Tuesday, January 17, 2017

Between the Clear Night, Traffic Jam, and Hypocrisy

Between the Clear Night, Traffic Jam, and Hypocrisy

“Do you know what Minangkabau means?”

“I don’t know.”

“I bet that Kabau means ‘Kerbau’?”


And he laughs. It’s not as expensive as the all jewelry in Cikini gold center, but it’s meaningful. And we spend the night, go through all the sidewalk, find the cheapest and the best coffee shop. Just to talk about random things. About non sense.


“Look, it’s a cafe. I didn’t bring my eyeglasses, so could you read the menu that written on the wall?”


“Where?” he asks.


“There.” I pointed my finger to the cafe while saying that. I really can’t read anything, since i have myopia.


He really look at the cafe, and mention all the menu that written on the cafe’s wall. Like a fool, we stood for a long time in front of the cafe. Because there’s no coffee or any interesting things, we continue our journey. It’s eight o’clock already, but I think it’s too early to sleep, since the sky was so clear. I think it’s best to take a walk and talk about randomness.


As we reach the main street, with trucks, cars, buses, and peoples, I began to sing. It’s Vindicated, you know? One hit that Dashboard Confessional made. I don’t even know why I’m singing that song, but It’s good. I feel like the energy and the sky already meet. It’s like a show.


So, I said, “The street is my stage. Well, what is Vindicated exactly?”


“I don’t know. Hmm, vin--di--ca--ted?”


“It’s strange, isn’t it? We sing a song that we don’t know what it means. But we enjoyed it,” said I.


“Maybe it’s just a good song,” he replies.


He laughs again. I can’t see him laughing, but I knew it. Every time he laughs, his eyes turn to a line, with no eyelid. And he always said that he is a Chinese, with that eyes. But it doesn’t matter, since he is the one that give me applause in the middle of a traffic jam.


People may say that we’re just a fool. But we enjoyed it. As we say, this street is our stage. And then he said, “Ah! I forgot to bring my feather duster.”


“Just forget it, we can start cleaning the vehicles with your jacket! But, is it your jacket our my jacket?”


"Just said that is it ours, since you gave this to me and I'm the one that wearing this."

And we laugh again. I don’t know exactly what is so funny, but since this night is still early to sleep, let’s just enjoy the journey.


***


As we reach the Salemba’s sidewalk, we began to think about, “Where is the shadow?”


Ah, we forgot that the sidewalk’s lamp is on the right side of us, so our shadow should be at our back. And we played a games about ‘Guess where is our shadow?’. And someone is following us and it’s turned to be a pedestrian that dodge us. Maybe he thinks that we’re crazy? And what is craziness anyway? Is it us or them that crazy? We don’t even know, since every reality and imagination in this big city was scattered and mixed up.


It’s not the first time we walked around every pedestrian sidewalk, to somewhere, or to search for something. But it’s been a pleasure to waste a tight time in Jakarta like this. People can be so busy and can’t think about anything but weariness. But for me and him, a clear night skies is just a good time for us to talk outside, not always over coffee. The clear sky guided us to every corner that’s good. And just like every walking tour that I spend with him, it’s always meaningful. It’s always been beautiful. I may ended up crying, or talking about some randomness and hypocrisy over my life, but the beginning of this stories was always good. 

And in the cheap coffee shop that we finally reached, I asked a question, "Why do we still calm when we're going to be married next month?"
"It's just a marriage, right? And we will cherish all the surprises that we might find."
"Yeah, we will. We do."

Monday, December 26, 2016

Road to #AyuOdat'sDay

Hi!

Sampai posting ini ditulis, saya sedang sibuk mengurus administrasi pernikahan. Ceritanya nggak panjang-panjang amat, karena pertemuan saya sama babang bisa dibilang singkat dan begitu tiba-tiba seperti yang pernah saya ceritakan di sini. Lalu, sejak terakhir memutuskan menikah itu, tiba-tiba saja sekarang sudah Desember. Ternyata waktu begitu cepat singgah dan lalu, sampai saya nggak nyangka ini sudah mau akhir 2016.

Itu artinya, waktu pernikahan tinggal dua bulan lagi. Phew!

Jadi bridezilla? Nggak juga. Malah saya masih santai kerja di Jakarta, padahal urusan administrasi dan lain-lainnya itu di Cimahi. Terkadang malah nggak tahu mau ngapain, cuma book sana-sini aja buat menyelamatkan tempat dan vendor, meski belum ada konsep pasti buat pernikahan. Tapi ya gitu, berkali-kali dikasihtahu sama babang supaya sabar dan dibawa senang aja. Nggak perlu dibawa stress. Padahal kita berdua mikirin tentang budget yang lebih baik buat DP rumah aja. Hahaha!

Iya begitu. Kenapa menikah di Indonesia harus seribet dan se-WOW yang sering kita lihat kalau sedang kondangan?

Nah, karena sudah terlanjur harus resepsi (padahal mah ingin akad nikah aja terus udah, beres), maka saya pun memutuskan untuk memangkas budget supaya menjadi sehemat mungkin tetapi berkesan. Mulai dari pemilihan venue, catering, dekorasi, make up, attire, souvenir, undangan, dan lain sebagainya. Pokoknya, walau hemat tapi berkesan. Hehe~ Banyak mau ya, padahal hemat! :))

Intinya, segala persiapan sampai dua bulan ke depan bisa dibilang belum purna, bahkan belum ada 50% dari keseluruhan persiapan. Hahaha.

