Cerpen: Kopi dan Kata

Kopi dan Kata


Ini tahun pertama dalam pernikahanku. Aku tak menyangka semuanya akan jadi sulit. Semua jadi tak seperti awal aku mengucap janji suci di gereja dulu. Semua serba indah, serba putih, serba suci. Sampai pada akhirnya, aku dihadapkan pada berbagai permasalahan dalam pernikahanku. Aku tak bisa mengeluh, karena aku sudah terikat. Aku ingin lepas, tapi kurasa, itu  hanyalah egoisme diriku sendiri. Aku harus kuat, aku harus bisa melewatkan semua ini dengan dia, yang selalu setia menemani sulitku.
Telepon genggamku berbunyi dan lamunanku di kala macet yang luar biasa parah, terpecah juga. Aku melihat namanya di sana. Entahlah, harus aku jawab atau tidak. Aku sedang bosan, aku sedang malas berbicara, meski dengan suamiku sendiri. Akhirnya, kuputuskan untuk mengangkat telepon darinya dan agak sedikit berteriak, aku menjawab telepon, “Ya halo! Kenapa? Kamu tau kan? Aku masih di mobil, masih di jalan!”

“Halo? Ya maaf Ta. Aku cuma khawatir, kamu belum pulang jam segini. Aku tadi bawa sesuatu buat kamu. Oke, hati-hati di jalan. Aku tunggu deh kalo gitu. Maaf ganggu kamu lagi nyetir,” jawab suamiku dengan lembut dan sabar, meski sudah aku teriaki dan aku maki-maki, dia selalu sabar.
Sampailah aku di rumah. Yang aku mau sekarang hanya mandi air hangat, menikmati malam di beranda rumah dekat kolam ikan. Relaksasi dan tidur tenang, sebelum jam tiga pagi nanti aku mengerjakan tugas dan berangkat ke kantor sebelum orang lain berangkat. Aku tidak suka kemacetan. Lagipula, akan sangat menyenangkan kalau sampai di kantor sebelum semua sampai. Sedikit kopi bisa aku nikmati sendirian. Pelan-pelan.
“Sinta. Mau ngobrol?” tanya suamiku, ketika aku sedang relaksasi di pinggiran kolam ikan dekat rumah.
“Aku cape. Mau rileks. Ngantuk, entar pagi kan aku kerja lagi, kamu tau kan?!” kataku dengan sedikit sentakan dan pertanyaan yang sepertinya retorikal.
“Maaf, aku cuma mau bilang, kalo kamu cape, nggak seharusnya kita bersama, mungkin.”
Malam itu hening seketika. Hanya suara jangkrik dan gemuruh yang tiba-tiba bersuara. Seketika saja langit menghujani bumi. Kolam dihiasi rerintik dan detik yang semakin terpaksa berhenti. Aku pun ingin menangis namun egoku melarang. Hanya perempuan cengeng yang menangis dan aku ini kuat dan keras, sekeras Jakarta saat ini. Hujan semakin deras dan tangisku pun pecah. Tak ada yang tahu, begitupun dia. Tangisku tersamar derasnya hujan yang awalnya hanya merintik. Seolah-olah, mereka menyalahkan aku atas semua ini.
“Sinta, sayang. Ayo kita masuk. Kita bicarakan pelan-pelan dan dengan hati yang sepi, tanpa emosi,” katanya lembut meski di balik kelembutannya, kurasa dia menyimpan geram terhadapku. Aku, sebagai istri yang selalu egois dan tidak pernah berhenti mengeluh.
Malam itu, kami mengobrol di ruang makan samping jendela. Sambil memperhatikan rintikan hujan yang tidak begitu deras namun cukup besar intensitasnya. Hujan, bukan gerimis. Dia terus berkata-kata dan aku hanya bisa terdiam, menjawab dalam hati sambil terus menghakimi diri sendiri. Tangisku tertahan, ingin ku keluarkan namun tak bisa. Aku terlalu malu.
“Kalau kamu cape sama aku, kamu boleh cari laki-laki yang lebih pantas, Ta. Aku tau, aku nggak bisa bahagiakan kamu, kerjaku aja nggak jelas. Seolah-olah, aku ini hanya jadi parasit,” katanya lagi dan aku terdiam. Hanya bisa menjawab dalam hati.
Aku nggak peduli soal uang, aku cuma cinta sama kamu. Maunya sama kamu, maunya kamu temenin aku terus.Maunya kita punya anak yang lucu-lucu. Cuma, sekarang aku lagi kerja. Cari uang buat kita. Apa kamu nggak ngerti?
“Sinta? Kamu dengerin aku kan? Aku nggak ngancem kamu, tapi kalo kamu nggak berubah, sewaktu-waktu aku bisa pergi. Aku ini laki-laki jalanan yang nggak jelas. Kamu pantas mendapatkan suami yang lebih baik. Kita belum lama, jadi orang nggak akan bertanya-tanya kalau kita pisah,” katanya lagi, memberondong aku. Seperti biasa, aku hanya diam. Diam seperti patung Bunda Maria yang cuma bisa berdiri tegak dan tersenyum ketika aku berdoa dan menangis di depannya.
Nggak gitu. Aku nggak mau gitu.
“Kalo kamu diem, aku tau jawabannya,” katanya. Dia berdiri dan mengambil helm-nya. Entah mau kemana, mungkin dia mau meninggalkan aku.
“Aku pergi, Ta. Semua urusan biar nanti kuurus. Ini semua kamu yang pilih,” katanya sambil tersenyum. Matanya berkaca-kaca dan bisa kutebak, dia pasti tidak rela juga untuk pergi. Pernikahan bukan mainan. Aku tahu dia itu lelaki seperti apa.
Jangan pergi. Jangan pergi. Jangan kemana-mana.
Ketika itu, dia benar-benar mengambil kunci motornya dan membuka pintu depan. Aku masih terpaku di meja dapur dan tidak bisa lagi menahan air mata. Aku menangis sejadi-jadinya. Mengamuk dan aku menendang seisi dapur. Aku menangis bagaikan orang sakit jiwa yang akan disuntik. Semua itu kulakukan agar dia kembali, tapi nyatanya tidak. Aku menghantamkan kepalan tanganku ke kaca lemari dapur dan kucuran darah mulai mengalir. Badanku panas dan saat itulah, seseorang merengkuhku. Memelukku erat. Aku merasa hangat. Aku tidak ingin kemana-mana. Ingin di situ saja, di dalam pelukannya.
“Aku sayang banget sama kamu Ta. Aku mau kamu berubah jadi lebih baik. Jadi perempuan yang lebih sabar dan ikhlas. Jangan banyak mengeluh. Hidup kita nggak akan bahagia kalo banyak ngeluh. Aku nggak mau ninggalin kamu tapi aku sayang kamu dan aku harus pergi. Mungkin kalo aku pergi, kamu bisa jadi lebih baik. Sekarang, janji sama aku, supaya jadi baik. Janji ya?” katanya, menenangkanku. Kupikir, dia sudah menjadi lebih candu daripada obat-obat tidurku selama ini. Tanpanya, aku pincang. Tanpanya, mataku rasanya buta. Telingaku rasanya tuli dan indra perasaku tak bisa merasa. Aku tulang rusuknya dan harus selalu begitu.
Aku baru sadar satu hal, aku memang egois. Sifatku buruk dan aku harus menghapuskan itu, agar aku lebih bahagia bersamanya. Aku sadar atas kesalahanku. Dia merengkuhku semakin erat. Dia membersihkan lukaku dan menghangatkan aku. Aku yang salah. Aku salah karena menafikkan segala kesabarannya selama ini. Maaf…
“Ta, mau kopi? Aku buatkan ya? Buat nemenin kamu ngerjain tugas kantor.”
Aku hanya mengangguk. Dia meletakkan kembali helm-nya dan segera mengajakku duduk di sofa depan televisi. Dua gelas kopi pun hadir menemani. Kopi, hujan, dan kata pun menghiasi malam ini. Kami lebih banyak mengobrol dan tertawa. Baru kali ini aku merasa sebahagia ini. Benar-benar bahagia.
“Ta, lain kali kalo ada masalah cerita ya. Yang perlu kita lakuin cuma ngopi dan ngobrol. Itu semua cukup. Dengan ini, kita bahagia. Cukup kopi dan kata, tanpa emosi.”




