbagi Suami

Berbagi Suami

Film ini mengisahkan tentang kejadian poligami pada tiga orang perempuan dengan latar belakang berbeda. Adalah Salma (Jajang C. Noer) yang berbahagia menjalani kehidupannya sebagai dokter bersama suaminya, Pak Haji Ali Imron (El Manik) yang merupakan seorang pengusaha sekaligus politikus dan mempunyai seorang anak bernama Nadin (Winky Wiryawan). Tanpa sepengetahuan Salma, ternyata Pak Haji melakukan poligami dan menikah secara siri. Pertama-tama, Salma mengetahui kalau Pak Haji mempunyai istri muda yang pertama bernama Indri (Nungki Kusumastuti) dan istri muda lagi bernama Ima (Atiqah Hasiholan). Salma sendiri tak menyukai kelakuan suaminya, namun memilih diam dan hidup senang saja bersama anaknya, Nadin. Sampai beberapa saat kemudian, Pak Haji Ali sakit stroke dan lumpuh. Nadin tetap membenci ayahnya meskipun Salma sudah memintanya untuk memaafkan Pak Haji. Sebelum Pak Haji menghembuskan nafas terakhirnya, Pak Haji membisikkan sesuatu yang tak akan pernah dilupakan oleh Nadin dan membuat dia memaafkan ayahnya. Sebelum meninggal, Pak Haji malah sempat berkelakar, "Nadin, nanti kalau punya istri satu aja, jangan banyak-banyak. Pusing...." Begitulah kata Pak Haji sebelum meninggal. Saat pemakaman, ternyata ada seorang perempuan muda yang menangisi kepergian Pak Haji dan dia mengaku sebagai istri Pak Haji. Sepeninggal Pak Haji, Nadin menjadi sukarelawan untuk bencana tsunami Aceh meskipun dulu dia sempat menolak mentah-mentah ajakan Pak Haji untuk ikut sebagai relawan.

Kondisi Rumah Kontrakan Pak Lik
Kisah kedua bercerita tentang Siti (Shanty), seorang perempuan Jawa yang dibawa oleh Pak Liknya yang bekerja di kota. Siti tinggal di rumah Pak Lik (Lukman Sardi), bersama dua orang istri Pak Lik yang bernama Sri dan Dwi (diperankan oleh Ria Irawan dan Rieke Dyah Pitaloka). Pertama-tama, Siti datang untuk kursus kecantikan sembari membantu Pak Lik mengurus anak-anaknya. Lama kelamaan, Pak Lik bermaksud untuk mempersunting Siti, meski Siti menerima lamaran dan melakukan akad nikah dengan derai air mata. Istri-istri Pak Lik yang lain hanya bisa memberitahukan bahwa niat suaminya membawa Siti memang untuk melihat keterampilannya dan mempersuntingnya. Istri-istri Pak Lik sangat baik dan menerima Siti. Pada suatu ketika, Siti mengantar Sri periksa ke dokter kandungan karena Sri hamil lagi. Mereka pergi ke dokter Salma dan diberitahukan bahwa Sri terkena Gonorrhea karena kehidupan seksual yang tidak baik. Istri-istri Pak Lik langsung berspekulasi bahwa ini terjadi karena Pak Lik tidak sehat. Siti dan Dwi pun sepakat untuk minggat, tanpa sepengetahuan Sri. Saat mereka memutuskan untuk minggat, Siti dan Dwi menjalani kehidupan lesbian. Sepulang Pak Lik dari Aceh, sebagai supir pembantu, Pak Lik membawa istri lagi dan pada dini harinya, Siti dan Dwi kabur dari rumah.

Kisah ketiga bercerita tentang Ming (Dominique), seorang perempuan berusia 19 tahun yang bekerja di warung bebek Koh Abun (Tio Pakusadewo). Kecantikan Ming membuat semua orang jatuh hati, termasuk Koh Abun. Koh Abun pun berniat untuk menikahi Ming tanpa sepengetahuan Cik Linda (Ira Maya Sopha), istri Koh Abun. Ming diberi fasilitas mewah dan pada akhirnya, setelah berjalan beberapa bulan, Cik Linda mengetahui bahwa Ming sudah diperistri Koh Abun. Ming akhirnya diusir dan sebelum Koh Abun pergi, dia sempat meninggalkan sejumlah uang untuk masa depan Ming. Ming pun akhirnya kembali pada kehidupan yang biasa saja untuk mengejar cita-citanya sebagai pemain film.

