Skip to main content

Abadi Jaya Milik Bersama

Hari Sabtu ini seharusnya saya kuliah kelas karyawan, tapi tidak masuk. Mata kuliah pertama dan kedua memang saya hadiri, namun yang ketiga ini tidak. Saya kabur dan langsung menyusuri jalan sepi menuju Situ Gintung. Dan tanpa basa-basi lagi, saya langsung menuju tempat tongkrongan pengamen, tukang parkir, dan anak-anak gondrong no maden.

Nama tempat itu Abadi Jaya. Sebelumnya, di pembahasan tentang "Kisah Mug Baru dan Kopi Liong", mungkin saya sudah sedikit banyak membahas tentang tempat reklame tersebut. Tempat ini berlokasi di Jalan Ir. Hj. Juanda, Ciputat, Tangerang Selatan. Tempatnya kira-kira dekat dengan belokan pasar Situ Gintung yang sering menjadi tempat berbelok angkot yang akan menuju Bintaro dan Pondok Ranji. Kalau agak sulit, dari arah Lebak Bulus Jakarta, reklame ini ada di seberang Holland Bakery.

Tempat ini penuh sejarah bagi saya dan beberapa orang yang mungkin pernah singgah di reklame. Sebelum reklame itu digusur dan pindah ke Situ Gintung, banyak orang-orang terlantar dan anak punk yang sering nongkrong atau numpang menginap di reklame. Jadi, reklame ini fungsinya hampir sama seperti yayasan sosial. Tidak ada pembedaan dan semuanya duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Meski sekarang lokasinya sudah pindah di dekat lahan parkir taman jajan di ruko terlantar milik Pelo--salah satu teman pengamen, namanya tetap saja sama, Abadi Jaya. Tempat boleh pindah, tapi nama dan sejarahnya akan tetap sama selagi orang-orang yang mengasuh Abadi Jaya masih hidup. Orang-orang di reklame memang menganut jiwa sosialis dan humanis yang tinggi, sehingga banyak orang yang betah meski harus tidur beralas terpal biasa.

Reklame Baru Pasca Gusuran BBS (Situ Gintung 2012)

Dulu sebelum Abadi Jaya yang lama digusur, banyak orang mampir. Baik itu dari kalangan mahasiswa dan orang yang ingin memesan ke reklame. Sekitar jam tujuh malam lewat, barulah berdatangan teman-teman reklame Zhygoth, baik dari kalangan punk, pengamen, anak vespa, tukang fotokopi di belakang kampus UIN, orang yang mau menjual handphone, bahkan pencuri terselubung.

Nah, pencuri terselubung ini yang perlu dicurigai. Ada kalanya orang-orang baru berdatangan. Mereka sok asyik, sok ingin kenalan, tapi ternyata mereka memiliki misi tersendiri. Contohlah, saya sedang charge handphone saya dan tiba-tiba ada orang yang bertato, bergaya pengamen, tapi nyatanya dia adalah orang baru. Sebagai orang yang lama nongkrong, pasti sudah bisa menghafal wajah-wajah di sekitar reklame Abadi Jaya. Orang tersebut jarang dilihat, dan itu patut dicurigai.

Benar saja, ketika dijebak, orang itu bertindak. Dia tertangkap basah sedang bersiap-siap mengambil handphone yang di-charge dan mungkin kalian sudah bisa menebak bagaimana selanjutnya. Hidup di jalanan memang keras dan yang bekerja di dalamnya adalah sistem jalanan. Sistem jalanan berarti peraturan jalanan yang sudah lebih dahulu mendarah daging di sekitar tempat nongkrong. Kalau memang di tempat nongkrong ada peraturan "pencuri harus dihajar dengan botol bir", itu pasti akan terjadi.

Untungnya, orang itu babak belur dengan cara yang tidak terlalu bar-bar dan menyesal. Dia minta ampun dan berjanji tidak akan mengulanginya. Selebihnya, kalau memang dia pengecut, maka dia tidak akan datang lagi. Sedangkan kalau setelah diberikan pelajaran dia datang lagi, itu berarti dia memang serius untuk belajar bagaimana cara sosialisasi yang benar.

