Skip to main content

Memanggul Rindu

bulan menarik simpul
menjeda kelana malam
pada perempuan yang bergumul
memeluk semesta dan rindu mendalam

perempuan malam merindu kalam
torehan pena surga dan sebentuk salam
seakan bertanya pada semesta alam
akan hidup yang kian mengelam

akankah terus mengeras
dalam perburuan beringas
perempuan malam yang meradang
merindu kalam dan tuhan berbayang


#dialogpagi
dialog tuhan dan perempuan

Comments

  1. @arr rian: sedih arr.. banyak perempuan hebat yang terlupakan.. (padahal kemarin kan hari pahlawan bukan hari ibu)

    ReplyDelete
  2. mari rindunya di panggul bersama2 kelak rindu kan menjadi ringan terasa menjalaninya,,:)

    ReplyDelete
  3. Akankah kau teringat
    Pada senyum yang terukir penat
    Menantimu datang membawa peluh
    terangkai handuk siap membasuh

    ahahahay.... =D

    ga nyambung... huahahaha...
    *kabuur ah*

    ReplyDelete
  4. @al kahfi: hehehe iya bang.. :D

    @Miss 'U: makasih udah mau ngandukin akuuu xD

    ReplyDelete
  5. tentang rindu kah.?

    perempuan merindu (T)uhan atau (t)uhan.?

    ReplyDelete
  6. @ROe Salampessy: kalau saya sudah tulis huruf t-nya kecil, berarti memang kecil.. dalam sastra dan literatur, Tuhan atau tuhan itu samar.. tidak bisa diartikan secara gamblang seperti pemahaman kita selama ini tentang Tuhan.

    ReplyDelete
  7. Puisimu berat yuuuuu, ilmu saya belum sampai untuk bisa menikmatinya. hahaha, maklum awam :)

    Puisi adalah perkawinan antara penyair dan waktu, rindu ini adalah anak kalian... selamat!

    *ditabok ayu* :p

    ReplyDelete
  8. Puisinya baguus :D Keep posting puisi yah, aku suka :D

    ReplyDelete
  9. @Syam Matahari: ah masa ?? suka merendah aja niih syam.. :D

    @BasithKA: yaaa sejak tiga tahun yg lalu, tulisnya puisi terus..

    ReplyDelete
  10. Sekali lagi, saya lemah dalam memaknai puisi. :D

    ReplyDelete
  11. @Asop: literatur, semantik, dan lain-lain memang agak-agak sulit Sop.

    ReplyDelete
  12. sajak ini bagus ! :)

    -blogwalking-

    ReplyDelete
  13. Rindunya berapa kg ya kok di panggul ga di jinjing he he he


    Unik..Tapi

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…