Skip to main content

(Intermezzo) Penokohan Tujuh Divisi

Halo sobaaaat! :)
Sebenarnya saya lagi stuck lho! Kenapa? Ya karena sesuatu hal yang menyebabkan saya sibuk dan sulit untuk berpikir tentang plot, alur, dan sebagainya. Jadi, untuk chapter Tujuh Divisi sepertinya akan saya pending dulu untuk sementara. Mungkin, nanti malam saya baru bisa posting lagi untuk bagian ke-4 dari Tujuh Divisi. 

Nah, karena waktu itu Mama Della sempat mengomentari tentang tokoh Ichan di sini, mungkin saya akan membuat sedikit gambaran akan para tokoh di Tujuh Divisi. Di posting-an kali ini, saya cuma mau memberikan gambaran tentang tokoh yang ada di Tujuh Divisi. Beberapa tokoh saya gambarkan dan memang saya deskripsikan agak mirip dengan orang-orang di sekitar saya. Salah satunya adalah si suami gondrong. >:D~~~ Buat tokoh-tokoh yang lain, yang sekiranya pas menggambarkan tokoh-tokoh Tujuh Divisi, saya ambil dari para tokoh di layar kaca. :)



Nah, silakan langsung simak saja penokohan yang saya gambarkan.

Zhygoth as Ichan

Sepanjang jalan Djuanda Ciputat, Tangerang Selatan, macet total. Pemandangan jalan yang tidak menyenangkan dan penuh polusi tidak menyurutkan semangat seorang lelaki yang sedang menjaga kios reklamenya. Lelaki yang sedang menjaga reklame itu juga sudah biasa melihat kemacetan di jalanan depan kiosnya. Dia tidak menanggapi semua itu dengan kesal. Dia membalas bunyi klakson mobil yang tidak beradab dengan teriakan dan bunyi gitarnya. Dia juga membalas asap-asap racun kendaraan dengan hembusan asap rokoknya. Lelaki yang apatis itu bernama Ichan, penjaga kios reklame yang menyimpan masa lalu kelam akan dunia ekspedisi.
Tokoh Ichan, saya gambarkan seperti Zhygoth, Bassist Gugurbunga dan memang membuka kios reklame di daerah Situ Gintung.



Medina Kamil as Gitta
Gitta adalah perempuan mandiri yang membiayai hidupnya sendiri, sejak menyesap pendidikan di Sekolah Teknik Menengah dulu. Dia adalah mahasiswa Kesos—Ilmu Kesejahteraan Sosial—di salah satu universitas swasta di Jakarta. Dia mulai hidup mandiri sejak ayah dan ibunya berpisah. Selang setengah tahun sejak ayahnya meninggalkan dia dan ibunya, ibunya meninggal. Saat ditinggalkan oleh ayahnya, ibu Gitta sebenarnya sudah sakit-sakitan dan puncaknya adalah selang enam bulan sejak mereka ditinggalkan. Itu membuat Gitta membenci sosok ayahnya dan tidak pernah berharap apapun dari ayahnya. Gitta pun tidak pernah mengiyakan penawaran ayahnya yang mengajak Gitta tinggal bersama ayahnya dan keluarga barunya. Larangan ayahnya agar Gitta berhenti panjat tebing pun tidak dia gubris. Meskipun ayahnya memohon agar Gitta menurut, Gitta tetap saja pada pendiriannya. Pendiriannya untuk hidup swadaya. Tokoh Gitta saya gambarkan seperti Medina Kamil (hanya tampilan loh ya) dan ini lumayan cocok kok. :D

Winky Wiryawan as Tom
Tom tidak pernah merasa sesial hari ini. Dulu dia adalah mahasiswa yang aktif, senang bersosialisasi dan senang berpergian. Dia memiliki jiwa petualang sejati, seharusnya. Orang tuanya adalah petualang sejati. Ayahnya arkeolog dan ibunya adalah seorang backpacker yang rajin membuat catatan perjalanan di sebuah situs kepenulisan. Banyak orang yang mengenal ibunya lewat tulisan-tulisannya. Sejak kedua orang tuanya meninggal dan dia dititipkan pada paman dan bibinya, Tom dididik untuk hidup disiplin. Pulang harus tepat waktu, makan harus teratur, tidur tidak boleh kelewat malam, tidak boleh bermain selain hari libur, dan lain sebagainya. Sampai sekarang pun, kebiasaan disiplin yang menjerat lehernya masih sering terjadi. Tom sekarang sudah menjadi robot pekerja di sebuah perusahaan IT. Dirinya adalah salah satu engineer di perusahaan tersebut dan tenaganya sangat dibutuhkan. Itu semua membuat dirinya tidak bisa begitu saja meninggalkan pekerjaan. Sebenarnya, kalau dia tidak ingat akan kedua paman bibinya yang senantiasa membantu dia, mungkin dia sudah pergi meninggalkan semuanya. Dan sekarang, Tom hanya bisa menggerutu kalau dia sedang kesal atau rindu akan dunia petualangan. Inilah Tom! Sosok Winky Wiryawan. >:D~~~

Dan ke empat tokoh cameo yang akan hadir sebagai teman ekspedisi, ada di bawah ini.

