Skip to main content

Pengakuan dalam 10 Years Anniversary of REARON!!!

Ok. Ini sih tepatnya kemarin. Sampah Rearon, mengirimkan link ke wall facebook saya perihal lagu dari band Rearon yang ditujukan untuk memperingati ulang tahun Rearon yang ke-10. Berarti, 2 Oktober ya? (correct me if i'm wrong atau bahasa gaulnya CMIIW :* haha!) ==> sudah diralat, ultah Rearon adalah 18 September. :D

HAPPY ANNIVERSARY to REARON!!!

logo Rearon yang nyolong dari facebook Sampah Rearon

Nah, di posting kali ini, saya juga akan sharing kepada blogger semua, lagu dari band Rearon. Disebut grunge, ya memang berkecimpung di scene itu musiknya. Tapi kalau soal genre? Grunge-kah? Karena menurut saya, grunge sekarang sudah lebih identik masuk ke gaya hidup. Jadi, kali ini saya akan menyebutnya genre apasaja. Genre baru buatan saya (*dihajarmusisisetanahkadir).

Melihat persepsi dan kontemplasi masyarakat grunge tentang apakah itu grunge, Rearon membuat lagu berjudul Grunge..??? (dengan tiga tanda tanya yang memojokkan bukan sebagai pertanyaan, tapi lebih ke tekanan pengakuan) ==> Lu Grunge?? Grunge TUH APA SIH SEBENARNYA?!! (karena sekarang grunge sudah selayaknya jajanan pasar saja.. nggak menjiwai kayak dulu lagi. Saya tidak menghina Grunge, hanya mempertanyakan esensi dan eksistensi Grunge saja.)
Begitulah kiranya.

Seperti dikutip dari facebook Sampah Rearon, beginilah kata-katanya:

"‎*10 years anniversary REARON* Lagu ini kami dedikasikan untuk kalian semua yang memproklamirkan diri sebagai kaum Grunge !!!"
Sudah tersiratkan tentang apakah esensi dari Grunge? Kenapa harus menyebut diri kita Grunge? Apa karena Nirvana? Apa celana sobek??? Apa karena mabok? Apa karena kita suka banting gitar??? Dan lain sebagainya.(Kalau saya kontemplasi malah panjang. Langsung aja ke lagunya ya!) Nah, untuk lagu-lagunya, kalian bisa mendengarkan di Reverbnation Rearon. Ini link spesialnya buat kamyu-kamyuuuu sekalian... ==>http://www.reverbnation.com/play_now/song_10425387

Kalau memang buka reverbnation lagi lama, silakan dengarkan live streaming-nya di bawah ini:
ComScore

Untuk kontak dengan Rearon, silakan kunjungi reverbnation mereka di sini: http://www.reverbnation.com/rearon

Dan saya juga mau memberi suatu gambaran dan pengakuan buat para grungers, tentang saya dan teman-teman saya. Ini dalam rangka menghapus citra buruk terhadap Saya, Denting Gemintang, dan Syeira Sarah Hasanniung. Biar kami punya pacar anak band ini, band itu, tapi kami tidak berlindung di ketiak mereka!! Tolong dibaca dengan hati, jangan dengan otak!!!

dengan ini saya menyatakan bahwa Saya, Denting Lintang Gemintang, dan Syeira Hasanniung memang mencintai musik universal dan khususon musik2 seattle sound / grunge, tapi kami bukan ANAK MUSIK atau ANAK GRUNGE!!! Karena grunge itu lebih cenderung ke gaya hidup dan gaya hidup kami bukan gaya hidup wanita yang tukang mabuk, hura-hura, atau begitu begini sama cowok manapun. Camkan itu!!! KAMI BUKAN GROUPIES!!! :) trims...

Regards,

Ayuu x__X (maksud iconnya bukan grunge, maksudnya lagi ngantuk!!) 

Comments

  1. Yeah.. Saya pikir sih, emang grunge mungkin jiwa kamu Yu.

    ReplyDelete
  2. bikini... eh bikinin dong

    ReplyDelete
  3. Oke Bang. Ini pasti Bang Ghoday yeee.. huakakakakak. :D Mau dibikinin nyang macem ape?

    ReplyDelete
  4. Wuahhh km ngeband yu?? Baru ku perhatiin foto mu ternyata lagi megang gitar.. aku kira km mau nyapu... Wuahhh km ngeband yu??? Pertanyaan di ulang !!!

    Gruge grange grunge guk gukkk meong km tu Gothic ya kan??? Ngaku..!! Soalnya km ada Horrornya gitu (Q╰_╯)

    ReplyDelete
  5. wauww... sbuah pnemuan bru,,
    trnyta cew brkerudung ga' cm bs maenin msik gambus, tp jg bs maenin msik grunge ...hehehe
    slam knal mba' ^_@
    mkasih ya knjunganny di blog acak2an sya !

    ReplyDelete
  6. Wahahahaha. Sialan ah.. Haha. Dulu ngeband, tapi band-nya sekarang lagi ketar-ketir.. Jadi, saya cuma bisa komentarin tentang band2 temen2 saya di Grunge... :) Sekarang grunge nggak boleh dibeda2in.. Jiwa emang beda tapi sumbangsih kami buat dunia musik di Indonesia, khususon di musik independent harus dianggap. Nggak boleh dibuang begitu aja. Hehehehe. :)

    ReplyDelete
  7. Iya sama-sama. Nggak apa-apa kok acak2an. Saya juga acak2an. Yang penting sih udah ada kemauan untuk nulis. Itu yang dinilai. :)

    ReplyDelete
  8. Grunge itu bisa jadi apa saja sebenarnya.. bahkan agama pun, bisa...

    ReplyDelete
  9. Kalo gak salah mbak ayu pernah bikin lagu yg judulnya pathetic ya? itu grunge juga kan? enak juga sih lagu yang itu hehehe.

    ReplyDelete
  10. ayo ayo mau diajarin nge-grunge gak? :D

    ReplyDelete
  11. ihihiii.. aliran musik baru ya, mba? ajarin doong... :D

    ReplyDelete
  12. coba-coba denger lagu di postingan ini, terus dengerin coba lagu-lagunya Nirvana :D

    ReplyDelete
  13. BIG REGARD buat ayu..THANX sister..
    gw suka artikel lo yg ga berpikiran sempit..that's cool !!!
    skali lg hatur nuhun pisan..
    SALUTE..
    keep strugle..!!!

    ReplyDelete
  14. waduh.. Tommy Irawan sapa yak.. (>,<)a

    ReplyDelete
  15. tu nama asli gw sist..hehe
    oya Rearon ultahnya 18septmbr (bs d liat d profil kita)..
    skali lg hatur nuhun ya...
    keep solid !

    ReplyDelete
  16. nama aslinya adon?? oooo.. :D oh 18 september yak. sips.. ntar diganti di sini :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…