Skip to main content

Kisah Mug Baru dan Kopi Liong

Akhirnya selesai juga kuliah semester ganjil ini. Ujian yang melelahkan. Belum lagi sangat menggetarkan saya dari seluruh anggota badan, mulai otak sampai jari-jari, karena saya belum makan siang. Jadi jari saya harus dipaksa menulis di kertas jawaban yang pertanyaannya sangat sulit. Ya sudah, toh ujian ini sudah berakhir dan saya harus siap untuk menyongsong tahap selanjutnya.

Sepulang dari kampus, sekitar pukul tiga sore, saya langsung mengajak kedua teman perempuan saya di kampus untuk ikut ke Situ Gintung. Mereka sepertinya belum tahu seluk beluk Situ Gintung. Padahal, tempat itu tidak jauh dari kampus dan sempat menjadi objek wisata di Banten, sebelum bendungan Situ Gintung hancur dan menenggelamkan kawasan di sekitarnya. Nah, sampai di Situ Gintung, teman-teman saya berfoto dan saya menjadi tukang foto. Setelah itu, saya mengantar salah satu teman ke Giant, untuk mengambil uang. Sambil menunggu, saya melihat-lihat tempat dijualnya peralatan rumah tangga dan mata saya langsung tertuju pada kumpulan mug yang cantik sekali. Ah, ini dia yang saya cari. Dan rupanya, sedang ada diskon untuk mug-mug tersebut. Saya sedang ingin menyeduh kopi dengan sempurna, di dalam mug keramik yang indah warnanya. Akhirnya, saya memilih dua mug kopi yang berwarna biru dan hijau. Yang biru untuk saya dan yang hijau untuk Mr.Z Gondrong. Saya membeli kedua mug itu dengan harga 7800 rupiah. Itu berarti, satu mug kopi hanya berharga 3900 rupiah. Murah bukan?

Setelah membeli mug, saya berpamitan dengan teman yang ingin pulang dan segera menuju ke daerah belokan Situ Gintung. Saya pergi ke tempat reklame dan percetakan Mr.Z yang baru. Di sana saya mendapati dirinya sedang asyik merenung sambil menopang dagunya dengan tangan di atas meja reklame. Saya menyeberang dan mengagetkan dia yang sedang merenung. Hehe. Iseng, ya biarlah. Daripada dia merenung entah kemana arahnya.


Saya mengobrol panjang lebar di reklame dan obrolan kami dihentikan oleh bunyi air yang sedang dipanaskan.

"Oh iya, Aa kan mau bikin kopi, Neng," kata Mr.Z.

Saya mengangguk dan Mr.Z pun mematikan air. Dia lalu membuka laci dan mengeluarkan satu bungkus kecil kopi.

"Bikinnya di mug baru aja A! Neng tadi beli mug baru," kata saya. Mr.Z lalu mengambil mug biru dari plastik dan menuangkan kopi. Saya tercengang ketika melihat kopinya. Kopi Liong! Ah, ini dia kopi yang saya inginkan sejak dulu. Kopi Liong khas Bogor. Akhirnya, saya akan mencoba kopi itu juga! ^^


Kami menyempatkan diri untuk mengambil foto-foto kopi langka ini. Hehe. Jadi, setelah lima belas menit, airnya sudah tidak terlalu panas dan kami baru akan membuat kopi. Saya terlalu doyan kopi dan terlalu gila akan kopi, apalagi kopi langka. Jadi, apapun yang terjadi, saya harus menyempatkan diri untuk mengambil fotonya. Sedikit cerita saja ya. Saya mendengar kabar tentang kopi mantap ini, saat saya sedang gila-gilanya dengan kopi instan yang bernama Kopi Luwak - White Coffee Rendah Asam. Nah, Mr.Z bilang, ada kopi yang lebih mantap lagi dari kopi kesukaan saya saat itu. Saat saya tanya, dia hanya menjawab, "Nanti aja kalo ke tempat kakak Iras, kita coba kopi Liong." Wow! Dari namanya saja sudah misterius. Sepertinya, ini kopinya orang-orang Indonesia-Cina pada zaman dahulu. Mungkin pada zaman Orde Lama. Mungkin lho ya. :P

Kopinya sendiri dibungkus dalam ukuran kecil. Gambar di depannya adalah gambar naga melingkar dan lidahnya menjulur ke arah bulan sabit. Wow, gambar yang sangat artistik! Hehe. Ditambah lagi, tampilan bungkus kopi Liong berwarna coklat semu. Coklat semu itu ibarat kertas putih yang sudah lama, sehingga berwarna coklat kekuning-kuningan. Ah, saya jadi tidak sabar menyeduh kopi ini! Tidak berlama-lama untuk mengambil foto, saya pun segera menyeduhnya.

