Skip to main content

Review: Launching Album Nifas "Wong Kere"

Sabtu yang lalu, tanggal 10 Februari 2012, hujan yang cukup deras melanda Jakarta dan sekitarnya. Saya berniat untuk berangkat ke acara launching band grunge, Nifas. Band ini mengadakan launching untuk albumnya yang berjudul Wong Kere. Dan ketika saya akan berangkat, "Blaarrrr!" Petir menyambar dan datang hujan besar. Saya harus menunggu sekitar lima belas menit. Siapa tahu saja hujannya berhenti. Karena sejauh yang saya tahu, hujan besar pasti akan reda dengan segera.

Setelah menunggu, ternyata hujan tidak juga reda. Saya akhirnya memutuskan untuk hujan-hujanan saja. Keluar dari kontrakan, langsung disuguhi pemandangan mobil-mobil yang 'macet' di jalan yang luar biasa lebar. Sungguh lucu. Jalan selebar itu masih tidak cukup menampung mobil-mobil yang begitu banyak. Ya maklum lah. Kota besar yang berat dengan gengsi. Tidak pakai mobil ya tidak keren. Duh maaf, jadi melantur kemana-mana. Kembali ke masalah hujan-hujanan. Saya menyeberangi jalan besar itu dengan menghalau mobil-mobil yang tidak henti-hentinya membunyikan klakson. Seolah terburu-buru. Santai saja Bung! Toh kalian ada di dalam mobil, tidak seperti saya yang 'Wong Kere' ini. :D Haha! Nah, sampai di seberang, saya lupa. Lupa mau naik apa ke Lumbung Padi daerah Jeruk Purut! Yang saya ingat sih, biasanya saya naik Kopaja 615 dan turun di perempatan besar Antasari yang menuju ke Fatmawati D'Best. Tapi, saya coba dulu untuk bertanya pada teman saya, lewat pesan singkat. Dan balasan teman saya hanyalah, "Naik angkot merah Yu!"
Ironis. Angkot merah ada empat, bahkan lima jenis! Saya tidak tahu harus naik yang mana. -________-
Akhirnya saya putuskan untuk menunggu Kopaja dan nanti turun di Antasari sambil berhujan-hujan ria.

Saya akhirnya sampai di Antasari dan turun. Disambut dengan banjir. Mungkin karena pembangunan jalan layang daerah Antasari sampai Dharmawangsa yang tidak juga selesai dan membuat jalanan sekitar Antasari sering macet. Saluran air juga jadi tidak berjalan sempurna. Aduh ya, saya malah curhat terus tentang Jakarta. Hehe. Nah, saya berjalan di antara banjir. Berlari-lari kecil tepatnya. Saya sudah pasrah dengan kondisi sepatu berbahan kanvas yang basah kuyup yuuup yuuup! Saya terus berlari kecil dan sampailah saya di Lumbung Padi. Sebuah kafe sederhana untuk orang-orang sederhana. Kafe para rakyat yang selalu ramai dengan acara-acara musik untuk rakyat juga! Dengan para rakyat yang sungguh sangat merakyat! Dan saya adalah salah satu rakyatnya. :D

Sampai di tempat, saya tidak terlalu kecewa. Saya disambut dengan hangat oleh orang-orang yang hangat. Dengan minuman mereka. Dengan botol-botol bir mereka yang menghangatkan suasana Jakarta yang terguyur hujan deras. Dan saya pun bersalaman. Sambil beramah-tamah, saya pun segera masuk. Band yang sedang main, membawakan lagu The S.I.G.I.T. Wah, keren juga ya. Ternyata tidak perlu selalu Grunge yang diusung. Meskipun launchingnya diadakan oleh band Grunge, musik apapun tetap berjalan di sana. Tidak perlu ada diskriminasi atau apalah itu namanya.

