Skip to main content

Jakarta Pagi Ini

Jakarta Dari Sudut Kaca Bis Kota
sumber
Pagi ini hujan. Saya tahu, kapan bilangan Lebak Bulus dan sekitarnya hujan. Tepatnya turun hujan sekitar jam empat pagi. Saat itu, saya masih bangun. Dipaksa tidur? Susah! Saya habis menenggak lima gelas join Kopi Luwak racikan saya, yang kelewat kental. Kopi itu saya join dengan Zhygoth GB, Aland GB, Bang Donald GB, Mbah Man dan Mas Apak dari Sidoarjo Jatim sana. Mereka adalah kawan sekaligus saudara dalam satu dunia musik yang sama, yaitu Grunge. Tentang pengertian Grunge, tidak usah dijabarkan lah ya.

Saya bangun dan mengobrol dengan Zhygoth, sementara yang lain sudah tertidur pulas karena pengaruh pil yang disinyalir adalah Xanax dan seketika membuat teler ketika dihantam dengan kopi, apalagi kopinya kopi luwak. Yah, saya akhirnya menghabiskan pagi dengan mengobrol seputar saya, seputar dia, masa depan kami, anak-anak kami, seputar skandal Indonesia, seputar Politik, Ahmadinejad dalam pandangan Yahudi, dan obrolan-obrolan gila lainnya.

Saya sangat tercekat, sekaligus melankoli. Obrolan seperti ini sangat jarang saya temui di hari-hari saya bersamanya. Saya bahagia pagi ini, meski tidak tidur dan rasa kantuk malah melanda saya ketika akan berangkat kerja. Hujan terus mengguyur Jakarta dan baru berhenti sekitar pukul enam pagi. Saya tidak berniat mandi, karena badan saya dalam kondisi tidak enak setelah begadang--yang tidak disengaja. Saya memutuskan untuk mencuci muka dan segera berganti pakaian. Agaknya, hari ini Jakarta akan macet. Saya memutuskan untuk berangkat jam setengah delapan pagi.

Jalanan masih berbau hujan saat saya melangkah. Saya  menyusuri arah berlawan dari jalan Ciputat Raya dan segera menuju tempat pemberhentian bis. Saya sebenarnya ingin membeli beberapa makanan kecil untuk mengganjal perut. Namun, bis 102 terlanjur datang dan saya segera naik.

Benar saja, jalanan sangat macet. Padahal, biasanya orang-orang sudah berangkat pagi-pagi dan jam-jam seperti ini, jalanan tidak begitu macet. Ah, saya menghabiskan waktu lebih dari satu jam hanya untuk mencapai Senayan! Dan saya menahan perut saya yang melilit karena terlalu banyak meminum kopi luwak dengan kadar asam tinggi dan masuk angin, sepanjang perjalanan ke Senayan.

Sampai kantor, ternyata masih dikunci! Sepertinya, orang-orang kantor juga datang terlambat. Saya duduk termenung saja di depan pintu kantor, pada akhirnya.

Tiba-tiba, saya rindu rumah... :'(

Lyrics to Jakarta Pagi Ini (Slank):
Pagi dingin 'gak ada sinar mentari
Dan langit pun terlihat gelap 
Mendung datang lagi

Dan aku berdiri di atas gedung yang tinggi
Memandang ramainya Jakarta 
Menyambut pagi ini

(*)Aku di sini... sendiri
Aku di sini... oh sepi
Mengapa aku di sini
Jakarta pagi ini 

Pagi sunyi 'gak ada burung bernyanyi
Putih embun pun kini telah terkontaminasi

Aku seperti terbang 'gak memijak bumi
Di antara merahnya emosi Jakarta yang 
S'makin ternodai 

back to (*)
Aku di sini
Walau apa yang terjadi sampai aku mati

Tempatku bukan di sini...
Jakarta pagi ini

Aku di sini... sendiri
Aku di sini... oh sepi
Tempatku bukan di sini...
Jakarta pagi ini....

Aku di sini... sendiri
Aku di sini... oh sepi
Tempatku bukan di sini...
Jakarta pagi ini....

oh...disini...sendiri
disini...oh sepi....
Tempatku bukan di sini...
Jakarta pagi ini.... 


#ini semacam curhat yang kelewat busuk
-ayu-

Comments

  1. seperti biasa, kalo hujan orang-orang sedikit enggan untuk beranjak dari tempatnya.
    Suka minum kopi luwak juga ya teh?

    ReplyDelete
  2. sayangi lambungmu nak, tuh kopi ga kelewat kental? *emakwannabe =P =P

    ReplyDelete
  3. @k[A]z: suka.. suka kopi apa aja kok.

    @Miss 'U: ngga kok.. udah biasa. sama aja kayak ciu.. :)

    ReplyDelete
  4. haiyaaaaa... sumpe ya curhatannya... --___--"

    I hate jakarta, walaupun lahir di jakarta dan nanti mungkin mau cari kerja di jakarta.

    ReplyDelete
  5. @Annesya: soalnya aku lagi homesick aja.. pengen pulang ke rumah.. hahahaaaa

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…