penampakan mug baru, kopi liong, dan gula
Saya memasukkan kopi liong dengan perasaan. Lalu gula pasir murni pun menyusul. Secukupnya saja, atau sesuai selera anda. Tuangkan air panas dengan suhu yang sesuai. Jangan terlalu panas, karena akan merusak partikel-partikel murni dari kopi. Diamkan sejenak, baru aduk perlahan-lahan. Jangan lupa, sisipkan sedikit perasaan haru saat mengaduknya, agar kopi ini semakin nikmat saja. Hehe. Saya sendiri terharu saat mengaduknya. Pasalnya, saya belum pernah sekalipun menikmati kopi Liong. Dan waktu menemukan kopi langka itu di laci reklame Mr.Z, saya langsung bergidik. Seperti ada arwah kakek tua berkebangsaan Cina yang menyusup dalam setiap butiran kecil kopi bubuk asli itu.

Jari lentik saya bersama kopi Liong

tuangkan ke dalam cangkir, bubuhkan gula secukupnya
Awalnya, saya ragu-ragu untuk menyesap kopi ini. Bagaimana rasanya? Apakah sesuai lidah saya sebagai pecinta kopi? Hmm, karena melihat buih-buihnya yang menyesatkan sekaligus menggiurkan, saya pun perlahan menyesap kopi tersebut. Beberapa menit, saya memainkan kopi itu di lidah dan ternyata... RASANYA SANGAT WAW! Tidak kalah dengan kopi bubuk gilingan kasar yang hanya bisa dibeli di Bandung. Tidak kalah dengan kopi Toraja, kopi Sumatra, kopi luwak, dan kopi-kopi lainnya yang saya ketahui. Rasa kopi Liong begitu pekat. Dengan gula secukupnya yang menjadikan kopi ini manis sempurna. Tidak begitu legit maupun pahit. Dan saya harus mencobanya lagi! Berhubung kemarin kopinya tinggal satu dan saya meminumnya berdua dengan Mr.Z, saya harus mencari kopi ini lagi untuk menyeduhnya sendiri! Semoga, kalau nanti ke Bogor, saya sempat untuk mencari kopi ini. Semoga saja ya. Dan dengan begitu, kopi ini saya nobatkan menjadi kopi favorit saya juga.

Bagaimana dengan anda?

Kopi Liong Bulan, Mantap!
(jempol ini adalah jempol Mr.Z saudara-saudara!
Bukan jempol saya! Camkan itu! Hehe)

Comments

  1. sepertinya mantap banget neh kopi liongnya? Baru tau brand kopi liongnya, beredar secara nasional apa khas daerah sana Mbak?

    ReplyDelete
  2. @Ririe Khayancuma diproduksi untuk Bogor dan sekitarnya.. Sekitarnya itu mencakup Depok dan perbatasan Bogor-Depok-Jakarta Mbak Ririe.. ^^

    ReplyDelete
  3. sruputt ngilerrr,,, apalagi liat jempolnya mba yang nangkring disono :p

    ReplyDelete
  4. @Naya Elbetawibukaaaaaan jempol sayaaaa ituuuu T_T jempolnya saya kan harusnya imut.. itu mah jempolnya kan rawing.. hehe.

    ReplyDelete
  5. harga mug nya emang murah,cuman ongkos buat ke depok sama bogor tidaklah murah....

    ReplyDelete
  6. @de hoppushahaaaa.. Kopi Liong bisa dipesan online kok. :)

    ReplyDelete
  7. wah mantep ni kopi-kopi langka euy masih berasa pasti

    ReplyDelete
  8. wah kopi langkanya semoga tetep ada sampai tua nanti :D

    ReplyDelete
  9. Cepet cepat di kasih trademark nya ntar di curi negara tetangga lagi, kayak kopi luwak :D

    Oyaa... Ko gonta ganti terus Blog name and URL-nya..? Dasar orang aneh Hihi

    ReplyDelete
  10. Halo kakak, sudah tahu Greenpack belum? Coba deh cari tahu di sini. Greenpack itu menyediakan packaging makanan yang terbuat dari kertas food grade, sehingga aman digunakan tanpa alas. Bahkan walaupun terbuat dari kertas, greenpack tetap tahan bocor meskipun terkena air dan minyak. Sangat Rekomended!

    ReplyDelete
  11. @irham: reuseable juga ya itu greenpack? atau sekali pakai? kayaknya sekali pakai yak? :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…