The Crowd

The Black Crowd

Saya kurang bisa menghafal nama-nama band. Saya hanya memperhatikan beberapa yang menurut saya dominan. Semuanya bagus dan semuanya bersemangat. Semuanya memberi dukungan untuk band tuan rumah yang sedang mengadakan launching. Saling menghormati, tidak perlu ada hal yang membuat rusuh. Yang saya sayangkan hanya satu. Ketika band dari Bogor mulai untuk perform, ada celetukan yang tidak perlu. Celetukan seperti itu seyogyanya tidak untuk diperdengarkan. Mengingat, kita kan ada di acara sama-sama yang memungkinkan semua orang untuk hadir. Jadi, kalau ternyata ada orang yang tersangkut paut, wah, bisa hancur itu acara. Band Bogor itu nyeletuk begini sebelum bernyanyi, "Bonek tai!" Wah, parah kamu Pak. (mengingat yang sedang perform mungkin sudah bapak-bapak). Parah kamu Pak! (saya ulang lagi) Saya ingat betul, ada Mbah Man dari Surabaya dan mas Endok dari Sidoarjo. Mungkin, kalau dia bawa massa, bisa habis kamu Pak. Tapi untungnya, Mbah Man tidak ambil pusing. Toh dia bukan supporter bola. Ya kan?

Kembali ke masalah band yang perform. Salah satunya adalah Endelist. Band ini beranggotakan Bang Ghoday dari Lenteng Agung. Dan bassistnya, siapa ya? Drummernya juga. Kasihan saya. Bang Ghoday itu orang berpengaruh yang dilupakan teman-temannya. Ya sudah, dengan senang hati saya bantu untuk mengisi. Sebelumnya juga sudah kontak dengan Bang Ghoday. Yang membuat saya kaget adalah, saya ternyata harus mengisi drum! Bukannya gitar! Aduh. Saya sudah terlanjur belajar gitarnya. Akhirnya saya isi juga drumnya, untuk lagu Aneurysm dari Nirvana. Jelek atau bagus, ya bodo amat laaaah. Yang penting kan senang. Hehe. Untuk posisi bass, Zhygoth dari Gugurbunga juga membantu  bermain. Dan lengkaplah sudah Endelist. Bermain dengan keren! Dengan rakyat yang moshing. Semangat sekali semuanya. Itulah yang membuat kebersamaan di acara semakin bertambah. Mungkin hanya beberapa orang saja yang mengasingkan diri.

Nifas Launching

Tibalah saatnya band tuan rumah untuk menunjukkan beberapa lagu. Diiringi dengan host yang kocak, Bang Ghayoung dan Nana Feruriti. Mereka menceritakan riwayat band Nifas dari awal. Nantinya, dari beberapa riwayat itu akan ada kuis untuk mendapatkan CD orisinil band Nifas. Ayo! Yang mendukung pergerakan band grunge indie di Indonesia, jangan lupa beli ya! Cuma dengan dua puluh ribu rupiah, kalian sudah bisa memiliki compact disc dari band ini. Bagi yang mau memesan, mungkin bisa menghubungi facebook nifas di sini. Kalau mau mendengar dulu sample lagunya, bisa mampir ke reverbnation Nifas di sini.

Lagu-lagu yang dibawakan Nifas saat launching terdiri dari lagu mereka sendiri dan beberapa lagu cover. Lagu-lagu mereka menurut saya sangat sarat dengan influence dari Silverchair atau bahkan Navicula. Mengusung lirik yang penuh realita sosial di Indonesia, seperti Wong Kere dan Bapak Tono. Dinamika musik dengan suara beratnya sangat identik dengan Navicula dan Silverchair. Ini hanya pandangan saya saja lho ya. Kalau misalkan salah ya mohon maaf. Maklum lah, saya bukan benar-benar pengamat musik yang baik dan benar. Tapi bener lho! Nifas ini unik juga permainan musiknya. Ada beberapa melodi ganjil yang permainannya sama seperti Efek Rumah Kaca. Ada bagian dimana drum, gitar, dan bass saling bersahut-sahutan untuk mengisi bagian solo. Wah unik lah pokoknya! Bang Leman sendiri; bagian vokal dan gitar, bernyanyi dengan sangat semangat! Berapa lagu ya? Hampir sepuluh lagu atau bahkan lebih. Saya lupa menghitungnya. Saya tahu, dia capek bernyanyi. Tapi, rakyat Lumbung Padi saat itu sudah terlanjur moshing. Dan kalau kegilaan mereka dihentikan, mereka mungkin bisa membakar Lumbung Padi. (berlebihan ya? bodo ah. hehe)

