Sunday, June 26, 2016

Not for IT: Bagian 1 - Pagi, Hanisya!


image source from here. edited with: GIMP
 


01. Pagi, Hanisya!

Rasanya, libur weekend baru saja datang, deh! Dan sekarang, gue malah sudah berdiri lagi di dalam Transjakarta koridor Pulogadung - Dukuh Atas. Bertahan dari manusia yang berebut masuk di halte Pasar Genjing dan bertahan dari bau ketiak pagi hari. Ya begitulah. Setidaknya, ada Mas Akhdiyat Duta Modjo yang setia di kuping ini, menyanyikan lagu semangat cuma buat gue seorang. 
Lagi santai-santainya karaoke sendirian kayak remaja-alay-yang-pakai-headphone-raksasa-Beats by Dr. Dre-sambil-naik-sepeda-di-CFD, tiba-tiba saja busway reyot ini berhenti. 
Astaghfirullah!” teriak seorang Ibu di samping gue.
Dan persis efek domino, Ibu ini jatuh ke arah gue. Gue terdorong. Pegangan terlepas. Secara slow motion, gerakan lunglai khas pegawai kantoran yang belum sarapan, gue jatuh cantik ke samping kanan, menimpa mbak modis pegawai bank. Gue nggak tahu apakah karena gue jatuh ke arah dia, dandanannya tiba-tiba jadi luntur, atau dia memang habis nangis gara-gara sesuatu, atau malah nangis karena tertimpa gue yang naudzubillah berat, maskaranya jadi benar-benar luntur! Dia lalu ngomel-ngomel. Menyerocos tak jelas. Ingin rasanya gue sumpal pakai tissue bekas lap keringat gue. Kan bukan gue yang salah tho, Mbak! Huhu.

Monday, May 30, 2016

Web Series: Not For IT

Siapa yang tak mengenal Jakarta? Tentu hampir sebagian besar orang mengenal Jakarta, kota metropolitan yang hingar-bingar. Bagi sebagian orang, Jakarta jadi kota impian untuk mencari rezeki, untuk menumpang hidup, dan untuk menyambung nyawa. Tapi, Jakarta punya arti berbeda bagi keempat orang ini.
Bagi Hani, Jakarta adalah kota yang menuntut eksistensi. Sejak tak berhasil masuk perguruan tinggi favorit, dan lulus dari perguruan tinggi swasta, Hani memindahkan obsesinya untuk menjadi praktisi IT terbaik di perusahaan konsultan IT terbesar di Jakarta. Sayangnya, nasib membuat Hani harus mulai bekerja dari posisi yang serba menantang keilmuannya..
Bagi Gian, Jakarta tentu hanya tempat cari uang dan menumpang hidup. Sejak kecil, Gian besar di Jakarta dan tak berniat hijrah kemana-mana. Ia berteman baik dengan Hani dan menjadi tempat curhat perempuan itu.
Sedangkan, bagi Cia dan Okto, Jakarta hanya tanah yang bisa mereka injak sesuka hati. Sejak di perguruan tinggi, kedua orang ini sudah berdiri sebagai bintang dan Jakarta pun mereka taklukkan.
Dan Jakarta, mempertemukan mereka, keempat orang yang berada di usia pertengahan dua puluh. Jakarta, mempertanyakan eksistensi mereka, atas persahabatan, persaingan ketat dunia kerja, persaudaraan, dan bahkan cinta.
Bagaimana suka-duka keempat orang ini dalam menghadapi Jakarta melalui masing-masing peran mereka?