Cuplikan Adegan (kolase oleh Ayu)

Film Berbagi Suami terbagi dalam tiga segmen cerita yaitu cerita Salma, Siti dan Ming. Berbagi Suami adalah tuturan para perempuan yang menjalani kehidupan dipoligami dari kalangan usia, sosial dan etnis yang berbeda: Salma yang diperankan Jajang C Noer mewakili kalangan berpendidikan dengan strata sosial yang tinggi, berprofesi sebagai dokter, berlatar kultur Betawi di usia 50-an, bersuamikan pengusaha yang terjun ke dunia politik. Siti yang diperankan Shanty adalah perempuan dari pelosok Jawa, yang usianya mendekati 30-an; dan Ming yang diperankan Dominique, gadis keturunan Tionghoa yang berusia 19 tahun.

Ketiganya pernah bertemu meski tidak terlalu saling mengenal, namun mereka mengalami kondisi yang mirip: dipoligami. Berbagi Suami adalah penuturan Salma, Siti dan Ming tentang hidup dalam poligami.

Tak ada kisah pembunuhan, penyiksaan, atau adegan menyedihkan di film ini. Poligami yang wajar terjadi dalam kehidupan. Banyak yang pernah mengalaminya dan tak ada hal-hal klise seperti dalam sinetron. Kisah poligami yang disajikan pun malah membuka pikiran kita akan betapa tabunya poligami dan betapa abu-abunya. Ada keuntungan, ada pula kerugian.

Dan karena kisah inspiratif dari tiga perempuan kuat yang berbeda generasi inilah saya memberikan rating tinggi untuk film antar generasi ini. 

Judul: Berbagi Suami
Sutradara: Nia Dinata
Produksi: Kalyana Shira
Pemain: Jajang C. Noer, Shanty, Dominique, Ria Irawan, Rieke Dyah Pitaloka, Winky Wiryawan, El Manik, Lukman Sardi, Tio Pakusadewo, Ira Maya Sopha, Nungki Kusumastuti, Atiqah Hasiholan, Laudya C. Bella 
Rilis: 23 Maret 2006
Rating: 5 / 5

Comments

  1. Belum nonton filmnya mbak. Poligami menurut saya sih tergantung yg menjalaninya ya. Kadang kita bilang kasihan, ternyata ada juga yg bahagia dan sebaliknya. Tapi ada baiknya juga sih dibikin film yg mengangkat kehidupan poligami yg mengacu pada kisah nyata. Agar bisa dijadikan pertimbangan bgi yg menganut poligami.

    ReplyDelete
  2. @Anak RantauIni sih gak sepenuhnya kisah nyata. Tapi mungkin, mungkin loh yaaa, kalau ini ada di dunia nyata. :D

    ReplyDelete
  3. film lama ini ya ? emang bagus nih filmnya...meskipun seorang pria tapi kalo aku sama sekali tidak berminat dan tidak tertarik juga untuk poligami...

    ReplyDelete
  4. trims atas reviewnya,,,dari sini sudah seperti nonton

    ReplyDelete
  5. mungkin tergantung bagi si wanita ya mbak, buktinya yang di tv dulu punya istri 9 lok nggak salah dan hidup satu rumah...

    ReplyDelete
  6. hmmmm...alur cerita yang 'nda biasa' untuk golongan film indonesia^^

    ReplyDelete
  7. Nanya ane, gak? Ane kan cowok! Jd poligami... Emh'..no aja deh! Hehehe

    ReplyDelete
  8. wanita di jajah pria sejak dulu ... hihihiy inget lagu itu gw ^^

    ReplyDelete
  9. Adil itu memang susah... jadi mending nggak poligami deh he..he.. apalagi perempuan itu cemburuan kan..

    Dari review keliatannya Film ini menarik utk ditonton :D

    ReplyDelete
  10. pernah cita2 nonton, tapi ndak tau kenapa belum sempat juga... huhuhu!

    btw pemeran wanitanya saya suka semuanya, hmmm :)

    ReplyDelete
  11. Keren juga filmnya ya. Konfliknya rame banget. Di kehidupan nyata banyak. Teman2 saya pun sudah ada beberapa. Menyedihkan.

    Tapi ada pula yang bahagia lho, malah ia yang memilihkan istri untuk suaminya dan sudah berlangsung 6 tahun. Yang dipilihnya pun seorang janda. Jadi bukan suaminya yang jelalatan mencari sendiri. Teman yang satu ini ridho, suaminya pun ridho dengan istri pilihan istrinya. Dan mereka hidup bahagia saja tuh, apalagi mereka orang yang paham Islam ^__^

    ReplyDelete
  12. katakan ngga pada poligami... #eeaa

    ReplyDelete
  13. ngeriview nih, dibaca dulu mbak. lagu kurang mood liat film indo sih sejujurnya :D

    ReplyDelete
  14. kunjungan pertamaku ya. Wahh reviwe ya. Mm.. Pernah liat covernya dulu dan ada feel mau nonton tapi ga ada waktu :)) anak sibuk.

