Wednesday, November 30, 2011

Jakarta Pagi Ini

Jakarta Dari Sudut Kaca Bis Kota
sumber
Pagi ini hujan. Saya tahu, kapan bilangan Lebak Bulus dan sekitarnya hujan. Tepatnya turun hujan sekitar jam empat pagi. Saat itu, saya masih bangun. Dipaksa tidur? Susah! Saya habis menenggak lima gelas join Kopi Luwak racikan saya, yang kelewat kental. Kopi itu saya join dengan Zhygoth GB, Aland GB, Bang Donald GB, Mbah Man dan Mas Apak dari Sidoarjo Jatim sana. Mereka adalah kawan sekaligus saudara dalam satu dunia musik yang sama, yaitu Grunge. Tentang pengertian Grunge, tidak usah dijabarkan lah ya.

Saya bangun dan mengobrol dengan Zhygoth, sementara yang lain sudah tertidur pulas karena pengaruh pil yang disinyalir adalah Xanax dan seketika membuat teler ketika dihantam dengan kopi, apalagi kopinya kopi luwak. Yah, saya akhirnya menghabiskan pagi dengan mengobrol seputar saya, seputar dia, masa depan kami, anak-anak kami, seputar skandal Indonesia, seputar Politik, Ahmadinejad dalam pandangan Yahudi, dan obrolan-obrolan gila lainnya.

Saya sangat tercekat, sekaligus melankoli. Obrolan seperti ini sangat jarang saya temui di hari-hari saya bersamanya. Saya bahagia pagi ini, meski tidak tidur dan rasa kantuk malah melanda saya ketika akan berangkat kerja. Hujan terus mengguyur Jakarta dan baru berhenti sekitar pukul enam pagi. Saya tidak berniat mandi, karena badan saya dalam kondisi tidak enak setelah begadang--yang tidak disengaja. Saya memutuskan untuk mencuci muka dan segera berganti pakaian. Agaknya, hari ini Jakarta akan macet. Saya memutuskan untuk berangkat jam setengah delapan pagi.

Jalanan masih berbau hujan saat saya melangkah. Saya  menyusuri arah berlawan dari jalan Ciputat Raya dan segera menuju tempat pemberhentian bis. Saya sebenarnya ingin membeli beberapa makanan kecil untuk mengganjal perut. Namun, bis 102 terlanjur datang dan saya segera naik.

Benar saja, jalanan sangat macet. Padahal, biasanya orang-orang sudah berangkat pagi-pagi dan jam-jam seperti ini, jalanan tidak begitu macet. Ah, saya menghabiskan waktu lebih dari satu jam hanya untuk mencapai Senayan! Dan saya menahan perut saya yang melilit karena terlalu banyak meminum kopi luwak dengan kadar asam tinggi dan masuk angin, sepanjang perjalanan ke Senayan.

Sampai kantor, ternyata masih dikunci! Sepertinya, orang-orang kantor juga datang terlambat. Saya duduk termenung saja di depan pintu kantor, pada akhirnya.

Tiba-tiba, saya rindu rumah... :'(

Lyrics to Jakarta Pagi Ini (Slank):
Pagi dingin 'gak ada sinar mentari
Dan langit pun terlihat gelap 
Mendung datang lagi

Dan aku berdiri di atas gedung yang tinggi
Memandang ramainya Jakarta 
Menyambut pagi ini

(*)Aku di sini... sendiri
Aku di sini... oh sepi
Mengapa aku di sini
Jakarta pagi ini 

Pagi sunyi 'gak ada burung bernyanyi
Putih embun pun kini telah terkontaminasi

Aku seperti terbang 'gak memijak bumi
Di antara merahnya emosi Jakarta yang 
S'makin ternodai 

back to (*)
Aku di sini
Walau apa yang terjadi sampai aku mati

Tempatku bukan di sini...
Jakarta pagi ini

Aku di sini... sendiri
Aku di sini... oh sepi
Tempatku bukan di sini...
Jakarta pagi ini....

Aku di sini... sendiri
Aku di sini... oh sepi
Tempatku bukan di sini...
Jakarta pagi ini....

oh...disini...sendiri
disini...oh sepi....
Tempatku bukan di sini...
Jakarta pagi ini.... 


