Skip to main content

Canting, Bacaan Ringan Sarat Budaya

Banyak buku yang saya baca. Begitu banyak pula genre-genre yang diusung oleh tiap buku yang berbeda. Ada teenlit, roman klasik, metropop, thriller, misteri, petualangan, self-motivated, sastra, literatur, non-fiksi, buku pengayaan, fiksi, kumpulan cerpen, antologi puisi, stensilan, dan buku-buku dengan genre lain yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

Dari sekian banyak buku, saya bisa memahami, kenapa penulis-penulis buku tersebut harus memilih genre yang memang mereka ingin tuliskan. Dari latar belakang penulisnya, kita bisa tahu, kenapa penulis itu ingin menulis dengan genre tersebut. Apakah atas dasar pangsa pasar apa yang sedang in, atau memang atas dasar kecintaan menulis.

Dari situ pulalah, saya sebagai pembaca, bisa memilah dan menilai, buku apakah yang memang benar-benar cocok untuk saya. Dan sampai saat ini, saya masih cinta dengan berbagai buku kumpulan cerpen dan roman klasik berbau budaya. Pasalnya, saya sedang sangat konsumtif akan buku, akhir-akhir ini. Itu bukan hal yang baik, menurut saya. Karena, setelah saya membeli buku, otomatis saya harus membeli sampul plastiknya. Ini semata-mata hanya untuk estetika. Buku tidak bisa begitu saja dibeli dan disimpan sembarangan setelah kita baca. Bagi para pecinta buku, genre apapun, pasti selalu menyimpan buku-buku mereka dengan apik. Itu semua agar tidak terjadi kerusakan pada buku, saat akan dibaca kembali. Jadi, buku yang dibeli akan lebih awet. Dan dari sinilah saya pun bisa menentukan, buku mana yang layak dikoleksi dan hanya layak untuk sekilas baca saja.

Buku yang saya koleksi beragam. Dan untuk sekarang ini, saya akan lebih selektif dalam membeli buku untuk koleksi lemari sederhana saya. Buku-buku roman klasik yang sarat budaya, akan sangat indah saya pajang. Selain estetika dari sampulnya yang sederhana namun sangat mencerminkan budaya, pastilah indah apabila disampul. Buku-buku antologi puisi dan beberapa literatur sastra ringan, pastilah memiliki daya tarik tersendiri dalam sampul dan review dari para penikmat buku. Ini juga menjadi buku yang layak untuk dikoleksi. Buku lainnya, mungkin novel kriminal dan skandal, yang sangat hebat dalam segi penceriteraannya. Jadilah,  saya mendaulat buku-buku tersebut sebagai buku-buku yang patut untuk dikoleksi. Buku-buku yang sekali baca, seperti roman ringan atau mungkin sejenis teenlit atau chicklit atau malah buku bergenre metropop, mungkin bisa dibaca di toko buku saja. Sekali baca dalam sehari, tidak sampai berjam-jam, mungkin sudah bisa selesai kalau memang berniat untuk menyelesaikannya hari itu juga.

Patrick dan buku Canting

Seperti buku pada gambar di atas, yang saya beli ketika sedang iseng melihat bandrol harga buku di Kinokuniya Plaza Senayan. Harganya tidak semurah di Gramedia ya ternyata!

Canting adalah buku yang menceritakan tentang seorang bangsawan, yang ketika itu memiliki anak lagi. Entah apakah memang sudah ditakdirkan begitu, entah karena kecelakaan. Ketika itu, sang istri hanya bisa menutup mulutnya, tak berbicara apa-apa ketika sang bangsawan berkata, "Kita lihat nanti. Kalau anak ini tumbuh dan menjadi buruh batik, berarti dia anak buruh batik."

Kata-kata itu tentu saja mengagetkan Bu Bei, istri dari bangsawan tersebut. Pasalnya, Bu Bei juga menyangsikan tentang kehamilannya. Berbagai cara dia lakukan agar bayinya tidak tumbuh menjadi buruh batik. Sejak kecil, anak yang pada akhirnya lahir itu, dijauhkan dari berbagai alat pembatikan. Anak itu bernama Ni.

Seiring berjalannya waktu, Ni pun sudah tumbuh dewasa. Dia tumbuh menjadi gadis Jawa yang tidak seperti gadis bangsawan pada umumnya. Ni senang melakukan hal-hal yang aeng atau aneh. Sampai pada saat ulang tahun Pak Bei sekaligus acara selamatan Ni yang akan segera menikah dengan Himawan-calon menantu Pak Bei, Ni mengatakan sesuatu yang mengagetkan.

"Aku tidak akan hadir di wisuda dan aku akan menghidupkan kembali produksi batik cap Canting."

Tentu saja, Bu Bei yang sudah menjauhkan Ni dari segala hal yang berbau batik, kaget setengah mati. Dia pun pingsan dan beberapa hari kemudian, Bu Bei benar-benar meninggal dunia. Hal itu meninggalkan luka yang sangat mendalam di hati seluruh keluarga. Hanya saja, tekad Ni yang bulat berikut keras kepalanya, tidak bisa dilunturkan begitu saja. Ni tetap menjalankan kembali usaha produksi batik cap Canting.

Pak Bei tak marah. Dia juga aeng, sama seperti Ni. Hal inilah yang dilupakan. Ternyata, Ni memang benar berdarah asli Pak Bei, bukan yang lain, bahkan bukan anak dari buruh batik yang mungkin menjadi selingkuhan Bu Bei dulu. Dan itu membuat Pak Bei mengizinkan Ni untuk membangunkan kembali batik cap Cantik, khas dari keraton Ngabehi Sestrokusuman. 

Ni boleh menyerah, kalau benar-benar kalah.
Dan pada akhirnya, batik cap Canting tetap kalah. Dengan perkembangan zaman dan batik jenis printing yang mendominasi. Baik dari efisiensi waktu dan kualitas.

Itu semua membuat Ni menyerah, meskipun tidak benar-benar kalah.

Nah, begitulah isi dari buku roman keluarga sarat budaya, yang berjudul Canting. Buku yang kemungkinan besar tidak bisa diselesaikan hanya dalam waktu satu hari saja. Karena untuk membacanya, kita pun perlu berpikir tentang isi dan korelasi antar tokoh yang ada dalam cerita. Jadi, bagi yang ingin memilikinya, silakan cari di toko-toko buku terdekat. Apabila tidak ketemu juga, silakan cari saja di toko buku online yang sekarang ini mulai merajalela. [Ayu]


Judul Buku: Canting
Pengarang: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: Gramedia
Tahun Rilis: 1986
ISBN: 9789792232493
Pages: 408
Genre: Roman Keluarga, Kultural, Literatur
Harga: Rp 40.000,-
Rate: 5 / 5
Review Lain: http://www.goodreads.com/book/show/2090345.Canting

Comments

  1. Canting warisan budaya, yuk jaga kelestariannya,

    kalo printing kan nggak bisa buat original kayak canting :D

    ReplyDelete
  2. @arr rianmasalahnya, jenis printing bisa mengalahkan canting.. meng-copy motif yang unik hanya dengan sekali pencet tombol saja.. :(

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…