Skip to main content

Segenggam Edelweis

Edelweis di Puncak Dewa


langit dewa merengkuh semesta
berhembus semilir angin sesak udara
meretas kelam dalam setitik cahaya
membawa kabar dari genggaman bunga

taman suryakencana menggariskan nyata
membaur dalam sesakan yang maya
menjauh dari sebentuk hipotermia
menahan nafas sejenak merasa berjaya

ini puncak yang dijanjikan
pada tiap kelana alam
untuk menggenapi pengembaraan
yang tak bersabda pada kalam

#segenggam edelweis yang bersedih
bogor, november '11

Comments

  1. pengin ikutan genggam edelweisnya boleh ga? :)

    ReplyDelete
  2. @Baha Andes: silakan. edelweis kan bunga untuk umum. :)

    ReplyDelete
  3. oh ya ,, emng pernah ke genggam beneran kah tuh edelwis nya

    ReplyDelete
  4. @al kahfi: pernah bang.. edelweis kering dari Gn. Cikuray dulu.. :'(

    ReplyDelete
  5. Mau ih nanem edelweiss di depan rumah. *bisa banget*

    ReplyDelete
  6. butuh perjuangan...
    butuh kesabaran...
    butuh ketangguhan...
    hanya untuk melihat dan menggenggam edelweis...
    edelwis menyiratkan makna bahwa puncak bukan tujuan...:D

    ReplyDelete
  7. Edelwis yang dulu pernah ku genggam kini entah dimana hikssssssss

    ReplyDelete
  8. @Sitti Rasuna Wibawa: huaaaahahaha nanem depan rumah ditangkep polisi entar.. ini aja nyolong dari gunung sambil dag dig dug.. sekarang kan ada aturannya nggak boleh cabut edelweis sembarangan.

    @Sam: yang penting udah sampe padang edelweis, berarti artinya udah sedikit lagi sampai puncak. jadi, kalo nggak sampe puncak juga nggak apa-apa. :D

    @@cikvee: iyaaaaaa dulu yang saya waktu dari cikuray juga ilang.. gara2 kering, dibuang sama ibu. T_T

    ReplyDelete
  9. waduh buat megang itu semua,hrus butuh pengorbanan waktu,tenaga,fisik demi sebuah kepuasaan batin yang tidak pernah kita temukan dikota besar

    ReplyDelete
  10. @Andy: iya.. kalo bosen di kota ya jalan-jalan ke kota juga, tapi yang sejuk.. bwehehehehe

    ReplyDelete
  11. aku jg pernah berfoto di tempat yg sama mba...
    kangen pgn ke sana lg :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…