Skip to main content

Wayang Kampung Sebelah at Semalam Bersama Gusdur

Sebenarnya, baru beberapa bulan terakhir ini saya mempelajari kultur budaya di Indonesia, khususnya Jawa dan Bali. Semua itu saya lakukan sebagai referensi untuk saya menulis cerita dan beberapa esei ringan. Yah begitulah kalau saya sudah mulai menulis, maka saya tidak akan bisa berhenti lagi. Dan kali ini, saya akan membuat sebuah ulasan tentang acara wayang yang diinformasikan oleh seorang teman blogger bernama Abdullah Alawi.

Nah, acara ini diadakan dalam rangka memperingati hari ulang tahun Abdurahman Wahid alias Bapak Pluralis Indonesia, Gus Dur. Acara lebih dititikberatkan pada acara kebudayaan, sepertinya. Saya sendiri datang saat acara wayangnya saja karena memang saya sebelumnya mampir dulu di tongkrongan teman-teman saya di Kampung Utan Ciputat.

Saat itu, teman-teman sedang berkumpul dan ketika saya menginformasikan tentang acara wayang yang akan diadakan di Student Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta oleh panitia Haul Gusdur dengan penampilan Wayang Kampung Sebelah, mereka pun berminat untuk menonton. Akhirnya, kami berangkat pada pukul sebelas lewat. Hujan-hujanan menuju UIN.

Sampai di Student Center, saya ternyata tidak langsung menonton wayang yang bertempat di tengah-tengah lapangan. Kenapa? Karena saat sampai di SC, saya sudah disuguhkan dengan pemandangan buku-buku yang sangat, yah, kalian tahulah, sebagai pecinta buku dan membaca, buku-buku yang disuguhkan saat itu benar-benar menggiurkan. Saya ingin membeli buku-buku yang sengaja dijual saat itu, tapi uang yang saya punya tidak mencukupi. Ada beberapa buku yang tidak saya duga akan ada di sana. Di UIN, masa iya sih, ada yang menjual buku biografi Jim Morrison: No One Here Gets Out Alive, buku Tan Malaka: Madilog, beberapa buku tentang pemberontakan PKI, buku-buku pergerakan aliran kiri, yang tidak saya duga dijual di sana. Keren bukan? :D

tampilang jualan buku

SC UIN

buku-buku >,<
Beralih dari tempat buku, setelah puas untuk menumpang baca-baca beberapa sinopsis buku, kami beralih ke tempat wayang. Menaiki tangga, riuh suara penonton yang tertawa mulai terdengar. Kondisi di lapangan hujan dan penonton sangat antusias menonton, sambil hujan-hujanan. Saya sendiri, bersama tiga orang teman saya, mendapatkan tempat di samping para pemain musiknya. Kami tidak menonton dari awal, jadi kami hanya ikut tertawa saja, karena tidak mengerti jalan ceritanya. Kami hanya bisa terpana saja melihat dalang yang sangat piawai membawa emosi penonton sampai tertawa terpingkal-pingkal.

foto dadakan kualitas buruk :(


saya, dengan efek blur (yang moto emang gak bisa :P)

dalang dan kawan-kawan

gedebong pisang, kesannya kok magis yah?
Kami pun menyaksikan dari tengah sampai wayang benar-benar berakhir. Di akhir kisah, saya bisa menangkap satu pesan. Entah awalnya sama atau tidak, yang saya tahu, pentas wayang kulit kali ini menceritakan tentang seorang lelaki bernama Pak Karyo yang tidak bekerja, senang mabuk-mabukan, berjudi, dan tidak bisa menafkahi istri beserta keluarganya. Istrinya, Bu Karyo sampai terlibat hutang dengan orang-orang di desa tempat dia tinggal dan pada akhirnya, orang-orang yang dihutangkan itu datang ke rumah Pak Karyo. Mereka menagih hutang-hutang pada Pak Karyo. Mulai dari ibu PKK, Bapak RT, seorang nenek tua yang entah siapa namanya, dan orang lainnya. Pak Karyo tidak bisa mengelak. Dia tidak memiliki uang untuk membayar dan wayang pun ditutup dengan kisah Pak Karyo yang kebingungan. Ya mungkin seperti itulah ceritanya, dari yang saya tangkap sejak tiga puluh menit pertunjukkan sebelum akhirnya selesai.