Di Depan Reklame, Pinggir Jalan

Intinya sih, apa saja tentang reklame ini mengingatkan saya bagaimana rasanya pergi jauh dari rumah tanpa kabar, mencari rumah teman yang nyatanya malah sudah pindah, terlantar di jalan dan akhirnya merasa terlindungi dengan orang yang bahkan baru kita kenal. Dulu, saya pikir saya ini akan diculik atau diganggu oleh mereka--para kaum gondrong. Ketika saya kabur ke Ciputat dua tahun lalu dan belum memiliki tempat tinggal, orang yang saya temui ya mereka--si kaum preman. Kala itu pandangan saya adalah pemerkosaan atau penjambretan. Setengah mati saya takut! Nyatanya, mereka ramah dan mencoba mencari tahu siapa saya. Malam itu, dengan menaruh rasa curiga, saya ikut nongkrong dan nyatanya tidak ada yang terjadi pada saya. Malah, keesokan harinya, saya dibantu oleh mereka saat mencari kontrakan murah. Mereka pulalah yang membantu saya mempelajari Jakarta dan sekitarnya sambil mengantar saya untuk interview kerja.

Dinding Reklame

Sampai sekarang, saya masih suka nongkrong di reklame dan tidak pernah lupa akan kebaikan mereka. Jika sedang ada rezeki lebih, saya selalu berusaha untuk membalas jasa mereka. Dan berkat nongkrong itulah, saya mendapat penjagaan yang luar bisa, terlebih karena saya adalah perempuan. Kemana pun, akan selalu ada backing preman di Jakarta yang saya kenal dari tongkrongan reklame. Itu semua terjadi karena hampir 50 persen dari pengamen-pengamen Jakarta Selatan, bermuara di Ciputat.

Terima kasih untuk Abadi Jaya dan panti sosial dadakannya... Dan untuk Abah reklame yang sedang sakit, semoga lekas sembuh...

Salam,

Ayu

Comments

  1. jujur ya,jarang loh orang yang bersikap positif pertama kali bertemu dengan mereka2 yang gondrong termasuk saya ya
    soalnya kalau saya berpergian ke luar rumah atau ke kantor,selalu di lihat dengan lirikan sini entah kenapa
    ya itu juga bukan salah mereka sepenuh tapi saya yakin orang baik tidak dilihat dr seberapa rapinya baju yang mereka pakai,tapi dr perilaku mereka

    ReplyDelete
  2. @AndySaya juga berpikiran seperti itu Bang, makanya saya takut. Saya niatnya mau ke tempat teman, tahunya udah pindah dan malah ketemu mereka.

    ReplyDelete
  3. mbak Ayu hebat, punya kemampuan untuk bisa bergaul dengan siapa saja yaaa.

    Aku waktu masih kuliah di Malang temen-temenku kebanyakan anak warung, tampang preman, tapi sebenernya baik. Dan kesetiakawanan mereka sangat tinggi.

    Dari mereka aku belajar, bahwa gak boleh menilai seseorang dari luarnya saja. Karena bisa jadi justru hatinya bertolak belakang dengan penampilan luar :D

    ReplyDelete
  4. seru teh, jadi kepengen kayak gitu. :((
    menyenangkan sekali .

    ReplyDelete
  5. @armaeSaya juga belajar untuk tidak serta-merta men-judge orang itu preman, jahat, dan lain-lain sebelum ada aksi. Dan sampai sekarang, saya jadi berusaha untuk biasa saja kalau lihat yang aneh-aneh, karena yang seperti itu artinya kita sedang cari aman. Hehehe. :DD

    ReplyDelete
  6. pesen preman tiga, bungkus kag pake pedes, sekalian ma ukulele nya yg rada garing ya, hihihi :p

    ReplyDelete
  7. Bagi ilmunya donk kak, biar bisa bergaul sama siapa saja.

    Mungkin, ada tips dan triknya kah?
    hehe...

    ReplyDelete
  8. @enhaNggak ada ilmu sih. Eh, ada deng. Tetaplah curiga dan janganlah sesekali mencoba asyik kalau kelihatannya orang tersebut tidak suka di-asyik-in :P *imbuhan in apa yaaa?

    ReplyDelete
  9. Besok2 kalo ke Jakarta ... saya hubungi Ayu ya ... kali2 aja butuh di-backingin sama teman2nya yang preman ... ^__^

    Alhamdulillah yah, mereka baik2 begitu. Ih, kalo ingat cerita2 pemerkosaan di angkot itu ... ngeri. Wah, Allah menjaga Ayu, ketemu teman2 baik walau tampangnya sangar.

    ReplyDelete
  10. waduh, saat ini saya sedang gondrong nih.

    btw, saya sih tidak memandang orang gondrong pasti preman. mungkin saja dia seniman.

    salam kenal, tadi sampai ke sini dari anazkia.com.

    ReplyDelete
  11. Wkwkwkkw... kolo aku deket ma yang gondrong2 gitu biasanya dompet labgsung aku pegangi :D

    Semoga lekas sembuh abahnya sob :)

    ReplyDelete
  12. @MugniarAlhamdulillah Mama Mugniar. :) Untunglah masih ada orang baik di sekitar saya, berkat pertolongan Allah SWT.