Saturday, May 14, 2016

Kepada Cermin dan Masa Depan



Halo, Masa Depan…

Apa kabarmu? Kuharap kau senantiasa baik-baik, sehat, dan sejahtera. Semoga kau selalu ada dalam posisi stabil dan tangguh, karena kau pernah berkata, bahwa untuk bersama-sama menjadi satu, maka setengah bagian dari kita harus sama-sama tangguh. Untuk menjadi satu, maka kita harus sama-sama dapat berdamai dengan apapun yang akan terjadi nanti.
Saat aku menulis surat ini, aku sudah ada di titik mengikhlaskan masa lalu, sudah membereskan sesuatu yang belum selesai dengan seseorang, sudah memohon maaf pada mereka yang pernah tersakiti dan aku sedang dalam proses berdamai dengan diriku sendiri.
Hal yang sedang kulakukan ini cukup sulit, wahai Masa Depan. Berdamai dan bernegosiasi dengan monster yang bisa muncul tiba-tiba dari dalam diriku ini, perlu tingkat fokus yang tinggi. Belum lagi, trik politik yang harus kulakukan untuk mendamaikan monster itu, bayangan dalam cerminku.
Aku kerap kali terlepas dari diriku sendiri, dan tertinggal di dalam cermin. Aku terjebak di sana, dan bayangan itu mengambil seluruh diriku, meninggalkanku di dalam cermin. Kini, aku dan bayanganku terpisah secara sadar, dan kadang aku tak bisa mengendalikannya. Maka, aku perlu sedikit bernegosiasi dengannya, untuk tak mengambil diriku saat bersamamu. Atau, bolehlah ia mengambil diriku dan menaruhnya di dalam cermin, tapi ia usahakan untuk memunculkan sebagian dari diriku pada dirinya, agar seluruh diriku tak tertinggal di dalam cermin.
Rasanya, aku sudah cukup berhasil mengendalikan itu pada waktu-waktu tertentu. Sebab ada dirimu, wahai Masa Depan. Aku bisa sedikit berpijak dan mengingat, di kala diriku yang kau lihat bukanlah diriku yang utuh, melainkan setengah aku dan setengah bayangan dari cermin. Meski begitu, kau tetap maklum dan sabar. Kutanya, “Apakah kau takut dan kesal?” Jawabmu hanya, “Tidak. Aku malah khawatir.”
Maka aku pun belajar berusaha keluar dari cermin. Mendobraknya dengan keras, memecahkannya jadi kepingan. Kuusahakan diriku untuk bangkit, agar kau tak khawatir. Kuusahakan untuk berjalan keluar dari serpihan cermin, dan mencari diriku yang utuh. Aku ingin tetap baik-baik saja. Aku ingin tetap melihatmu melalui diriku sendiri, bukan melalui bayanganku.

Note:

  • Ditulis ketika mendapat jadwal “on duty weekend” dan berusaha memecah kebosanan dengan menulis omong kosong.
  • Ditulis dengan latar lagu berikut: d’cinnamons – loving you; jess glynne – hold my hand; homogenic – untukmu, duniaku; the chainsmokers – roses
  • Ditulis dengan senyum lebar dan tawa kecil yang berirama.



Tuesday, April 26, 2016

Ulasan Personal Intelegensi Embun Pagi: "Hidup Memang Hanya Untuk Bertanya"



Tiga hari yang lalu, saya baru saja selesai membaca installment keenam, atau seri terakhir dari Supernova yang diberi judul Inteligensi Embun Pagi. Selesai membacanya, saya seperti menelan makanan yang teramat banyak. Merasa penuh. Kemudian, dalam beberapa detik saja, saya merasa kosong. Ya, seperti muntah karena terlalu kenyang. Atau terlalu mabuk. Meski banyak ekspektasi orang yang terpatahkan di seri terakhir ini, saya tidak merasa demikian. Bagi saya, seri terakhir ini sudah menjelma penutup yang menggantung sempurna. Ini sudah mengenyangkan, meski pada akhirnya saya harus merasa kosong. Ah, kosong. Bukankah kosong adalah isi?
Pada Intelegensi Embun Pagi, kisah dimulai dari pencarian Gio yang belum purna. Ia masih berusaha mencari Diva yang menghilang. Namun, seiring perjalanan, ia malah mendapati fakta lain mengenai dirinya yang seorang Harbinger atau yang familiar disebut sebagai Peretas.
Gio Clavis Alvarado, menyandang tugas sebagai Peretas Kunci. Dari namanya, Clavis. Dan kode namanya adalah Kabut. Maka dari itu, ia selalu dipanggil sebagai Chawpi Tuta—Kabut dalam bahasa Quechua. Gio yang kini mendapatkan fakta baru, diharuskan kembali ke Indonesia, untuk mengikuti kata hatinya sebagai seorang Peretas Kunci. Sebagai Peretas Kunci, ia terbangun begitu cepat, melalui upacara Ayahuasca yang diinisiasi oleh salah seorang Infiltran bernama Luca.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...