#ini semacam curhat yang kelewat busuk
-ayu-

Thursday, November 17, 2011

Pada Suatu Petang


gambar dari sini


tidaklah merindu senja,
hanya lebih senang
menitip salam pada petang

sepetak petang bukan senja
tak ada semburat kilau
berhias jingga di sana
hanya sebentuk gigilan pilu
yang mengiba rindu
dalam suatu abuabu

pada sepetak petang
kukemas gigilan dari radang
pilu yang memacu rindu
akan sebentuk bayang

pada suatu petang
kutitipkan semburat jingga
berkilau dan berbayang
menghilang dalam kotak kaca

#pada suatu waktu
Jakarta, 17 November 2011

Monday, November 14, 2011

Review: Ballerina's Killer - Seharusnya Kau Tau Arti Sepi

BallKill -BALLerina's KILLer
Suatu karya yang gemilang lagi, dari seorang kakak sekaligus ayah bersama-sama di bukumuka maupun dunia nyata yang bernama Tokoh Antagonist. Beliau ini pernah saya review juga lagunya, di band Klepto Opera dan kali ini, band beliau dengan sang istri akan saya review kembali.

Band beliau dan istri--mbak Eka Rina Wahyuni, bernama Ballerina's Killer. Ketika itu, sebuah invite event di bukumuka dan sebuah review dari tante saya, tante girang gipsi Putri Sarinande, membuat saya datang pagi-pagi ke kantor hanya untuk buffering video dari Ballerina's Killer.

Lagu yang akan di-review dari BallKill--begitu singkatan band ini--berjudul Seharusnya Kau Tau Arti Sepi. Seperti biasa, hal pertama yang menarik adalah permainan instrumen yang tidak biasa. Dan yang kedua, video klip yang sepertinya produksi indie, yang sangat keren sekali! Oh Tuhan, orang-orang kreatif memang keren sekali ya kalau buat sesuatu yang hasilnya akan nancep di hati dan pikiran kita. Saya sampai mengulang beberapa kali videonya.

Untuk lirik, saya pastikan sangat-sangat semantik. Kalau diartikan secara benar mungkin akan sedikit mengalami fase 'bingung'. Tapi, kalau diartikan tidak pakai logika ya malah bisa menangkap maksudnya. Dan saya pun sekarang sedang mendengarkan berulang-ulang untuk bisa menuliskan liriknya, karena di youtube, kualitas suaranya kurang maksimal. Jadi, liriknya nggak terlalu terdengar. :(

Kalau maksud yang saya tangkap di sini, tokoh yang menggambarkan sebuah kesepian, sedang mengalami penyesalan terhadap kondisi kesepiannya saat ini. Dilihat dari kata-kata "seharusnya" yang kerap kali tersebut di tiap penggalan lirik. Penulis lirik ingin memberikan suatu pemahaman akan sepi. Kalau kita bandingkan dengan lirik-lirik lagu Efek Rumah Kaca yang kebanyakan menghasut untuk MENYEPI sampai-sampai bunuh diri. Di lagu ini, yang memang musiknya cukup bisa menghasut ke dalam sebuah sepi, liriknya tidak terkesan menghasut. Untuk lirik dan musiknya memang cukup bertolak belakang. Tapi, setidaknya kita jadi bisa mengerti akan sebuah sepi, apakah harus selalu melankoli, terhasut ataupun menjadi ikut-ikutan sepi. Saat mendengarkan lagu ini, memang kita akan sedikit sepi, tapi sesudahnya, kita akan berpikir untuk tidak terlalu larut dalam sepi dan hal yang menyangkut kesepian. Intinya, ini tentang sebuah penyesalan, karena ada kata "seharusnya" di lirik.

Video yang dimaksud, bisa kalian semua saksikan di sini.




Seharusnya Kau Tahu Arti Sepi
seharusnya kubisa, tumbuh dan bersemi 
seharusnya kubisa, bertahan tak berlari

percuma.. dunia berputar semestinya 
percuma.. kau paksa aku merubahnya

seharusnya.. kubiarkan kau tahu arti sepi

Berhubung ada seorang blogger yang namanya Miss U' nggak bisa buffer youtube di kantornya, ini saya sediakan reverbnation yang cuma berisi lagu tanpa video... 




~selamat menikmati~


rgrds,

-ayuu-

Sunday, November 13, 2011

Segenggam Edelweis

Edelweis di Puncak Dewa


langit dewa merengkuh semesta
berhembus semilir angin sesak udara
meretas kelam dalam setitik cahaya
membawa kabar dari genggaman bunga

taman suryakencana menggariskan nyata
membaur dalam sesakan yang maya
menjauh dari sebentuk hipotermia
menahan nafas sejenak merasa berjaya

ini puncak yang dijanjikan
pada tiap kelana alam
untuk menggenapi pengembaraan
yang tak bersabda pada kalam

#segenggam edelweis yang bersedih
bogor, november '11

Friday, November 11, 2011

Memanggul Rindu

bulan menarik simpul
menjeda kelana malam
pada perempuan yang bergumul
memeluk semesta dan rindu mendalam

perempuan malam merindu kalam
torehan pena surga dan sebentuk salam
seakan bertanya pada semesta alam
akan hidup yang kian mengelam

akankah terus mengeras
dalam perburuan beringas
perempuan malam yang meradang
merindu kalam dan tuhan berbayang