    ReplyDelete
  13. @Anak RantauWah, hati-hati lho. Perilaku seperti itu bisa memicu kecurigaan dan ketidak-enakkan hati. Nanti malah menyinggung perasaan. :) Preman itu ya preman, beda lagi sama copet. Copet dan jambret malah tampilannya rapi.

    ReplyDelete
  14. SEbenarnya saya suka style cowok gondrong ...tp gak sampai fanatik sih. Sekedar suka saja, selama gondrongny gak mekso..soale dulu keponakan dan adik jg pernah nyobain gaya gondrong tp tampak gak pas...tp ya sdhlah, namanya jg mereka lg menikmati masa-masa 'bebas' dr aturan jaman sekolah. As long they do by responsibility...paling ya hanya sekali komentar dari oru saja "kok gondrong tho Le?"...that's it..

    ReplyDelete
  15. widiw, waw sama orang tongkrongan nieh ceritanya. entar kalau situ jatuh cinta sama oang sana diceritain dimari yak
    kekeke

    ReplyDelete
  16. Ayuuuuu ngeriiiii bgt.... *masih pobia sm yg gondrong*
    Ntar kalo sy ke jakarta temenin yak? Hehehe...
    dikenalin sm yg gondrong jg gakpapa, sampe skr sy blom punya tuh teman gondrong. Kalo pengalaman dikejar org2 gondrong yg rese jam 3pagi pernah. ngeriiiiii to the max.

    ReplyDelete
  17. di masa kini, lebih mudah menilai seseorang dari penampilan mereka..meskipun terkadang penilaian itu salah.dan memang benar hidup di jalanan itu keras..namun disitulah realitas yang hadir jujur tanpa basa basi..tanpa topeng muka manis..dan dengan demikian kebersamaan yang ada benar-benar muncul ikhlas tanpa rekayasa.
    btw-suatu saat nanti saya kan coba mampir silaturahmi ke Abadi Jaya bila berkeliaran lagi di sekitar Ciputat..someday :)

    ReplyDelete
  18. suatu pelajaran, bahwa penampilan bukan menjadi penilaian. banyak orang rapih, tapi?hehehehe.
    kapan nongkrong lagi

    ReplyDelete
  19. memang jangan lihat orang dari covernya :D tapi tetep aku masih agak waspada klo ketemu orang yg gondrong hehe :P
    didaerah ciputat ya, aku jarang ke ciputat paling mentok cm sampe bintaro plaza :P

    ReplyDelete
  20. Pengen kenal sama abang2 gondrong yang bae hati ^_^
    enak kali ye... nongkrong malem2... huaaaaaaa.. jadi mupeng :S

    ReplyDelete
  21. @s y a mjangan2 itu genderuwo?? kok keluyuran jam 3 pagi? wkwkwk. okeeee kabarin aja yaaa syam, kalo mau ke sini ^^

    ReplyDelete
  22. wah salut deh dengan kemampuanmu melebur dalam berbagai arena Yu... :)

    ga gampang lho berbaur dengan orang-orang yang berpenampilan seperti itu, karena image kita sendiri udah negatif duluan.. padahal seperti yang Ayu uraikan, semua terpulang kembali pada pribadi masing-masing ya...
    setuju Yu...preman ya preman, copet ya copet, terkadang malah copet itu penampilannya rapi sekali...

    intinya, membiasakan diri untuk berfikir positif terhadap seseorang memang perlu, kewaspadaan tentu tetap harus dipertahankan.

    makasih sharingnya ya... :)

    ReplyDelete
  23. keren postingannya nih... ikutan follow oleh blogku yang ini ya.... :)

    ReplyDelete
  24. @alaika abdullahIya Mbak. Waspada tentu saja harus tetap ada. Dan berhubung sudah lama kenal dan sharing dengan mereka, sekarang ini mereka sudah jadi sahabat saya di Jakarta. Kalau nggak ada mereka yaaa saya bingung juga. Mereka yang mengajarkan saya banyak hal Mbak. :D

    ReplyDelete
  25. saya juga pernah gondrong hampir se pinggang selama 2X, berhubung gerah saat tidur dan saat naek motor rambut susah di sisir akhirnya sekarang di potong hehe...

    ReplyDelete
  26. @agusbgwiwww sayang padahal. manjanginnya berapa hari tuh? :D

    ReplyDelete
  27. intinya
    don't judge book from cover
    waspada boleh, namun jgn prasangka buruk

    aku sendiri jga gondrong, aku apa adanya
    org mau bilang apa dan mandang apa itu terserah
    slama aku tdk merugikan dan mengganggu siapapun
    yg penting aku merasa nyaman dan enjoy dgn rambut gondrongku
    aku ttp happy2 aja ^__^

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…