December 2011

Monday, December 19, 2011

Kisah Hari Yang Melankoli


image from here

Senja hari begitu melankoli, seperti kita yang meneguk secangkir kopi... Kerik jangkrik mengalun melodi, mencoba hiasi senja yang tak berirama. Apakah dewa sedang murka? Ataukah dewa senja sedang nelangsa hatinya? Sungguh, tak ku ingini senja yang begini, yang melankoli, yang hanya berbunyi derik jangkrik menggumam melodi, menderau salah dalam kepingan hati...

Denting cangkir kopi kita beradu mesra
pada awalnya.
Sampai kepulan asapnya menghakimi kita
atas rasa yang tak lagi sama.
Dan hatimu meradang, meronta.
Memaksaku mengiba kepingannya.

Semburat bayangku melangkah lelah
terhuyung menggumuli senja yang menua
meninggalkan kau dan bayangmu
di ujung temaramnya lampu
Maafkan ku yang terlanjur mampu
untuk menggumam, "Aku bukan rusukmu."

Dan kau kembali meneguk kopi
bersama cangkir pada senja yang melankoli
Mencoba tertawakan hal yang bahkan tak lucu
meski kau jadikan lelucon semu
Ku tahu kau menopengi kepingan
hatimu yang terlanjur menderau kesalahan

Di tengah kau dan aku
bayangan temaramnya lampu
menusuk senja yang berlalu
tanpa tahu satupun kita, telah menghempas palsu
rusukmu bukan aku...


#semoga kau bahagia
Jakarta, 19 Desember 2011



Friday, December 16, 2011

Weekly Song - Oksigen (Sastra Akustik Dialog Dini Hari)


Beberapa minggu ini, saya sering nongkrong di pinggiran Situ Gintung. Menikmati angin dari mulai semilir sampai angin yang benar-benar membuat saya menggigil. Saya kerap kali nongkrong di pinggir Situ Gintung, bersama saudara jalanan saya di parkiran Kampung Utan, Ciputat. Beberapa orang di antara kawan jalanan memang lahir sebagai sastrawan dan musisi jalanan. Beberapa dari mereka pulalah yang sering memberikan saya influence akan ragam musik. :)

Dan sejak itulah, minggu ini saya terus memutar lagu Oksigen dari Dialog Dini Hari yang sangat meaningful sekali! :D

Dialog Dini Hari sendiri menurut saya adalah grup akustik yang sangat sastra sekali! Terlebih lagi, Dankie Navicula yang menggawangi Dialog Dini Hari atau DDH memang tinggal di Bali sebagai seniman. Kita bisa lihat dari gayanya yang eksentrik dan sangat seniman sekali! Kalau mendengar lirik-lirik DDH yang sangat implisit sekali maksudnya, jelaslah bisa menggambarkan dengan lebih rinci lagi kalau Dankie Navicula memang seorang sastrawan, sekaligus pemusik, pelukis, pemahat, dan benar-benar seniman yang multi talenta!! *histeris

Dialog Dini Hari (gambar dari reverbnation DDH)

Dankie Navicula & DDH (gambar dari reverbnation DDH)
Kembali ke masalah lagu minggu ini. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, lagu minggu ini untuk saya adalah Oksigen. Kenapa lagu ini? Lagu ini sangat jazzy sekali. Ditambah dengan nuansa etnik dan gitar akustik yang sangat indah dimainkan oleh Dankie. Saya juga tidak sadar telah beberapa kali mengulang sepenggal lirik Oksigen yang berbunyi seperti ini:


Terbang melayang, ke awan, menghilang 
Datang dan pergi sendiri, tak terkendali

Itulah sepenggal lirik yang tanpa sadar sering saya ulangi di setiap tempat yang saya pijak. Itupun tanpa sengaja saya dendangkan. Dan karena itulah, saya mendaulat lagu ini sebagai lagu saya minggu ini. Bagi kalian yang ingin mengetahui, seperti apa sih lagunya, silakan tonton video Oksigen di bawah ini atau kalau mau buffer lagu-lagunya dari reverbnation DDH.

