Skip to main content

Betapa Birunya 'Baik Untukku' oleh Sister Morphin

Kebiasaan mencetuskan lagu mingguan ini dimulai sejak kapan ya? Hmm, oh ya, sejak saya menulis ulasan tentang lagu Pearl Jam yang berjudul Better Man. Sejak itu, selalu saja ada lagu yang terus menerus diputar di kepala, di fisik winamp atau bahkan saya nyanyikan.

Kali ini, saya sedang gila-gilanya dengan lagu Sister Morphin. Ada yang tahu? Silakan cari di google. Atau kalau malas, silakan mengingat LA Lights Indie Fest yang ketiga. Di antara band-band serupa C.U.T.S, Tigapagi, Wai Rejected dan band-band lainnya, ada Sister Morphin di sana. Saya pikir, lagunya akan sama seperti track sebelumnya. Alunan dengan tempo cepat dan hentakan keras yang kala itu sedang didominasi dengan aliran melodic ataupun semi-metal. Setelah saya sampai pada lagu Sister Morphin, suasana yang mendominasi perlahan jatuh menjadi suasana jazz melankolis. Ya sudah, saya dengarkan sambil merenung. Di ujung perenungan itu, saya malah menangis. Yah, betapa melankolisnya saya...



Saya akhir-akhir ini memang sedang 'membiru'. Tidak ada yang saya lakukan selain mengulang lagu ini sambil merenung. Kadang, saya sambil meneguk kopi, sampai bergelas-gelas. Di dekat jendela kontrakan, dengan pemandangan ke arah papan reklame besar yang sudah memangkas hak saya untuk memandangi langit dan ranting kering yang biasa saya pandangi ketika sedang biru. Sekarang, papan reklame itu menghalangi pemandangan dan saya mulai mengalihkan perhatian pada torrent air di dekat tangga naik menuju kost saya. Tempat air itu sudah berlumut dan banyak tanaman paku tumbuh di sana. Saya mendaulat penampung air itu, sebagai pemandangan favorit saya saat ini.

Sambil membuat design sampul untuk buku kumpulan sajak yang akan saya terbitkan, saya mendengarkan lagu Sister Morphin itu. Yang dihasilkan malah gambar-gambar tidak jelas dan kebiruan yang semakin membiru. Saya menghentikan kegiatan design sampul buku saya dan malah masuk ke dalam imajinasi liar.

Alhasil, sampai detik ini, saya masih bolos kerja dan lebih suka berdiam diri di kamar untuk merenung, atau berjalan-jalan ke manapun kaki saya ingin melangkah. Apakah sebesar ini efek lagu melankolis untuk saya?

Bagi yang ingin tahu, silakan cek liriknya sambil memutar video di atas.

Sister Morphin - Baik Untukku
Aku sedih, kamu mau pergi
pergi kecinta yang lain, dan aku tak tahu
aku hancur, dan aku bosan menangis
kumasih jatuh padamu
namamu masih ada dihatiku

reff:
semua orang bilang sintaku ini bodoh dan salah
tapi ku tak akan peduli, karena kau baik untukku.
kau baik untukku

Aku sakit, dan aku muak menangis
bisakah kau lihat lagi
gambarmu masih ada dihatiku

reff:
semua orang bilang cintaku ini bodoh dan salah
tapi aku tak akan peduli, karena kau baik untukku
kau baik untukku


===============
Salam biru selalu,

Ayu.

Jakarta, 09 Februari 2012
Pindang di kontrakan...

Comments

  1. mellow bgt T_T
    ga' mslh sih klo cm brdiam diri n mrenung dlm kmr,,
    asal jgn ngmbil kputusan u/ njiret lher pke' tali aja,..

    *efek lgu melankolis ckup mmbhyakan sob! mnding dngerin cmpursari ...hehehe

    ReplyDelete
  2. @Sandyapalagi kalo dengerin efek rumah kaca

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…