Skip to main content

Review: Arc Yellow - Mammals Album

Akhir-akhir ini, beberapa band mulai menelurkan album. Suatu hasil dari kerja keras panjang seorang penggiat band. Seperti halnya penulis yang berhasil menelurkan karya-karya dalam bentuk buku, musisi pun seperti ini halnya. Dan itu berarti, akan ada pemicu untuk musisi lainnya agar segera menyusul band-band yang sudah menghasilkan album. Hasil keringat yang berbuah manis.

Setelah Nifas, band grunge yang mengusung tema-tema sosial dan kehidupan masyarakat, ada Arc Yellow yang  telah berhasil menelurkan karya dalam bentuk full album berisikan sepuluh lagu terbaik. Band yang membawa bendera noise rock experimental ini adalah band yang berasal dari Depok. Saya menonton band ini perform pertama kali pada saat acara tahun baru yang diadakan oleh bang Ghoday di sebuah venue terbuka di daerah Cimanggis. Gitaris yang bernama Imam, teman saya akhir-akhir ini, membawa satu perangkat efek yang sangat menggiurkan. Ah, saya saja mau beli metalzone belum kesampaian. Hehe. Dan riff-riff yang dibawakan, benar-benar membuat saya terkesima.

Oleh karena itu, ketika saya mengetahui kalau band ini sudah memiliki album perdana, saya segera mengontak kang Jimo, untuk pemesanan CD. Dan sekarang, saya sedang menulis review ini sambil mendengarkan sepuluh lagu Arc Yellow. Diulang dan diulang terus. Sebenarnya, sayang untuk membuka sampul plastiknya. Tapi, mau bagaimana lagi, saya harus menulis review. Tangan saya gatal untuk mengetik dan saya harus menulis.

Patrick sedang bersama CD Arc Yellow dan Mushafear


Tampilan sampul depan dan belakang

CD Arc Yellow dikemas dalam bentuk wadah kertas yang agak tebal, seperti berbahan karton tebal. Tidak lebih tebal dari karton duplex dan bahan kertasnya tidak glossy. Oke, itu tidak masalah. Saya hanya sedikit tidak begitu suka dengan bentuknya. Lho, memangnya kenapa? Nah, begini ceritanya.

Ketika kita buka, bentuknya seperti buku. Berarti, bentuknya dibuat seperti sampul. Kita bisa mengambil CD dari lubang sampul yang ada di sebelah kanan. Sedangkan, di sebelah kiri ada kertas informasi. Isinya adalah kertas bergambar foto, juga bertuliskan sepuluh lirik lagu dari album Mammals, dan ucapan terima kasih. Ada juga satu paket sticker, yaitu sticker Drexter Records, Mushafear, dan Arc Yellow. Yang sangat disayangkan adalah, bagian luar dari sampulnya juga berlubang! Nah, bagaimana kalau baru pertama membuka CD-nya, kita tidak tahu kalau itu berlubang juga? Bisa-bisa, CD-nya meluncur dari lubang di kanan dan jatuh ke lantai. Kan sayang, kalau CD-nya jadi pecah atau tergores? Iya kan? Hehe.

tuh kan, bagian luarnya bolong! :D Gimana kalo CD-nya jatuh? :(

Ketika membuka sampul CD, kita langsung dihadapkan pada penjelasan tentang mamalia. Ada gambar anjing di atas kasur dan beruang madu di tempat parkir mobil. Ini menarik buat saya. Pasalnya, ini jadi menjungkirbalikkan tentang pemahaman mamalia. Manusia yang tergantikan oleh spesies mamalia. Gambarnya diformat dalam bentuk hitam putih, sehingga sangat klasik sekali. Saya sangat suka gambar-gambar ini. Apalagi, saya memang suka dengan binatang-binatang. Jadi, saat pertama kali membuka sampul CD, saya langsung tersenyum. 

Format sampulnya terbuka di bagian dalam dan bagian luar. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya. Bagian luar sampul seharusnya tidak berlubang. Itu untuk menghindari jatuhnya CD kalau kita sedang memegang dengan sembarangan. Lebih baik, bagian luar sampul di kanan dan kiri, tidak ada lubangnya. Jadi, kalau kita sedang memegang dalam keadaan miring, CD-nya tertahan oleh tutup sampul.