Youtube:

-Oksigen-
Album: Beranda Taman Hati

Segarkan ingatanmu saat menghirupku
Resapi rasa hadirnya diriku

Aku bisa hidupkan dirimu hari ini
Aku bisa..

Terhisap panas dan terbakar
Lalu cemari udara dan trotoar

Aku bisa membakarmu hari ini
Aku bisa.. aku bisa

Dedaun dan mentari ajakku menari
Teriknya hari kuterlahir kembali

Aku bisa datang dan pergi
Aku bisa.. aku bisa

Terbang melayang, ke awan, menghilang
Datang dan pergi sendiri, tak terkendali

Untuk yang mau kontak lebih lanjut dengan DDH, silakan klik saja link-link di bawah ini. :)

Monday, December 12, 2011

Konklusi Modus Operandi Pembuangan Perempuan dari Angkot


Ini adalah argumentasi yang ingin saya lontarkan terkait dengan pembuangan perempuan berjilbab tempo hari lalu dari angkutan kota berkode D01: Ciputat-Kebayoran.

Kalau dilihat dari fisik, wanita tersebut memang cantik. Kemungkinan menjadi korban pemerkosaan sekaligus perampokan sangatlah besar. Yang sekarang malah dipertanyakan adalah tentang modus penyerangan dan pembuangan karena melihat kondisi wanita tersebut yang baik-baik saja, hanya memar bekas pukulan di wajah.

Dari laporan pihak berwenang yang saya interogasi balik (setelah dia menginterogasi saya dan teman-teman saya), wanita tersebut memang berasal dari Bekasi dan ketika itu, dia dibawa seseorang sekitar siang hari. Nah, apakah mungkin perampokan dan pemerkosaan terjadi di siang hari? Kan aneh ya? Melihat tampilan wanita tersebut yang sangatlah sopan, dengan jilbab cukup panjang dan memakai rok dengan dalaman celana panjang, belum lagi dia menggunakan kaos kaki, apakah mungkin bisa terjadi pelecehan yang sampai berujung ke pembuangan?

Kalau melihat dari penampilan wanita, saya kira dia adalah seorang aktivis suatu pergerakan organisasi tertentu. Saya tidak akan mengatasnamakan agama di sini, tapi mungkin kalian sendiri sudah sedikit banyaknya mengerti tentang pergerakan bawah tanah. Seorang missionaris yang gagal, membangkang, atau malah ingin berhenti dari suatu pergerakan, pasti akan menemui hal-hal yang berbau teror. Tidak menutup kemungkinan juga kalau yang melakukan penculikan dan yang menghajar dia adalah pihak anti terorisme. Yah begitulah citra yang telah terlanjur ada di masyarakat tentang para jilbabers dan hal semacam itu.

Jadi, kemungkinan besarnya juga, Indonesia sedang mengalami gejolak teror yang sama seperti pada masa Orde Baru dulu. Semua bentuk pergerakan komunis, dihancurkan oleh rezim Soeharto dan antek-anteknya. Semua kegiatan premanisme, bromocorah, dan orang-orang bertato, dihancurkan karena takut menggulingkan kekuasaan Soeharto. Dan sekarang, hal tersebut berputar kembali di masa ini, masa di mana kita sudah bebas untuk beraspirasi, berkata-kata, dan beragama. Fisik para rakyat yang beragama Muslim, sudah boleh berkerudung dan memelihara jenggot. Tapi, semua itu malah membuat gejolak akan anti-terorisme mulai menggila. Dampaknya adalah penculikan beberapa mahasiswa atau mahasiswi yang terkait dengan suatu pergerakan radikal.

Baru saja Ciputat digegerkan oleh penangkapan anggota Ahmadiyah di bagian belakang UIN Syarif Hidayatullah yang notabene adalah daerah kontrakan para mahasiswa dan sekarang, Ciputat kembali geger karena pembuangan wanita yang untungnya, masih hidup.

Apakah semua ada korelasinya?

Salam,

Ayu