Skip to main content

Pendidikan Mahal = Kapitalisme



Beuh. Bingung nih saya. Saya baru kelas 2, tapi saya bingung mau lanjut kemana? Padahal, saya sekolah di smk tapi saya pengen lanjut sekolah dan bingung mau kemana. Sekarang ini, sekolah tambah mahal dan sepertinya, iming-iming sekolah gratis ya memang cuma iklan aja.

Mulai tahun 2009 ini, masyarakat dijanjikan sekolah gratis untuk tingkat sd dan smp. Janji yang mulai diiklankan sejak masa tenang pemilu mendapat sambutan baik di masyarakat. Tapi, tahukah kamu? (hhi..)

Janji itu hanya berlaku untuk sekolah negeri. Padahal, faktanya, banyak anak yang tidak tertampung di sekolah negeri dan terpaksa harus bersekolah di sekolah swasta. Untuk itu, tentu saja mereka tetap harus keluar biaya.

Sedangkan, untuk tingkat SLTA, belum ada sekolah gratis. Artinya, seluruh masyarakat harus menanggung banyak biaya demi kelangsungan sekolah anak-anak mereka di SLTA, negeri atau swasta. Ambil contoh sekolah di Bogor yang mematok biaya masuk sebesar 5juta. Edann!! Mau pintar aja kok susah?! Padahal, kalau sekolah dimurahkan atau bahkan digratiskan, akan terlahir banyak generasi yang pintar dan bisa menambah pemasukan negara juga. Tapi, masih aja, pemerintah tetap timbang-timbang dulu untuk yang satu ini.

Penyelenggaraan pendidikan, hanya sebagian dari pengaturan berbagai urusan masyarakat. Corak pengaturan urusan-urusan masyarakat, termasuk pendidikan tidak bisa dilepaskan dari ideologi negara. Mahalnya biaya sekolah adalah dampak logis dari diadopsinya kapitalisme oleh negara ini. Kapitalisme nyata-nyatanya 'mengharamkan' peran negara yang terlalu jauh menangani urusan masyarakat. Dalam ideologi ini, peran negara harus diminimalisir. Dalam sistem ini, negara memang dibuat untuk tidak memiliki kemampuan membiayai urusan masyarakat. Soalnya, kapitalisme menetapkan, sumber-sumber yang dimiliki negara harus diserahkan kepada swasta. Contohnya, BUMN yang milik negara. BUMN tersebut akan diprivatisasi dengan cara, dijual kepada swasta. Dengan begitu, negara tidak memiliki sumber-sumber kekayaan alam sebagai pendapatan yang bisa membuat negara mampu membiayai urusan masyarakat seperti pendidikan.

Ideologi ini juga mengharuskan urusan masyarakat diserahkan kepada swasta. Semua sektor harus dibuka untuk swasta dan dijadikan lahan bisnis termasuk pendidikan. Wah.. wah.. Pantesan aja sekolah mahal!! Sekolah tiba-tiba menjadi barang mewah nan mahal. Kalaupun ada sekolah gratis, itu hanya sampai tingkat SMP yang benar-benar wajib belajar 9 tahun. Itu juga hanya untuk sekolah negeri. Sekolah lanjutan hanya untuk orang-orang yang benar-benar bisa membayar biayanya, dan bukan untuk orang miskin. Adanya sekolah gratis, sudah dianggap keren dan waw bagi masyarakat. Karena agak meringankan biaya pendidikan masyarakat. Tapi, sedih juga ternyata. Naasnya pendidikan.

Sedih memang. Pemerintah kita tidak memiliki cukup sumber daya untuk membiayai pendidikan.

Coba aja hidup kita kaya game travian, mungkin sudah tiap hari kita bisa sekolah gratis sampai jenjang yang lebih tinggi. Wah.. wah.. Tabahkan saja hatimu ya wahai pemerintah.

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…