#dialogpagi
dialog tuhan dan perempuan

Monday, November 7, 2011

(Coretan Novel): Jurnal Titik Dua - Prolog

Halo bloggers! Udah lama gak posting. Maklum baru turun hutan dan saya kehabisan uang dan dokumentasi hilang. Cuma souvenir aja yang ada, itu juga ngambil dari pohon. Nyolong gantungan rotan, sarangnya burung hantu. Maaf yaaaa Owlie.. Hehe. Oke, sebelum berangkat kemarin, saya sempat membereskan bangkai draft buku saya yang dulu sempet nggak jelas juntrungannya. Mau dikirim ke penerbit, trauma. Dulu sempet kirim naskah tapi nggak di-follow up. Sekarang, saya udah beresin lagi satu buku yang rencananya sekarang lagi proses sortir di penerbit. Kisahnya tentang jurnalis, ya sedikit banyak ngambil kisah tentang dunia saya sih. Hehe. Dan buat semua, ini akan saya posting draft bab Prolog dari coretan novel saya. Selamat membaca! :)


Prolog

Jalanan macet seperti biasa di Jakarta. Semua berbondong-bondong menuju pusat dan inti Jakarta. Bekerja kantoran, menarik mini bus, mencopet, mengamen, dan segala jenis pekerjaan yang dituju. Rush Hour. Kantor masih sepi padahal jam sudah cukup siang. Itulah repotnya bekerja di bilangan Jakarta Pusat. Tapi tidak dengan redaksi majalah dua mingguan yang bertempat di bilangan Sudirman, Jakarta Selatan. Redaksi sudah ramai. Mobil, motor, dan sepeda sudah terparkir di tempatnya masing-masing. Saatnya mencari mangsa, mengejar deadline.
Ruangan rapat tim inti redaksi sudah ramai. Hiruk pikuk manusianya dan tawa agak sedikit terdengar tanpa beban. Entah sudah memenangkan rating tinggi, entah mengalahkan redaksi lain dalam kejar mengejar rating, entah baru pesta pora karena penjualan yang melesat cepat karena berita fakta yang terkesan terlalu mengintimidasi. Persuasif, itulah tujuan utama majalah ini. Mengubah paradigma dan pemikiran yang selama ini diputarbalikkan oleh infotainment yang tidak bisa dipertanggungjawabkan beritanya. Itulah visi dan misi majalah dua mingguan, Titik Dua.
***
“Kita sudah melewati masa-masa tersulit redaksi kita dan mungkin akan ada rekonstruksi di…” kata-kata kepala redaksi, yang berbadan agak tinggi dan cukup gemuk terhenti ketika seorang perempuan yang kelihatannya berumur sekitar kepala dua lebih sedikit, pelan-pelan membuka pintu.
Semua mata tertuju padanya. Semua bibir tersenyum. Seluruh peserta rapat, seolah dikomando, sama-sama mengangkat tangannya dan diposisikan untuk bertepuk tangan.
Satu tepukan, dari salah satu anggota rapat. Disusul tepukan lainnya. Serta merta, ruangan rapat berubah menjadi ruangan yang ramai, dengan tepuk tangan dan ucapan selamat.
Perempuan itu, memasuki ruangan rapat. Kaki kiri yang sedikit pincang dan ketiak kiri yang mengepit skuk penopang untuk membantunya berjalan, mengiringi dirinya. Perempuan itu sangat rapi. Mengenakan kemeja berwarna biru muda dengan kerah model pakaian badut. Kemejanya dimasukkan ke dalam celana katun berwarna abu-abu. Penampilannya lengkap dengan rambut terikat dan kaki yang terbalut sepatu wanita berhak kira-kira di atas tiga sentimeter.
Sang tetua, kepala redaksi yang berbadan gemuk itu, berdiri. Seolah memberi penghormatan, mengarahkan telapak tangan ke arah kursi kantor cukup besar, yang ada di sebelah kursinya. Perempuan itu memandang sekeliling dan tersenyum. Semua orang di ruangan rapat berdiri dan memberi penghormatan.
“Welcome back, Dit,” kata sang kepala redaksi, begitu singkat.
===========================================

nb: nah, inilah coretan prolog untuk novel JTD. Kaget? Nggak perlu. Karena beberapa prolog yang saya buat memang hanya garis besar kilas balik dari cerita utama. Selebihnya, epilog dari novel saya memang lebih kental. Doakan yaaa supaya draft novel saya di-ACC. Salam nulis! :D

~ayuu~

ON STORE

ON STORE