Di posting selanjutnya akan coba saya share ke teman-teman, budget wedding yang saya rencanakan. Jadi, di sisi mana saja saya memangkas budget? Hahaha. Selamat membaca! :D

Monday, November 14, 2016

Not for IT: Bagian 2 - Hagian Tukang Ojek

02. Hagian Tukang Ojek

Hari Sabtu dan Minggu itu hari bahagianya para karyawan. Apalagi karyawan rantau seperti gue. Ya, semua hal yang menyenangkan cuma bisa gue dapatkan di dua yang terakhir dari tujuh (semacam lagunya FSTVLST itu).
Entah kenapa, sehabis Subuh tadi gue nggak bisa tidur lagi. Mungkin efek nonton drama menye-menye semalam jadinya bangun tidur malah lebih segar. FYI, gue tidur cuma dua jam doang. Gue maraton nonton drama Korea hasil copy dari Mirza Jum’at kemarin. Ya begitulah kehidupan gue. Nikmat weekend mana lagikah yang kita dustakan?
Karena sudah terlanjur melek, gue buka lebar-lebar pintu kost. Pintu kost gue ya kayak begini aja, harus diganjal pakai botol deterjen cair isi sembilan ratus mililiter supaya nggak terus-terusan nutup sendiri. Kan malas kalau pintunya tertutup sendiri. Gue mau menyapu, mengepel, dan mengusir hawa jahat dari kamar gue yang cuma ditumpangi untuk molor dari Senin sampai Jum’at.
Playlist dance di telepon genggam gue nyalakan dan mulailah gue menyapu kamar.
Lagu Dramarama pertama kali ada di daftar shuffle.
Gue berteriak senang sembari menyapu kolong kasur dan meja roda. Sedang senang-senangnya bernyanyi, tiba-tiba telepon genggam ada pesan masuk.

From: Mbak Kost (+6281890227890)
Messages: Neng, maaf. Suaranya dikecilin sedikit, kucing anggora Ibu katanya lagi stress. Kemarin cucu Ibu kost yang umur tiga tahun sampai dikunci di kamar mandi gara-gara berisik.

Friday, September 23, 2016

Duapuluhempat

image source

Hari ini saya bertambah umur.

Tidak banyak yang berbeda di hari ini. Hari ulang tahun bagi saya hanya seperti hari-hari biasa. Yang membedakan cuma, yah, hari ini jelas saya bertambah satu tahun. Hanya itu. Selebihnya, transisi tengah malam menuju hari kelahiran saya lewatkan dengan tidur nyenyak lalu terbangun pagi, kemudian berangkat kerja, dan menyemangati diri sendiri dengan cara-cara yang saya bisa.

Apa yang sebenarnya harus berbeda selain ucapan teman-teman yang ala kadarnya? Bagi saya, yang berbeda mungkin refleksi. Di hari kelahiran ini, saya hanya mencoba mengingat tahun-tahun di belakang saya yang saya tinggalkan. Sudah jadi apakah saya? Apakah saya sudah berubah? Apakah saya sudah bertambah dewasa? Banyak yang bilang bahwa bertambah umur tak menandai dirimu bertambah dewasa, hanya usia tua saja yang kau lewati. Bertambah dewasa dan berubah sikap tak melulu ikut berubah saat kau berulangtahun. Begitulah yang saya pahami. Walau dilewatkan dengan tidur, transisi ke hari ulang tahun saya tetap saya lewatkan dengan refleksi hidup.

Tua jelas niscaya, secara usia. Bertambah tua berarti masih ada kesempatan untuk berubah. Kita bertambah tua berarti kita tidak kehilangan tahun-tahun di belakang. Dan itulah yang membuat saya berpikir, sebenarnya apa yang sudah saya lakukan selama ini?

Hal itu membuat saya tak hanya membuka refleksi pada diri sendiri, tapi juga membuka resolusi. Hidup tak melulu berpikir mundur, tapi juga berpikir maju. Sebelum melaju ke tahun berikutnya, perlu ada rencana matang dan terstruktur. Semua ini agar saya terus berusaha memperbaiki apapun yang saya ingin perbaiki, sampai saya mengulang kembali hari lahir. Terkait resolusi, banyak sekali hal yang ingin saya capai. Banyak mimpi-mimpi yang semakin terbuka dan menunggu dikejar. Kalau tak dengan lari, cobalah dengan berjalan. Semuanya akan mudah jika saya mulai menjalaninya terlebih dahulu. Mimpi dan resolusi yang saya catat, tentu hanya akan jadi catatan jika tak dijalani. Meski kita tak tahu apa yang akan menghalangi hal-hal tersebut tercapai, tapi saya tetap harus mencoba. Tak ada yang tak mungkin, jika itu menyangkut usaha. Dan kebetulan, banyak resolusi yang ingin saya capai sebelum usia menginjak seperempat abad. Mungkin menulis dua novel, membereskan satu novel thriller, mematikan banyak orang di dalam novel itu, menulis ini, menulis itu, menulis non fiksi, mengikuti writer's residency, berkeliling Asia, dan masih banyak lagi. Semoga...... Amin.

Dan ya beginilah. Saya menjalani ulang tahun dengan biasa saja. Seperti hari yang sebelumnya. Eh, tidak juga sih. Agak berbeda, karena nanti malam saya mau menonton Barasuara di Localfest. Hahaha! Well, setidaknya itu menjadi salah satu cara saya memberi kado pada diri sendiri.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...