    ReplyDelete
  15. oh jadi di film berbagi suami ada 3 cerita, aku baru tahu
    yg namanya poligami pasti ada yg tersakiti :)

    ReplyDelete
  16. saya termasuk perempuan yang tidak setuju dengan poligami...hehe..kalo sekedar nonton film nya mungkin seru ya...tapi kalo di kehidupan nyata...hmmm rasanya pasti sangat menyakitkan deh..

    ReplyDelete
  17. hmmm.... ini sensitif banget kalo ngobrolin masalah poligami sama istri, heheheh ayoo siapa yang siap dipoligami

    ReplyDelete
  18. Baru seminggu yang lalu aye nonton diyutub :D

    kok bisa ya ada wanita yang sabar dan mau berbagi suaminya, kalo nay mah kaga nahaaaaaaannnn...

    ReplyDelete
  19. termasuk film yg bagus nih,soalnya menceritakan apa yg jarang orang lain ketahui
    mending berbagi suami deh,dari pada berbagi istri ( gubrak )

    ReplyDelete
  20. @Media WisataBagus dong. :) Berarti kamu calon suami yang baik. ^^

    ReplyDelete
  21. @Phuji Astuty LipiFilmnya banyak nominasi di penghargaan luar negeri. :)

    ReplyDelete
  22. @s y a mFilm Indonesia jadul emang lebih keren.

    ReplyDelete
  23. @Mugniarmemang tergantung istrinya kali ya Mbak.

    ReplyDelete
  24. @srulzTapi kalo lihat dari film sih, saya jadi belajar melihat poligami dari sisi lain. :)

    ReplyDelete
  25. @naspardHahaha. Makanya jangan horor porno yang ditontoooon. :P

    ReplyDelete
  26. @Mami ZidaneTergantung poligami dari segi apa. kalau membantu janda dan wanita tua sih dalam Islam pun gak apa-apa. :D

    ReplyDelete
  27. @AndyWah, kalo poliandri mah dosa dooooong :D

    ReplyDelete
  28. Wah kayaknya menarik nih. Thanks atas reviewnya ya! :)

    ReplyDelete
  29. aku udah nonton filem ini. bagus banget aku sukaaaaa :DD

    ReplyDelete
  30. love this film, i get it. ;)
    tp tetep ngga mau dipoligami walaupun gaberarti melarang kalau ada yg mau.

    poligami sesungguhnya itu untuk monogami kok. ;)

    ReplyDelete
  31. sudah lama pengin nonton ini tapi belum nemu filenyaa :s

    ReplyDelete
  32. Suami emang bisa dibagi?
    Sebagai laki-laki yang belum poligami, saya berpikir sebaiknya jangan cari masalah...

    ReplyDelete
  33. @Falzart PlainOkeee. Saya pegang omongan untuk tidak poligami yaa ;)

    ReplyDelete
  34. Belum pernah nonton.. di tv kapan yak hehe..

    Poligami?? Hmm.. never ending debate deh kalau masalah poligami mah, pastinya aku ngga nentang dan justru salut sama istri2 yang mau berbagi..

    btw pernah juga ngepost masalah poligami di http://nufadilah.blogspot.com/2011/12/aku-berharap-ketika-aku-membaca.html

    ;)

    ReplyDelete
  35. belom nonton nih filmnya... belom download juga.. ntar nonton ah :D

    ReplyDelete
  36. @NFDi TV mungkin tengah malem baru diputer, kalau emang ada.. :))

    ReplyDelete
  37. eh, aku pernah nonton filem ini, dulu banget, pas screening KINE.
    tapi sayangnya aku gagal pas screeningnya, hiks..hiks..

    poligami? ehm, solusi yg menarik untuk menanggulangi ketimpangan jumlah perempuan dibandingkan dengan jumlah laki-laki. Kalau enggak salah, sekarang jumlah perempuan lebih banyak dari jumlah laki-laki, eh, bener gak ya???

    tapppiii, yang mau berpoligami harus adil tuh. Dan jangan sampai berakhir sama seperti kisah kedua di filem ini. Eh, kedua istri pak Lik malah jadi agak lesbii...

    ReplyDelete
  38. @Ayu Welirang Indikasi ... :-D hahaha .. #ojo dianggep guyon

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…