Aku tersenyum dan kembali menyandarkan kepala di bahunya. Lelaki yang sabar yang mengajarkan aku mengerti artinya bahagia. Bahagia bisa hadir di segelas kopi dan hujan kata. Tak perlu muluk, tak perlu harta. Semuanya apa adanya. 

dedikasi untuk: Mizan Abdillah, terima kasih atas saranmu ya. Salam rindu selalu, Ayu...

Comments

  1. ah masa sih? justru kata saya ini masih agak2 aneh gitu deh.

    ReplyDelete
  2. Suka berlebihan. Hahaha! Tapi alhamdulillah kalo bagus. Saya juga masih belajar bikin cerita-cerita, soalnya lebih sering ke persajakan.

    ReplyDelete
  3. Konspirasi Antar RaksasaOctober 7, 2011 at 10:42 AM

    Menjadi "baik" atau "lebih baik"... hanya itu pilihan'a.. :)

    -manusia terbatas-

    ReplyDelete
  4. wah... :) terima kasih sudah mengomentari. iya nih bang, sedang sulit melakukan hal yang "baik" dan "lebih baik"...

    ReplyDelete
  5. Konspirasi Antar RaksasaOctober 7, 2011 at 1:33 PM

    Jgn lupa selipan'a yak.. *sodorin dompet kosong*

    -manusia terbatas-

    ReplyDelete
  6. huahahaaaaaaaaaaaaaa mana adaaa.. sama eike lagi bokek juga.. :P

    ReplyDelete
  7. beneran nih... saya suka sama alur ceritanya dan susunan kata-katanya.. :)

    saya juga baru belajar nulis cerita nih, dan di blog saya baru ada 2 postingan yang kalo bisa dikatakan sebagai cerita...dan semoga dirimu mau membacanya :D judulnya Live Forever sama Di Balik Rehat 3 Pejalan

    ReplyDelete
  8. "Kamu dengerin aku kan? Aku nggak ngancem kamu, tapi kalo kamu nggak berubah, sewaktu-waktu aku bisa pergi."

    gue pernah nih bilang gini ke orang. hahaha. :p
    nice story mbak :)

    ReplyDelete
  9. Pengen deh saya nanti dibuatkan kopi oleh wanita yang saya cintai... :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Keajaiban di Pasar Senen

Weekly Song - Oksigen (Sastra Akustik Dialog Dini Hari)