Skip to main content

Cara Menyeduh Biji Kopi: French Press (atau Bodum)

Secangkir kopi nikmat, dan yang termudah yang bisa kita buat, bisa dihasilkan dengan French press.

French press set and COFFEE
(pic source)

Press itu terdiri dari penyuling kaca, yang memiliki berbagai ukuran, dan layar jalinan kabel yang melekat pada plunger.

Untuk membuat kopi di French press, jerang air sampai hampir mendidih di ceret. Salah satu kuncinya adalah hangatkan carafe terlebih dahulu sebelum memasukkan kopi, seperti "menghangatkan teko" saat membuat teh.

Tambahkan kopi gilingan sedang atau kopi giling ke carafe kosong yang sudah dihangatkan dengan proporsi yang sama dengan yang kita gunakan untuk cangkir kopi favorit kita.

Tuangkan air yang hampir mendidih ke carafe, tunggu 2-3 menit supaya kopi bercampur, lalu tekan plunger untuk menyaring kopi. Kopi siap disajikan.

French Press with Coffee
(pic source)

Menggunakan French press memastikan tak ada minyak yang terperangkap dalam saringan dan air tak akan pernah terlalu panas, walaupun mungkin ada sedikit ampas di cangkir.

video untuk French Press:


artikel saya tulis ulang dari buku: Chicken Soup for the Coffee Lover's Soul
beli bukunya di sini: http://www.amazon.com/gp/product/0757306292/102-7001014-7473727?ie=UTF8&tag=chisouforthes-20&linkCode=xm2&camp=1789&creativeASIN=0757306292

Comments

  1. haaaah.. baru tau ada yg kayak gituan :p, ada2 aja

    ReplyDelete
  2. Heeey yeaaah sebagai penikmat kopi, harus punya French Press!! :D
    Dan saya punyaaaa! :)

    Eh, sebaiknya punya juga Moka Pot lho. Ayu punya? :)

    ReplyDelete
  3. Aku baru tahu itu namanya French Press. Dan itu mahal banget -,- paling murah mosok 80ribu %^&$^&%

    ReplyDelete
  4. udah coba kopi toraja robusta belum.? sudah saya rekomendasikan beberapa hari lalu kan.? hehe...

    sebagai pencinta kopi, wajib nyobain robusta toraja.. :)

    ReplyDelete
  5. ckckckkc... bener-bener maniak kopi banget nihhh......

    ReplyDelete
  6. ini sambi ngiklan french press tah mbak,,sayangnya sy tdk bisa minum kopi,kepala suka nyut2 kalo ampe minumnya

    ReplyDelete
  7. Ya elah Mbak, 80rb masih murah dibandingin alat pembuat kopi yg lain... :D

    ReplyDelete
  8. Jangan lupa sering2 gosok gigi ya mbak ayu :D

    ReplyDelete
  9. ada doooong hahahaha.. :D itu cuma repost dari buku, sebagai maniak kopi.. :)

    ReplyDelete
  10. ternyata pernah bikin posting tentang french press juga yak! :D waaaah, moka po saya gak punya euy!

    ReplyDelete
  11. murah dooooong daripada yg di luar negeri.. haha.

    ReplyDelete
  12. iya bang, saya maniak banget.. soalnya saya sering begadang jadi butuh banget kopi.. :D

    ReplyDelete
  13. lah kenapa? kopi tuh anugrah.. hehe.

    ReplyDelete
  14. di samping minum kopi, buat menjaga supaya gigi tetep putih saya kumur2 pake teh.. :D

    ReplyDelete
  15. senengnya yang suka kopi..saya lebih memilih teh..ada cara buat teh yang enak?

    ReplyDelete
  16. Ya kalo coffee maker macam yang di starbucks emang mahal. Tapi coffee press kayaknya barangnya simpel huehehehe...

    ReplyDelete
  17. teh yang enak, teh dengan komposisi gula yang pas.. :D

    ReplyDelete
  18. simple cuma press2 kopi doang wkwkwkwk

    ReplyDelete
  19. Lagi seneng liat blog ini ..btw di Bandung ada kopi yang terkenal sampai antero Eropa lho ...kopinya mantap...untuk menikmati kopinya harus menunggu sampai 5-8 tahun lamanya...ketika pesan baru dipanggang dengan panggangan tempo dulu, ada dua jenis kopi yang diproduksi arabika dan robusta ...kopi apakah itu...cluenya adalah tulisan berikut ini:
    Wilt U heerlijke
    Koffie drinken?

    Aroma en smaak blij-
    ven goed, indien Ude-
    Koffie van de zak di-
    reet in een gesloten
    stopfles of blik over-
    plaatst.

    Niet in de zak
    laten staan!

    selamat berburu .....

    ReplyDelete
  20. @iwing saya tahuuuu... kopi Aroma bukan? :D

    ReplyDelete
  21. @iwing naaaaaah kadonya manaaa kalo bener? :o kirimin kopi Aroma jugaa. heheee...

    ReplyDelete
  22. @Ayu Welirang

    Kirim kemana? yang 100 mg aja yaa ..mode pelit on...kebetulan mau beli juga buat stock...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…