Yang saya dan teman-teman saya sukai, sekali lagi adalah cara pembawaan cerita oleh dalang dan sinden yang menyanyi dengan sangat lihai. Suaranya melengking merdu, sangat bagus sekali untuk dipadupadankan dengan dalang dan timnya yang membawakan cerita wayang menjadi lebih modern. Nah, wayang seperti ini dijamin tidak akan membuat penonton bosan, dan pastinya akan lebih banyak lagi orang yang berminat menonton wayang.

Sebelum pulang, saya dan tiga orang teman saya, menyempatkan diri untuk berfoto dengan wayang-wayang (secara diam-diam karena kami malu, hehe) dan mengambil foto pesinden yang cantik. :)

Sayaa :P

Heihoooo :D

Teteh Sindeeeen :D
Ya kira-kira seperti itulah ulasan yang saya sampaikan. Mohon maaf juga kalau ulasan ini malah jadi semacam curhat. Hehe. Yang jelas, saya jadi lebih senang mempelajari kultur negara saya ini. Semua tentang budaya dan seni Indonesia harus tetap kita lestarikan. :)


Salam.

-Ayuu-



Comments

  1. whaaa...
    asik jalan jalan terus.

    ada penampakan tuh..

    ReplyDelete
  2. @riva'iNggak jalan-jalan terus ah, kan ini emang deket kosan.. ahahaha.

    ReplyDelete
  3. belum pernah liat wayang gitu =,= jadi mupeng, kapan2 ajak donk mba...hehhee

    ReplyDelete
  4. @Naya Elbetawihayuuu hayuuu kapan2 kita nonton wayang bareng :D

    ReplyDelete
  5. wayang kulit sekarang miris mulai ditinggalkan anak muda yang lebih suka nnton musik pop atau dangdut,

    ReplyDelete
  6. @AndyAhaha kok komentarnya sok tau sih? Gue juga suka banget musik seattle sound, tapi suka nonton wayang juga... hahahaaa jadi jangan pukul rata anak muda yang suka nonton wayang, jadi gak suka dong.. lah gue emang apaan dong kalo gitu? masa bukan anak muda.. hahaha.. komen lo parah sob. -_-

    ReplyDelete
  7. kayaknya mengasikkan iia... saiia belum pernah terjun langsung nonton wayang kulit sii :( kek nya gag kuat di lamanya itu loh :p emang dasar alesan ajja :p

    ReplyDelete
  8. @Belajar Photoshophahahaaa tapi kalo ceritanya modern n bodor mah, saya seneng kok nontonnya.. wayang kulit itu nggak melulu cerita kolosal kok. :)

    ReplyDelete
  9. aksi wayangnya lucu n seru... tapi pala pusing kena ujan..

    banyak temen yang bilang, ya harusnya kampus buat sekarang ini harus lebih sering mengadakan acara yang berbudaya kita..

    ReplyDelete
  10. kampung wayang sebelah sebuah pementasan wayang yang menarik,mengibur,educatif, :)

    KERENlah pokoknya saya hanya sebagai penikmat dan ingin mengenal berbagai macam wayang menjadikan saya bangga ketika saya bisa melihat pementasan wayang kampung sebelah kemarin :)

    Pementasan yang sebenarnya membuat saya ketagihan sangat dengan wayang yang biasanya saya menikmati dan melihat wayang kulit atau wayang beber yang terkadang tidak bisa dipungkiri membosankan. Tapi Dengan hadirnya wayang kampung sebelah dan kemarin juga wayang potehi membuat saya menjadi ketagihan ingin melihat pementasannya kembali :)
    Pementasan yang kemarin benar-benar istimewa dengan perpaduan musik modern membuat mata dan telinga ini tidak ingin menutupnya..

    Dan saat ada tugas ingin mengangkat tentang wayang tersebut,,tidak disangkanya ada blog punya mbak sindennya yang suaranya membuat saya merinding disko... :D
    sukses terus untuk kelompok wayangnya..dinatikan pementasan selanjutnya..
    Salam kenal mbak welirang dari Erni :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…