Skip to main content

Konklusi Modus Operandi Pembuangan Perempuan dari Angkot

Ini adalah argumentasi yang ingin saya lontarkan terkait dengan pembuangan perempuan berjilbab tempo hari lalu dari angkutan kota berkode D01: Ciputat-Kebayoran.

Kalau dilihat dari fisik, wanita tersebut memang cantik. Kemungkinan menjadi korban pemerkosaan sekaligus perampokan sangatlah besar. Yang sekarang malah dipertanyakan adalah tentang modus penyerangan dan pembuangan karena melihat kondisi wanita tersebut yang baik-baik saja, hanya memar bekas pukulan di wajah.

Dari laporan pihak berwenang yang saya interogasi balik (setelah dia menginterogasi saya dan teman-teman saya), wanita tersebut memang berasal dari Bekasi dan ketika itu, dia dibawa seseorang sekitar siang hari. Nah, apakah mungkin perampokan dan pemerkosaan terjadi di siang hari? Kan aneh ya? Melihat tampilan wanita tersebut yang sangatlah sopan, dengan jilbab cukup panjang dan memakai rok dengan dalaman celana panjang, belum lagi dia menggunakan kaos kaki, apakah mungkin bisa terjadi pelecehan yang sampai berujung ke pembuangan?

Kalau melihat dari penampilan wanita, saya kira dia adalah seorang aktivis suatu pergerakan organisasi tertentu. Saya tidak akan mengatasnamakan agama di sini, tapi mungkin kalian sendiri sudah sedikit banyaknya mengerti tentang pergerakan bawah tanah. Seorang missionaris yang gagal, membangkang, atau malah ingin berhenti dari suatu pergerakan, pasti akan menemui hal-hal yang berbau teror. Tidak menutup kemungkinan juga kalau yang melakukan penculikan dan yang menghajar dia adalah pihak anti terorisme. Yah begitulah citra yang telah terlanjur ada di masyarakat tentang para jilbabers dan hal semacam itu.

Jadi, kemungkinan besarnya juga, Indonesia sedang mengalami gejolak teror yang sama seperti pada masa Orde Baru dulu. Semua bentuk pergerakan komunis, dihancurkan oleh rezim Soeharto dan antek-anteknya. Semua kegiatan premanisme, bromocorah, dan orang-orang bertato, dihancurkan karena takut menggulingkan kekuasaan Soeharto. Dan sekarang, hal tersebut berputar kembali di masa ini, masa di mana kita sudah bebas untuk beraspirasi, berkata-kata, dan beragama. Fisik para rakyat yang beragama Muslim, sudah boleh berkerudung dan memelihara jenggot. Tapi, semua itu malah membuat gejolak akan anti-terorisme mulai menggila. Dampaknya adalah penculikan beberapa mahasiswa atau mahasiswi yang terkait dengan suatu pergerakan radikal.

Baru saja Ciputat digegerkan oleh penangkapan anggota Ahmadiyah di bagian belakang UIN Syarif Hidayatullah yang notabene adalah daerah kontrakan para mahasiswa dan sekarang, Ciputat kembali geger karena pembuangan wanita yang untungnya, masih hidup.

Apakah semua ada korelasinya?

Salam,

Ayu

Comments

  1. hmm kok jadi serem ya,, tapi emng perlu diwaspadai juga dgn teori konsfirasi, untuk mmeperpecah keyakinan akan sesuatu,,

    ReplyDelete
  2. Eeh, Yu, jadi ribet yaaa???

    huaaaa...

    beginilah Indonesia

    ReplyDelete
  3. beberapa waktu lalu juga ada berita seorang wanita di buang (tapi dlm keadaan diikat dipohon) di daerah situbondo..katanya dia sopir truk yg dia tumpangi yg melakukan penganiayaan. Rasanya kok rasa manusiawinya dimana ya kok bisa begitu? miris mendengar tingkat kriminalitas yg kian parah seprtinya

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah, ternyata masih hidup ya akhwatnya?
    Alhamdulillah..
    Iya aku juga dulu pernah denger-denger berita kayak gitu, Yu. Ngeri ya..

    ReplyDelete
  5. Aduh ngeri banget baca ini, kenapa beberapa blog yg aku baca hari ini ttg yg menyeramkan sih *merinding*

    ReplyDelete
  6. kemungkinan terjadi pemerkosaan??
    jadi belum ada info pasti apakah benar korban pemerkosaan atau bukan ya yu??
    semoga saja bukan :(

    ReplyDelete
  7. @al kahfi: ini sih bukan teorinya bang kahfi, tapi memang sudah menjurus ke konspirasi

    @meilya dwiyanti: ini mungkin merupakan gejolak yang lebih luas dari Indonesia itu sendiri

    @Ririe Khayan: Ini pembuangannya beda mbak. Lebih kepada intimidasi terhadap suatu oknum tertentu, misalnya, mungkin saja perempuan itu anggota pergerakan tertentu.

    @Della: iya Mbak Della, kayak jaman Soeharto

    @BasithKA: ah biasa aja kok :P

    @Miss 'U: bukan korban pemerkosaan, udah divisum nggak apa-apa kok.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…