Di bagian dalam yang tertutup, kita bisa mengambil CD di sebelah kanan dan kertas informasi juga paket sticker di sebelah kiri. Sekali lagi saya dibuat tersenyum dengan kertas informasi. Kenapa? Itu karena saya langsung menemukan gambar harimau yang sedang bersantai di atas kasur. Hehe. Lucu sekali. Seolah-olah, dari album ini, peran manusia benar-benar sudah tergantikan oleh hewan! Entah bagaimana filosofi dari album ini, yang jelas, hal itulah yang bisa saya tangkap. Kalau ternyata pemahaman saya salah, mohon maaf.

Gambar anjing di sebelah kiri dan beruang di sebelah kanan
Harimau dan CD

Tampilan kertas informasi, dengan paket sticker

Untuk design sendiri, saya tidak bisa begitu banyak komentar. Saya tidak begitu mengerti tentang design dan buat saya, tampilan keseluruhan dari album ini sudah sangat eyecatching. Tentu sangat menarik. Sedikit kekurangan bisa diabaikan kok. Yang jelas, suatu kehormatan besar bagi saya, bisa memiliki CD ini dengan harga yang tidak begitu melambung. Masih bisa dijangkau oleh orang-orang dari kalangan apapun. Bagi yang benar-benar ingin mengkoleksi album-album band indie, patut memiliki ini. Jangan sampai kehabisan ya! Bisa pesan ke kang Jimo Trust, via facebook. 


tampilan CD


Itu sedikit review mengenai paket album dari Arc Yellow. Sekarang saatnya saya berkomentar secara objektif ya mengenai lagu-lagu yang ada. Yang saya tangkap ketika mengulang-ulang lagu Arc Yellow, saya mendapati beberapa kemiripan dan tema lagu. Riff-riff dengan beat cepat memang mendominasi. Ditambah dengan hiasan noise dan feedback yang dihasilkan oleh Imam, menjadikan lagu-lagu Arc Yellow memang identik.

Hanya saja, ada beberapa kemiripan lagu dengan beberapa melodi Nirvana dan juga Arctic Monkeys. Gaya bernyanyi yang agak sedikit mirip dengan Thurston Moore dan Alex Turner pun sempat saya dengar dari beberapa lagu. Mungkin memang ada sedikit influence dari mereka ya. Itu sah-sah saja kok. Contohnya, lagu Feeling Bad yang agak sedikit mirip dengan beat lagu Red Right Hand dari Arctic Monkeys di Album Humbug. Ada juga lagu Mammals yang saat masuk ke bagian bridge, nyaris menyerupai lagu Radio Friendly Unit Shifter pada bagian intro. Tapi, keunikan dari lagu-lagu Arc Yellow yang bernafaskan noise rock, tidak mengurangi kenikmatan saat mendengarkan. Ini hanya review objektif yang saya bisa sampaikan.

Satu lagi yang mencengangkan. Lagu Cyan, lagi-lagi hampir menyerupai lagu Arctic Monkeys. Saya juga agak lupa judul lagunya. Yang jelas, saat saya mendengarkan lagu Cyan, saya sudah bisa menebak. Kemungkinan, influence lagu ini muncul saat personilnya sedang mendengarkan lagu Arctic Monkeys. Hehe. (ngarang banget! :P)

Intinya, review saya ini jangan dianggap sebagai sesuatu yang subjektif ya. Saya hanya menilai sesuai apa yang saya lihat, saya dengar, dan saya rasakan. Apabila ada pihak yang merasa terganggu, mohon maaf dan jangan sungkan untuk menegur saya. Yang jelas, Arc Yellow berhasil mendominasi winamp saya sekarang.

Semoga ke depannya, Arc Yellow bisa terus berjaya dan terus mengeluarkan karya yang lain daripada musik Indonesia saat ini. Semoga...

Salam,

Ayu

Comments

  1. ada salah satu lagu yg bisa didengerin gak ?, , ,
    penasaran nih ...

    tapi saya berada jauh di ujung pulau jawa (SURABAYA) hehe . .
    COD susah psatinya

    ReplyDelete
  2. @ihatemeitransfer juga bisa.. tapi ongkos kirim ditanggung pembeli.. :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…