Bang Leman - Gitar/Vokal Nifas

Nifas (dengan additional drummer)

Saat itu, Nifas tampil dengan bantuan additional drummer. Jadi, bagi yang berminat untuk menjadi drummernya, silakan kontak Bang Leman atau ke facebook Nifas langsung ya! :)

Nifas selesai, mulai masuk lagi band-band untuk mengisi. Salah satunya adalah Arc Yellow. Band satu ini juga sudah menelurkan album dan tinggal menunggu launching saja. Jangan lupa beli juga. Sekalian sama Mushafear ya! Hehe. Nanti saya juga mau review tentang album Mushafear dan juga Arc Yellow. Ditunggu saja. Nah, kembali ke Arc Yellow. Band ini mengusung noise sebagai kiblat. Dan ketika perform, buseeeeeeeet! Noise yang ada bisa menggetarkan Lumbung Padi. Saya saja jadi terkesima. Apalagi bassistnya, Regie Permana, yang benar-benar gembel saat itu sangat masuk dengan tajuk album Nifas, Wong Kere. Hehe. (Peace Reg!) 

Regie Arc Yellow

Kasian si Regie (sepatunya) :p

Nah, beberapa band setelah itu, datanglah band penutup. The Bolong! Mungkin semuanya sudah tahu tentang The Bolong. Pasti tahu dong! Band ini membawakan lagu-lagu sendiri. Dan banyak juga yang moshing. Saya sendiri, mungkin kalau saya tidak ingat sedang pakai kerudung, sudah lompat-lompat di tengah kerumunan orang-orang yang dominan memakai kaos hitam itu. Untunglah, saya masih ingat kalau ada kerudung di kepala saya. Hehe. Malu juga kalau harus moshing. Akhirnya saya hanya mengangguk-angguk saja di pinggir. Takut tertendang atau tertimpa kerumunan yang semakin malam semakin memanas. Yang disayangkan adalah, ketika The Bolong tampil, kamera saya sedang di-charge. Baterainya habis dan tidak bisa mengambil foto. T_T Huhuuuu. Tapi, nggak apa-apa. Untung waktu itu banyak yang bawa kamera. 

Setelah The Bolong, host menutup acara. Dan semuanya memberikan selamat pada Nifas. Semua bangga karena grunge yang dicintai, mulai bangkit kembali. Semua memberikan dukungan, meskipun bukan band mereka yang launching album. Itulah inti dari solidaritas kepada sesama. Jangan ada rusuh-rusuhan atau diskriminasi ya! Kere nggak kere, yang penting berkarya dan tidak saling adu jotos. Saling dukung dan saling rangkul.

Akhir kata, saya pun ingin mengucapkan selamat kepada Nifas. Semoga dengan album perdananya, Nifas akan semakin maju. Nifas semakin peka terhadap realita dan kebobrokan sosial. Nifas semakin giat dalam mengusung lagu-lagu yang berbau sosial. Nifas semakin membela rakyat. 

Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat...

Iklan Album
Model: Rinjani
HAHAHAAAA :D

Salam!

-Ayuu-

Comments

  1. seniman bangettttt~
    sepatunya sampe bolong

    ReplyDelete
  2. @jiah al jafara hahahahaaaa iya tuh. Sepatu temen, si Regie.. :D

    ReplyDelete
  3. Mantep, mba! Jadi pengen ikut ada d sana, huhu

    ReplyDelete
  4. @CeriaWah kirain teteh Ceria nggak suka musik-musik yang begitu... :D

    ReplyDelete
  5. ini khusus wong kere ya band nya...
    menambah warna musik indonesia,daripada boy band lah...
    salam kenal

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…