Tuesday, April 28, 2009

Antara The Forgotten, A Beautiful Mind, dan Identity



Beberapa film favorit saya, menceritakan tentang suatu sindrom. Yang bisa disebut PSIKOSIS. Kurang lebih, secara khusus mengacu pada penyakit Skizofrenia. Termasuk juga ke dalam paramnesia.

Identity, A Beautiful Mind, dan The Forgotten merupakan salah satu film yang cukup menarik untuk saya. Dalam artian, cukup menarik untuk dibuat sebuah review. Review yang sedikit berlebihan juga. :))


Di dalam bagian otak kita, tersembunyi suatu imajinasi yang luar biasa hebat. Beberapa bisa meledak. Bahkan sampai menimbulkan suatu delusi dan halusinasi di luar pikiran. Kita sendiri bahkan bingung. Ketika kita sadar, bahwa semuanya hanya ilusi. Ketika kita mulai memunculkan perasaan bahagia, tiba-tiba semuanya hilang begitu saja. Tidak meninggalkan apapun. Tidak menyisakan bagian dari imajinasi kita.

Mulai dari Identity.
Diawali dengan perjalanan seorang mantan polisi. Yang bekerja sebagai supir pribadi seorang artis. Di perjalanan hujan lebat, dia tanpa sengaja menabrak seorang wanita tua. Suami dari wanita itu dan anaknya, akhirnya membawa si wanita ke sebuah motel. Si artis dan supir juga ikut. Dan bertemulah mereka dengan kumpulan orang yang berbeda-beda tujuan dan asal. Tetapi masih dalam satu motel, dengan alasan yang sama berada di motel itu. Hanya karena, hujan deras dan jalanan tertutup.

Awal mulanya, semua begitu damai. Sampai, terjadi pembunuhan berantai. Dengan meninggalkan kunci kamar motel di setiap mayat. Semua saling menuduh. Dan ternyata, ketika diselidiki, mereka semua yang terlibat memiliki tanggal lahir yang sama. Sampai hanya tersisa satu dari mereka. Hanya tersisa seorang anak. Yang ternyata, anak ini adalah pembunuh itu.

Kisah ini sebenarnya sederhana. Hanya, digambarkan dengan cerita yang luar biasa kompleks. Inti dari kisah ini adalah, penghapusan suatu imajinasi. Ketika kita berimajinasi, membentuk suatu tokoh atau kepribadian lain dalam diri kita, apakah kita sadar? Bahwa imajinasi itu akan menjadi tingkah laku kita. Yang ternyata, itu bukan kita. Dalam terapi penghapusan kepribadian ganda-ganda-ganda-sekali, kita akan diminta memilih. Kepribadian mana yang akan kita tetap simpan dan mana yang akan dihapus. Semuanya hanya menyangkut pikiran.

Sama halnya dengan The Forgotten. Mengisahkan tentang, "Bisakah kita menghapus ikatan pikiran ibu dan anak?" Dan jawabannya bisa. Tapi tidak pada si tokoh utama dari film. Dia, Telly Paretta. Tidak bisa melupakan kenangan tentang anaknya. Ternyata, pikirannya sedang dimanipulasi. Dijadikan suatu eksperimen. Dengan menghapus satu persatu kenangannya. Apakah dia masih tidak bisa melupakan anaknya? Sungguh, ikatan pikiran memang kuat. Apalagi, dalam diri seorang ibu.

Semua hal tentang psikosis memang membingungkan. Apalagi menyangkut aktivitas yang tidak bisa ditolerir oleh alam sadar. Aktivitas alam pikiran kita. Menyangkut aktivitas lobus kita. Hanya saja, banyak orang penderita, tidak bisa menyikapi hal skizofrenia dengan pikiran yang terbuka lebar. Mereka terlalu stress sampai-sampai bunuh diri. Padahal, kalau mereka menikmati ke-psikosis-an mereka, mereka bisa memiliki kesenangan tersendiri. Mereka tidak perlu depresi berlebih.

Seperti film "A Beautiful Mind". Dari judulnya saja, sudah Beautiful Mind. Jelas, disini, si tokoh utama memiliki pikiran yang paling indah. Dia berimajinasi, bahwa dia adalah salah satu orang yang membantu peperangan negaranya saat itu. Kadang-kadang, dia ada di bagian radio atau logistik. Dia sering membantu Letnan A dan Letnan X, untuk menyelesaikan peperangan. Ternyata, dia hanya berimajinasi. Istrinya memasukkan dia ke rehabilitasi, dengan harapan, bahwa suaminya bisa sembuh dari paramnesia yang dia derita. Ternyata, setelah keluar dari rehabilitasi, dia tidak pernah lagi berimajinasi. Tetapi, dalam suatu malam, dia kembali berimajinasi. Sampai akhirnya, istrinya membiarkan imajinasinya tetap ada, tanpa merugikan orang lain. Jadi just go by flow. Tidak ada yang buruk dari imajinasi.

Begitulah, jangan coba-coba menghapus imajinasi dan kenangan. Karena, tidak satupun manusia di dunia ini yang menginginkan penghapusan kenangan. Kadang-kadang, imajinasi dan kenangan kita adalah sesuatu yang membantu kita di masa mendatang.