15 May 2013

Siluet Sore #1

Siluet Sore - Part 1

Matahari sudah bergerak naik, menuju perbatasan bagi peraduannya. Sementara, orang-orang sibuk dan tergesa menuju rumah, seorang perempuan muda, rambut ikal sebahu dengan setelan blazer dan rok sepan berwarna senada merah muda, duduk menunggu entah apa. Di tepi jendela kedai kopi kota metropolitan, perempuan itu menyusuri kemacetan jalan. Mencari sesuatu, atau mungkin seseorang? Perempuan itu nyaris tak mengedipkan mata ketika lampu dan klakson mulai bersahut-sahutan.

Kenangan berlarian. Bayangan mulai menepi satu per satu ke depan kedai kopi. Sore itu mulai menangis, langit gerimis. Orang-orang sibuk mencari tempat berteduh. Ada yang masuk ke kedai kopi, ada pula yang hanya menumpang di depan berandanya saja. Setidaknya, mereka tak kehujanan. Setidaknya, mereka berbahagia walau hujan menenggelamkan. Berbeda dengan perempuan itu, yang tetap sendirian, duduk di tepi kedai menyesap kopi yang asapnya masih mengepul mesra, mencabut kenangan dari akarnya.

Berkali-kali ia datang ke kedai itu, hanya untuk menunggu seseorang. Ya, menunggu seseorang bukan lagi sesuatu. Menjelang malam, kedai itu selalu kehadiran seorang musisi berambut panjang, lelaki yang terlihat tampan meski wajahnya dihiasi jambang, dan tangan kanannya dihiasi tato. Perempuan itu menunggu. Duduk di kedai kopi, baginya adalah sebuah hal baru. Karena, ia nyaris tak pernah datang ke sana kalau saja bukan karena lelaki itu yang menariknya bagai medan magnet.

Perempuan itu hanya senang memandangi si musisi dari jauh, mengagumi matanya yang teduh, mencari kearifan pada kata-katanya yang menghipnotis seluruh.

“Menuju malam. Selamat datang. Saya duduk di sini lagi, mencoba menghibur kalian semua selagi hujan bertandang ke Jakarta,” lelaki musisi itu mulai berbicara. Dawai-dawai gitarnya mulai terpetik. Lagu syahdu dimainkan. Romantis memang, meski perempuan pengagum itu sendirian.

“Menghitung hari, detik demi detik. Menunggu itu kan menjemukan. Tapi ku sabar menunggu jawabmu, jawab cintamu,” lanjut lelaki itu dan suasana pun mendadak syahdu. Lampu remang kedai kopi menambah semuanya jadi semu.

Perempuan itu menghamba sore, menghamba bayangan, entah sampai kapan.

--bersambung--

06 May 2013

Sketsa Tuan Senja

pict source


Sketsa Tuan Senja

Aku suka berada di pantai ini. Menyendiri dan melambungkan imaji ke cakrawala yang tak berujung. Seperti menerbangkan harapan pada butir-butir dandelion yang terbawa angin entah ke mana. Imajiku terbang seperti halnya dandelion itu, di pantai ini.
Ada satu kursi yang selalu ku tempati. Kursi yang letaknya ada di bawah pohon kelapa yang sudah menua. Kursi yang selalu kosong di sebelah kiriku, dan seperti berbicara pada hantu, aku kerap berkhayal bahwa akan ada seseorang di sana, menemaniku duduk menikmati senja. Aku sering menggambarkannya kala matahari mulai tenggelam di cakrawala itu. Aku sering menggambarkan wajah tak kukenal, yang kusebut Tuan Senja. Inilah kumpulan sketsaku, sketsa seseorang yang tak kutahu siapa dan kapan akan bertemu. Selebihnya, aku hanya membayangkan lelaki itu duduk dan memandangi senja yang mulai senyap menghilang di cakrawala.

