(Coretan Novel): Jurnal Titik Dua - Prolog

Halo bloggers! Udah lama gak posting. Maklum baru turun hutan dan saya kehabisan uang dan dokumentasi hilang. Cuma souvenir aja yang ada, itu juga ngambil dari pohon. Nyolong gantungan rotan, sarangnya burung hantu. Maaf yaaaa Owlie.. Hehe. Oke, sebelum berangkat kemarin, saya sempat membereskan bangkai draft buku saya yang dulu sempet nggak jelas juntrungannya. Mau dikirim ke penerbit, trauma. Dulu sempet kirim naskah tapi nggak di-follow up. Sekarang, saya udah beresin lagi satu buku yang rencananya sekarang lagi proses sortir di penerbit. Kisahnya tentang jurnalis, ya sedikit banyak ngambil kisah tentang dunia saya sih. Hehe. Dan buat semua, ini akan saya posting draft bab Prolog dari coretan novel saya. Selamat membaca! :)


Prolog

Jalanan macet seperti biasa di Jakarta. Semua berbondong-bondong menuju pusat dan inti Jakarta. Bekerja kantoran, menarik mini bus, mencopet, mengamen, dan segala jenis pekerjaan yang dituju. Rush Hour. Kantor masih sepi padahal jam sudah cukup siang. Itulah repotnya bekerja di bilangan Jakarta Pusat. Tapi tidak dengan redaksi majalah dua mingguan yang bertempat di bilangan Sudirman, Jakarta Selatan. Redaksi sudah ramai. Mobil, motor, dan sepeda sudah terparkir di tempatnya masing-masing. Saatnya mencari mangsa, mengejar deadline.
Ruangan rapat tim inti redaksi sudah ramai. Hiruk pikuk manusianya dan tawa agak sedikit terdengar tanpa beban. Entah sudah memenangkan rating tinggi, entah mengalahkan redaksi lain dalam kejar mengejar rating, entah baru pesta pora karena penjualan yang melesat cepat karena berita fakta yang terkesan terlalu mengintimidasi. Persuasif, itulah tujuan utama majalah ini. Mengubah paradigma dan pemikiran yang selama ini diputarbalikkan oleh infotainment yang tidak bisa dipertanggungjawabkan beritanya. Itulah visi dan misi majalah dua mingguan, Titik Dua.
***
“Kita sudah melewati masa-masa tersulit redaksi kita dan mungkin akan ada rekonstruksi di…” kata-kata kepala redaksi, yang berbadan agak tinggi dan cukup gemuk terhenti ketika seorang perempuan yang kelihatannya berumur sekitar kepala dua lebih sedikit, pelan-pelan membuka pintu.
Semua mata tertuju padanya. Semua bibir tersenyum. Seluruh peserta rapat, seolah dikomando, sama-sama mengangkat tangannya dan diposisikan untuk bertepuk tangan.
Satu tepukan, dari salah satu anggota rapat. Disusul tepukan lainnya. Serta merta, ruangan rapat berubah menjadi ruangan yang ramai, dengan tepuk tangan dan ucapan selamat.
Perempuan itu, memasuki ruangan rapat. Kaki kiri yang sedikit pincang dan ketiak kiri yang mengepit skuk penopang untuk membantunya berjalan, mengiringi dirinya. Perempuan itu sangat rapi. Mengenakan kemeja berwarna biru muda dengan kerah model pakaian badut. Kemejanya dimasukkan ke dalam celana katun berwarna abu-abu. Penampilannya lengkap dengan rambut terikat dan kaki yang terbalut sepatu wanita berhak kira-kira di atas tiga sentimeter.
Sang tetua, kepala redaksi yang berbadan gemuk itu, berdiri. Seolah memberi penghormatan, mengarahkan telapak tangan ke arah kursi kantor cukup besar, yang ada di sebelah kursinya. Perempuan itu memandang sekeliling dan tersenyum. Semua orang di ruangan rapat berdiri dan memberi penghormatan.
“Welcome back, Dit,” kata sang kepala redaksi, begitu singkat.
===========================================

nb: nah, inilah coretan prolog untuk novel JTD. Kaget? Nggak perlu. Karena beberapa prolog yang saya buat memang hanya garis besar kilas balik dari cerita utama. Selebihnya, epilog dari novel saya memang lebih kental. Doakan yaaa supaya draft novel saya di-ACC. Salam nulis! :D

~ayuu~

Comments

  1. @Sitti Rasuna Wibawa: Itu udah ada.. :P Kepanjangannya Jurnal Titik Dua.

    ReplyDelete
  2. eh, rumah baru yah... maaf ya yu, lama saya ndak main ke sini :)

    ReplyDelete
  3. @Syam Matahari: rumah baru? nggak ah.. ini yg lama.. cuma di-cat ulang aja kok.. :D

    ReplyDelete
  4. ok deh teh,ayo semoga di acc :)

    ReplyDelete
  5. @k[A]z: wah amin.. hahaha.. :D ntar saya bikin giveaway lagi kalo dah ada.. xD ya mungkin 3-4 bulan lagi..

    ReplyDelete
  6. @arr rian: sekiranya jadi, bersyukur banget. yg jelas naskahnya udah jadi segepok dan sudah dikirim. T_T tapi yaaa biasa, sortirannya kan 3-4 bulan. :D

    @Yan Muhtadi Arba: amin ya.. :D

    ReplyDelete
  7. uuuuuuuuhh, kereeeeeeeennnnn. nanti kalo nopelnya uda jadi adain givewaynya yaaaa kak >.<

    ReplyDelete
  8. kereenn....ditunggu kabar gembiranya mba...

    ReplyDelete
  9. turut mendoakan novel JTD di acc sama penerbit..!
    Semoga Allah memberikan kemudahan untuk berkarya yah mbak ayu. :)

    salam menulis.
    dan salam meracau dari saya. :D

    ReplyDelete
  10. @AvioLeta Zahra: iya siaaap... :)

    @@cikvee: oke.. :D

    @ROe Salampessy: oke bang roe.. hehe, kali ini saya gak panggil om lagi... heheheeee

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Keajaiban di Pasar Senen

Weekly Song - Oksigen (Sastra Akustik Dialog Dini Hari)