Skip to main content

Antara The Forgotten, A Beautiful Mind, dan Identity



Beberapa film favorit saya, menceritakan tentang suatu sindrom. Yang bisa disebut PSIKOSIS. Kurang lebih, secara khusus mengacu pada penyakit Skizofrenia. Termasuk juga ke dalam paramnesia.

Identity, A Beautiful Mind, dan The Forgotten merupakan salah satu film yang cukup menarik untuk saya. Dalam artian, cukup menarik untuk dibuat sebuah review. Review yang sedikit berlebihan juga. :))


Di dalam bagian otak kita, tersembunyi suatu imajinasi yang luar biasa hebat. Beberapa bisa meledak. Bahkan sampai menimbulkan suatu delusi dan halusinasi di luar pikiran. Kita sendiri bahkan bingung. Ketika kita sadar, bahwa semuanya hanya ilusi. Ketika kita mulai memunculkan perasaan bahagia, tiba-tiba semuanya hilang begitu saja. Tidak meninggalkan apapun. Tidak menyisakan bagian dari imajinasi kita.

Mulai dari Identity.
Diawali dengan perjalanan seorang mantan polisi. Yang bekerja sebagai supir pribadi seorang artis. Di perjalanan hujan lebat, dia tanpa sengaja menabrak seorang wanita tua. Suami dari wanita itu dan anaknya, akhirnya membawa si wanita ke sebuah motel. Si artis dan supir juga ikut. Dan bertemulah mereka dengan kumpulan orang yang berbeda-beda tujuan dan asal. Tetapi masih dalam satu motel, dengan alasan yang sama berada di motel itu. Hanya karena, hujan deras dan jalanan tertutup.

Awal mulanya, semua begitu damai. Sampai, terjadi pembunuhan berantai. Dengan meninggalkan kunci kamar motel di setiap mayat. Semua saling menuduh. Dan ternyata, ketika diselidiki, mereka semua yang terlibat memiliki tanggal lahir yang sama. Sampai hanya tersisa satu dari mereka. Hanya tersisa seorang anak. Yang ternyata, anak ini adalah pembunuh itu.

Kisah ini sebenarnya sederhana. Hanya, digambarkan dengan cerita yang luar biasa kompleks. Inti dari kisah ini adalah, penghapusan suatu imajinasi. Ketika kita berimajinasi, membentuk suatu tokoh atau kepribadian lain dalam diri kita, apakah kita sadar? Bahwa imajinasi itu akan menjadi tingkah laku kita. Yang ternyata, itu bukan kita. Dalam terapi penghapusan kepribadian ganda-ganda-ganda-sekali, kita akan diminta memilih. Kepribadian mana yang akan kita tetap simpan dan mana yang akan dihapus. Semuanya hanya menyangkut pikiran.

Sama halnya dengan The Forgotten. Mengisahkan tentang, "Bisakah kita menghapus ikatan pikiran ibu dan anak?" Dan jawabannya bisa. Tapi tidak pada si tokoh utama dari film. Dia, Telly Paretta. Tidak bisa melupakan kenangan tentang anaknya. Ternyata, pikirannya sedang dimanipulasi. Dijadikan suatu eksperimen. Dengan menghapus satu persatu kenangannya. Apakah dia masih tidak bisa melupakan anaknya? Sungguh, ikatan pikiran memang kuat. Apalagi, dalam diri seorang ibu.

Semua hal tentang psikosis memang membingungkan. Apalagi menyangkut aktivitas yang tidak bisa ditolerir oleh alam sadar. Aktivitas alam pikiran kita. Menyangkut aktivitas lobus kita. Hanya saja, banyak orang penderita, tidak bisa menyikapi hal skizofrenia dengan pikiran yang terbuka lebar. Mereka terlalu stress sampai-sampai bunuh diri. Padahal, kalau mereka menikmati ke-psikosis-an mereka, mereka bisa memiliki kesenangan tersendiri. Mereka tidak perlu depresi berlebih.

Seperti film "A Beautiful Mind". Dari judulnya saja, sudah Beautiful Mind. Jelas, disini, si tokoh utama memiliki pikiran yang paling indah. Dia berimajinasi, bahwa dia adalah salah satu orang yang membantu peperangan negaranya saat itu. Kadang-kadang, dia ada di bagian radio atau logistik. Dia sering membantu Letnan A dan Letnan X, untuk menyelesaikan peperangan. Ternyata, dia hanya berimajinasi. Istrinya memasukkan dia ke rehabilitasi, dengan harapan, bahwa suaminya bisa sembuh dari paramnesia yang dia derita. Ternyata, setelah keluar dari rehabilitasi, dia tidak pernah lagi berimajinasi. Tetapi, dalam suatu malam, dia kembali berimajinasi. Sampai akhirnya, istrinya membiarkan imajinasinya tetap ada, tanpa merugikan orang lain. Jadi just go by flow. Tidak ada yang buruk dari imajinasi.

Begitulah, jangan coba-coba menghapus imajinasi dan kenangan. Karena, tidak satupun manusia di dunia ini yang menginginkan penghapusan kenangan. Kadang-kadang, imajinasi dan kenangan kita adalah sesuatu yang membantu kita di masa mendatang.

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…