Teh Ega as Ambar
(ini teman di parkiran Kp. Utan)

Nama: Ambar Gema Nastiti
Panggilan: Ambar
Sifat Umum: Ramah, perokok berat, kuat, pendirian teguh, kadang sinis
Pekerjaan: Baru lulus kuliah tidak bekerja, hanya mengabdi pada SAR Walagri
Domisili: Bandung
Anggota Walagri angkatan 37 dalam divisi Survival
Nomor Anggota SAR: WAL13447
Hobi: Naik gunung, merokok, bersepeda, backpacking
Equipment: Survival kit lengkap, kompor ABRI, carriel Consina, jaket parasut merah dari North Face, dan beberapa perangkat gunung bermerek Eiger. :D








Kang Diyana Mulki as Dom
(ini kakak kelas saya waktu STM dulu)
Nama: Arjuna Christa
Panggilan: Dom (entah darimana asalnya bisa dipanggil begitu)
Sifat Umum: baik, agak slenge'an, perokok berat, peminum bir, dan sangat menggilai gunung
Pekerjaan: designer lepas di majalah Indie Surabaya
Domisili: Surabaya
Anggota Walagri angkatan 37 divisi Navigasi
Nomor Anggota SAR: WAL13448
Hobi: naik gunung dan jalan-jalan
Equipment: semua alat mendaki keluaran Consina




Si Petet Panjul as Bima
(temen parkiran juga)
 Nama: Bima Petra Pandu
Panggilan: Bima, Bimbim
Sifat Umum: pendiam, agak naif
Pekerjaan: mahasiswa di Solo
Domisili: Solo, Surakarta
Anggota Walagri angkatan 37 divisi Shelter
Nomor Anggota SAR: WAL13449
Hobi: tidur, melamun, naik gunung
Equipment: Eiger dan Alpine



Sandy Acong as Salman
(temen parkiran yang
suka ngojekin saya :D)
Nama: Salman Nursandi
Panggilan: Salman
Sifat Umum: pendiam, kadang jahil, cengengesan
Pekerjaan: mahasiswa di Solo
Domisili: Solo
Anggota Walagri angkatan 37 divisi P3K
Nomor Anggota SAR: WAL13450
Hobi: merokok, tidur, ketawa, naik gunung
Equipment: Eiger dan Alpine, punya kompas asli berbahan baja ringan






Nah, kira-kira begitulah tokoh-tokoh yang akan muncul secara dominan dalam Tujuh Divisi. Berikut ini ada list dari divisi mereka masing-masing yang sebelumnya sudah saya sebutkan di atas.
  1. Ichan divisi mountaineering.
  2. Gitta divisi climbing.
  3. Tom divisi penyeberangan.
  4. Ambar divisi survival.
  5. Dom divisi navigasi.
  6. Bima divisi shelter.
  7. Salman divisi P3K.
Oke, sekian dulu mungkin yaaa intermezzo dari saya. Semoga besok saya bisa melanjutkan proyek ini. Semangat!!! 

rgrds,

-Ayuu-

Comments

  1. wah~
    saya sukanya sama ichan,gitta sama tom :-D

    ReplyDelete
  2. @jiah al jafarawahahaaaa itu Zhygoth alias si Ichan-nya keren kan.. Siapa dulu dong.. hehe..

    ReplyDelete
  3. sepertinya mereka punya karakter dan latar belakang berbeda mungkin bisa sebagai bahan perbandingan untuk menguji mental dalam misi penyelamatan kali ini,sukses!

    ReplyDelete
  4. @al kahfiwah Bang.. ini bukan tentang misi penyelamatan.. :DDD

    ReplyDelete
  5. semakin menarik aja neh tujuh divisi. apalgi tokoh gitta, indonesia banget.

    ReplyDelete
  6. Gitta kan pemanjat yaa.. kok Medina Kamil sih yang meraninnya?? Kayanya lebih bagus kalau penulisnya sendiri yang jadi Gitta.. :D

    jadi, siapa yang bakalan jadi korban pertamanya?? menunggu kelanjutannya.. :D

    ReplyDelete
  7. @SamWah, tokoh Gitta kan gak berjilbab euyyy.. Saya juga nggak ada foto2 lagi manjat.. :DDD

    ReplyDelete
  8. Tokoh yang memberi semangat...
    Salam kenal..

    ReplyDelete
  9. Domnya cakep.. uhuuuuuuuuuyyyy.. >O<

    ReplyDelete
  10. @DellaHus!! Nanti orangnya tau loh Maaaaaaaah.. :D heheheee. Ichan juga ganteng tau Mah.. :DDD

    ReplyDelete
  11. Iya, percaya, Ichan pasti yang paling ganteng di mata penulisnya ;)

    ReplyDelete
  12. @DellaUuuuuuu.. Ntar kalo bilang Dom ganteng, Ichan marah.. :DD

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…