***

Dua hari kemudian, datang lagi aku ke tepi pantai. Kursiku terisi. Ada seorang lelaki di sana. Duduklah aku di sampingnya, tak berkata apa-apa. Kupandangi ia lekat. Ia merupa tuan senja yang ada dalam buku sketsa. Oh, inikah yang dinamakan takdir? Entahlah. Kupandangi saja ia, tapi ia tak bergeming. Seperti tak memperhatikan aku yang sejak duduk tadi memandanginya.
Sejenak aku terdiam mengikuti kemana arah matahari melepas penatnya. Pulang ke peraduan di dalam bumi. Ini transisi matahari yang ke sekian kalinya ku lewati di pantai sepi. Sementara, tuan senja itu sedang terduduk di sampingku, mengatupkan matanya sambil mendekap badannya sendiri.
Aku diam saja. Aku biarkan senja menyergap kebisuan di antara kami, menelanjangi kami, dua orang yang menghamba transisi matahari.
Aku diam. Masih diam. Sampai bintang pun nyaris tenggelam. Setelah senja, langit muram. Mendung datang dan aku beranjak pulang. Namun, tak kusangka, lelaki senja itu masih setia duduk di sana. Maka, dengan segenap keberanian, aku katakan bahwa aku akan pulang.
“Tuan, tak lelahkah duduk di sana sepetang ini? Apa tak ada yang menunggumu pulang?” tanyaku padanya.
Lantas, matanya yang terkatup itu mendadak terbuka. Seperti kebingungan, atau mungkin bahagia berbalut remang malam?
“Ah ya. Rupanya ada orang ya? Sejak kapan nona di sana?” tanya lelaki itu padaku.
Ah, tentu saja sejak sore tadi ada aku. Namun, layaknya hantu, aku tak dianggap ada. Atau mungkin, lelaki itu terlalu menghamba senja sehingga melupa manusia? Entahlah, wajahnya yang sesempurna sketsa tuan senja milikku nyaris membuatku buta, mencinta.
“Tentu saja. Sejak sore aku di sini, menikmati senja di kursi kesayanganku setiap sore.”
Lelaki itu mengangguk dan dia pun beranjak. Kulihat tangan kirinya mulai membuka tongkat lipat. Ah... Rupanya, tuan senja yang buta, tak bisa melihat. Pantas saja, sejak sore tadi, dia seperti tak mengindahkan kehadiranku. Rupanya, dia memang tak melihatku, hanya melihat senja.
Kuputuskan untuk menemaninya berjalan, menyusuri pesisir pantai.
“Tuan, mengapa kau katupkan mata saat senja tiba?” tanyaku padanya.
Lelaki itu tersenyum, entah pada siapa, karena matanya tak menghadapi aku yang sejak tadi berada di sampingnya.
Lalu, sambil berjalan beriringan, dia mulai berkata-kata. Kurasa, itulah kali pertama aku mendengarnya berdongeng soal senja.
“Dalam warna jingga itu, ada spektrum yang menghangatkan aku. Hanya pada saat itulah aku bisa benar-benar menikmati transisi matahari sore, meski mataku tak melihatnya.”
“Seperti apakah itu?”
“Ya seperti inilah Nona. Warna jingga itu seperti menerangi mataku yang selalu gelap, tanpa cahaya. Dan hal itu hanya terjadi di sore hari, ketika aku mulai menghayati senja.”
Oh begitu rupanya. Aku baru mengetahui filosofi senja baginya, begitu mendalam. Bukan seperti filosofi senja bagi para remaja yang gemar keluyuran selepas petang. Ini benar-benar filosofi senja bagi seorang buta. Bias antara warna dan spektrum cahaya yang menghangatkannya.
Bagiku, berada di sampingnya sudah lebih dari sempurna. Lelaki sederhana pengagum senja yang tak berpikir muluk akan semesta. Hanya sekedar duduk saja di tepi dermaga menyapa senja, sudah membuatnya bahagia. Mungkin, seperti itulah sketsa tuan senja, yang semesta berikan dalam sosok bermata buta.

cerpen iseng
Ayu Welirang – Jakarta, 06 Mei 2013

24 April 2013

Mengakrabi Burangrang Kembali

Saya menulis dalam kondisi pernafasan yang luar biasa mampet. Hehehe. Pasalnya, hari Minggu lalu, saya menyempatkan diri untuk sowan ke salah satu gunung di tempat saya besar, Burangrang di Cimahi. Mendapati pemandangan yang kadang terlihat kadang tidak, pulangnya saya malah diguyur hujan tak henti. Oh, jejak pun tersaput air mengalir dari sepanjang jalur penuh lumpur. Tapi, cukup tenang membayangkan Burangrang pada waktu itu kosong, jauh dari bising, dan cocok untuk merenung atas nama 'Hari Kartini'. Dari atas sini, setiap perempuan boleh bermimpi, dengan semangat seorang Kartini yang penuh mimpi.

Kartono dan Kartini :D
Berangkat berdua dengan kawan perempuan, disambut oleh seorang kawan lelaki di kaki Legokhaji, saya pun mulai berjalan. Sedikit tracking ringan melalui ladang penduduk, sebelum akhirnya memasuki vegetasi yang cukup rapat. Hutannya masih asri, khas gunung-gunung Jawa Barat. Meskipun gunung ini tak begitu tinggi, namun jalan-jalan terjal dengan duri tanaman di kanan kiri cukup mengobati saya akan kerinduan mengasah adrenalin. Perempuan boleh bermimpi, perempuan harus berani.

Sekitar dua setengah jam pendakian, saya sampai pada tugu Burangrang, titik elevasi dua ribu lima puluh meter di atas permukaan laut. Awan masih cerah, meski menutupi pemandang kota Cimahi dan sekitarnya. Kadangkala, matahari mengintip di atas kepala. Dan ketika terdengar gemuruh, saya memutuskan untuk turun saja. Singgah di Burangrang sekedar makan siang dan berkontemplasi dalam renungan panjang. Sudah cukup? Tentu belum. Mungkin, kalau saya sempat, saya akan mampir lagi. Ya, mengakrabi Burangrang kembali setelah sekian lama, semacam menemukan rumah yang telah lama berpindah. Sejak saya sering melakukan perjalanan, saya hampir tak bisa menemukan definisi rumah, karena bagi saya, rumah adalah di mana hatimu berada.

Mungkin, cuma itu yang bisa saya ceritakan di hari ini. Semangat Kartini, terbawa sampai Burangrang yang sepi. Selamat menikmati imaji kali ini! :)

Burangrang dari desa Tugu Mukti

jalan lagi

pose ala Soe Hok Gie di tugu puncak :)

Kartoni, eh... Kartini :D

apa ini yaa? :/

Nah, warga Bandung dan Cimahi khususnya, berminat mengakrabi Burangrang? Silakan saja. Ancer-ancernya mudah sekali. Dari terminal Pasar Atas Cimahi, naik angkutan kota yang warna kuning (kuning saja ya bukan yang kuning hijau), ke arah Cisarua. Nanti ketika sampai SPN (Sekolah Polisi Negara) Cisarua, turun. Ada jalan di sebelah kiri yang ramai, itu pasar. Nanti kalau ada pick-up, bisa menumpang dan bilang mau turun di Legokhaji. Mudah bukan? Yaaaa, kalau sulit, anggap saja mudah. Hehehe. Kalau kesulitan untuk berandai-andai, silakan kontak saya di sini.

Selamat mendaki, selamat berjalan-jalan! :D