Skip to main content

Senyum Hati Pada Pagi


pic source

Hatiku, hatimu, hati kita berdua...

Teruntuk hati
yang malumalu berseri
mengharu pasti
memberi senyum pada pagi

yang selalu bersabar
menahan memar
dari luka yang samar

yang selalu setia
menemani duka
sampai pada suatu suka


hati yang lebam
menangisi malam
dalam sunyi dan cahaya padam

pada hati kutitip salam
salam gelisah kekasih malam
semoga bias cahaya terkelam
menyambut pagi
beriring mentari
mempelitakan hati

semoga...
selalu seduka sesuka
bersama dalam kembara rasa
meraup cinta tanpa frasa
sesingkat-singkatnya...

08 Oktober 2011, Jakarta

Comments

  1. nice poem :)


    salam kenal : www.chilvilibra.blogspot.com ^^

    ReplyDelete
  2. Malam ini banyak bintang.. tertanda kemarau akan datang ... tapi paginya ko bisa hujan?? Apakah ini salah bintang?? :p

    ReplyDelete
  3. Help...Helpppp..nanya dong yu... Gimana buat Site favorit kaya di sideBar kamu ini..?? Kan keliatan ya yang mana aja blog yang baru kita kunjungi??

    ReplyDelete
  4. dan cinta pada pagi adalah kebahagiaan yang mengawali

    ReplyDelete
  5. Lu gak penting luuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhhh xD

    ReplyDelete
  6. kereeen puisinya. btw, gimana cara pasang disgus, mba? :D

    ReplyDelete
  7. ke situsnya, disqus.com, sign up trus ntar atur2 deh blog yang mau dikasih disqus, di situ ada tutorialnya kok. :)

    makasih dah ngomentarin puisi gak jelas ini.

    ReplyDelete
  8. berarti yg mu yg di maksud itu adalah mister yg berjenggot itukah,,hmmm siapakah dia punya nama,,hehe

    ReplyDelete
  9. kok tau? abang paranormal yak? heheeeee.. namanya Mizan Abdillah bang.

    ReplyDelete
  10. Geli aku baca puisi... :P

    ReplyDelete
  11. mantap puisinya

    ReplyDelete
  12. ya udeeeeeeeh gak usah dibaca.. :P

    ReplyDelete
  13. pake widgetnya di blogspot.. klik design, trus kamunya pilih add gadget, ntar cari deh tuh widget bloglist atau blogroll, ya semacam itu laaa =)))

    ReplyDelete
  14. Owww.... ya..ya... Thanks Ayu Abdillah

    ReplyDelete
  15. waaaah ada kak buna.. legit kayak kue yak? :DDD ^^ makasih kak buna.. :)

    ReplyDelete
  16. KEREN YUU PUISINYA :) so sweet gitu. akakakakk

    ReplyDelete
  17. boleh nanya.?

    Hati dalam puisi ini hati siapa yah.? hatiku, hatimu, atau hati kita berdua, atau hati dalam makna umum.?

    saya mw nangkap makna puisi ini tapi sedikit terjebak dalam kata "hati" disini.. atau karena gw nya ajah kali yah lemah imajinasinya. hohoho..

    ReplyDelete
  18. Salam kenal, kunjungan perdana.

    ReplyDelete
  19. emangnya mimin gak punya? huahahaaaaa

    ReplyDelete
  20. salam.. hmm, salam doang? salam tempel doooong ;))

    ReplyDelete
  21. hmm, ini hati yang saya sebut objek.. bisa hati siapa saja. tapi hati yang saya sebutkan lebih sering adalah objek hati yang terdapat pada objek yang sedang saya ceritakan, alias hati-MU :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…