Membaca Jakarta Lewat Kacamata Ratih Kumala

Monday, February 27, 2012

Membaca Jakarta Lewat Kacamata Ratih Kumala


Siapa di sini yang nggak tahu sama Ratih Kumala? Wah, kalau nggak tahu sih ya kelewatan. Ratih Kumala ini sudah beberapa kali menulis untuk kolom cerpen koran dan cerita bersambung, di Kompas dan Republika. Keren bukan? Susah sekali untuk menembuskan tulisan kita ke dua surat kabar ternama itu, karena yang dipilih hanyalah tulisan-tulisan tertentu, dengan nilai sastra tinggi dan kajian budaya yang cukup kental.

Pertama kali yang saya lihat dari buku adalah sampul. Setelah sampul, kemudian sinopsis di bagian paling belakang buku. Setelah itu, barulah saya melihat nama pengarang. Kalau ternyata pengarangnya cukup ternama, saya sudah pasti akan membacanya. Dan ketika melihat sebuah buku dengan gambar yang etnik sekali, saya langsung tertarik. Sinopsisnya pun menarik! Dan yang lebih menyenangkan adalah, penulisnya itu Ratih Kumala.

Saya membelinya. Buku itu adalah buku yang paling keren di antara deretan buku-buku di Bogor Trade Mall. Saya ada di sana karena sudah berjanji pada keponakan, untuk mengajak dia makan di salah satu restoran fast food. Saya berangkat ke BTM bersama keponakan dan si oom-nya keponakan. Hehe.

Sebelum makan, saya melihat-lihat toko buku di BTM dan langsung tertarik pada buku itu.

Tampilan Buku Kronik Betawi

Buku itu berjudul Kronik Betawi. Sebuah kisah keluarga Betawi yang mulai tergeser oleh peradaban Jakarta yang kian pesat. Kisah yang disampaikan oleh tiga orang Betawi, dua lelaki dan satu perempuan. Mereka bersaudara kandung. Di bagian sinopsis, ada potongan-potongan opini dari si tokoh fiktif pada novel ini, yaitu Haji Jaelani, Haji Jarkasi dan Juleha. Mereka sedang berbicara tentang Betawi dan itulah yang harusnya kita ketahui. Bagaimana seharusnya Jakarta. Bagaimanakah Betawi yang sebenarnya.

Selain itu, pada bagian awal novel, terdapat potongan lirik lagu oleh Iwan Fals yang berjudul Ujung Aspal Pondok Gede. Hal ini pernah dibahas pula pada posting-an ini.

Sampai saat tanah moyangku, tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota. Terlihat murung wajah pribumi. Terdengar langkah hewan bernyanyi...

Penceritaan dalam novel ini dibagi menjadi tiga sudut pandang, dengan sudut pandang orang pertama tunggal. Dibagi tiga menjadi bagian Haji Jaelani yang protes terhadap pembelian tanah warisan moyang, yang sudah lama digunakan untuk ngangon sapi-sapinya. Tentang Haji Jaelani yang protes akan, "Sejak kapankah Jakarta banjir?" Padahal, dulu ketika ia masih kecil, Jakarta itu indah dan ladang bermain pun ada dimana-mana. Bagian kedua adalah tentang Haji Jarkasi, yang menjadi seniman lenong. Seniman yang terlupakan dan kerap kali tertangkap oleh Satpol PP. Padahal, sudah seharusnyalah dia dan timnya tetap dilestarikan. Sekarang, malah diusir, dianggap meresahkan warga dan membuat tata kota rusak. Apakah itu semua salah mereka? Mereka hanya seniman dan yang mereka bawa adalah budaya kita, budaya Indonesia! Budaya Betawi! Dan terakhir, adalah cerita dari seorang istri yang dimadu. Seorang istri setia yang menghempas jauh-jauh pemahaman bahwa orang Betawi itu bisa dengan mudah memadu. Padahal, tidak semua orang Betawi seperti itu. Hanya saja, karena dirinya lahir dalam lingkungan yang sudah seperti itu, seperti ayahnya yang memadu ibunya, kakaknya--Haji Jaelani yang menikah lagi sepeninggal istirnya, dan dirinya yang dimadu pula, Juleha jadi tidak bisa melakukan pembelaan lagi.

Cerita-cerita tersebut bergulir dengan alur campuran yang juga sangat unik. Menggambarkan kilas balik dari tiap tokoh dan mengapa mereka seperti itu. Ikatan saudara kandung antara ketiga tokoh tersebut juga sangat terlihat. Bukan hanya sekedar memanggil "Bang", "Kak", atau panggilan lainnya. Ada suatu hubungan artifisial yang digambarkan dalam tokoh-tokoh ini.

Seperti saat Haji Jaelani mempunyai anak dari istri keduanya. Anak yang bernama Fauzan itu malah lebih taat dibanding anak-anaknya, Juned dan Japri yang kerap kali menyulitkan Haji Jaelani. Dan seiring waktu, Fauzan malah menjadi anak Haji Jaelani satu-satunya, yang bisa melanjutkan studi di luar negeri. Betapa bangganya Haji Jaelani saat itu. Kisah terakhir pun ditutup dengan keberangkatan Fauzan ke Amerika untuk studinya.

Novel yang sebelumnya pernah dimuat dalam harian Republika, sebagai cerita bersambung ini, benar-benar menunjukkan wujud Jakarta. Bagaimana kroniknya. Bagaimana Jakarta masa lalu dan masa sekarang. Betapa besar perubahan Jakarta dari masa lalu ke masa sekarang.

Dan menurut saya sendiri, Ratih Kumala berhasil menampilkan hasil penelusurannya akan Jakarta, melalu kacamatanya sendiri. Beginilah Jakarta dan Kronik Betawi-nya. [Ayu]


Judul Buku: Kronik Betawi
Pengarang: Ratih Kumala
Penerbit: Gramedia
Tahun Rilis: 2009
ISBN: 9789792246780
Pages: 268
Genre: Roman Keluarga, Kultural & Literatur
Harga: Rp 40.000,-
Rate: 5 / 5
Review Lain: http://www.goodreads.com/book/show/6555866-kronik-betawi

6 comments :

  1. boleh niih pinjem bukunye mba.. :) yaa...yaaa.... #kedipinmata

    ReplyDelete
  2. @Naya
    Elbetawi
    Boleeeeh boleh.. :D mau kapan pinjemnya? ^^

    ReplyDelete
  3. Ironis sekali ya, penduduk asli yang memeprtahankan seni asli betawi malah tergerus peradaban dan kemajuan kota jakarta. Harusnya malah di dukung penuh. Kalau banjir, mau gimana lagi. Nggak warga asli maupun pendatang banyak membuang sampah sembarangan di sungai.

    ReplyDelete
  4. @HP YitnoDibaca dulu Pak, bukunya. :) Nanti baru mengerti... ^^

    ReplyDelete
  5. Semoga bisa beli novel ini bulan depan ... ^^

    ReplyDelete