02 March 2015

Saya sedang menulis thriller. Ya, THRILLER. Seperti novel 7 Divisi yang sedikit thrilling dan berbau petualangan, novel satu ini pun bernuansa thriller-suspense. Meski begitu, novel yang sedang saya garap ini tidak begitu kental akan petualangan. Dunia yang kini saya bangun, mengacu pada salah satu pekerjaan saya terdahulu, yaitu sebagai satpam cyber. Hahaha. Mengapa disebut 'satpam cyber'? Karena, dahulu sebelum saya memutuskan untuk menulis secara lepas, saya pernah bekerja di perusahaan IT dan kadang tidak tidur berhari-hari hanya untuk mengerjakan deployment aplikasi di server, juga melakukan monitoring. Karena keterbatasan SDM di kantor, apapun harus saya kerjakan. Dan yang membuat saya bangga adalah, saya menjadi perempuan satu-satunya yang berkutat di server, sementara lelakinya malah banyak yang menjadi programmer. Nah, di situ saya bangga, meski dampaknya adalah saya sering sakit maag karena telat makan, atau asam lambung terlalu banyak berinteraksi dengan kopi. Dan yang menyenangkan adalah, saya selalu ditraktir makan junk food. Well, biarpun junk food, lumayanlah daripada jajan sendiri. Jadi, uang gajian bisa ditabung (meskipun sebenarnya tabungan saya nggak pernah benar-benar banyak, saya juga bingung uang gajian lari ke mana). *dan ini adalah curhat*

Nah, kembali ke thriller. Kali ini, saya berusaha merampungkan naskah saya yang lolos dalam GWP batch 2. Judul naskah saya ini adalah CIPHER. Nah, untuk sneak-peek naskah ini, bisa dibaca di sini. Dan untuk beberapa bab naskah juga ada di halaman web GWP itu sendiri, karena waktu itu sistem seleksinya melalui web tersebut. Selengkapnya ada di sini.

Sedikit perkenalan singkat mengenai Cipher. Naskah ini ditulis saat pekerjaan sedang santai. Saya mencoba untuk mengeksplorasi dunia IT--khususnya network engineering--dan mengaplikasikannya ke dalam karya tulis (fiksi). Saya ada satu blog khusus IT dan Linux. Namun, tetap saja saya ingin menumpahkan keluh kesah saya tentang dunia IT ke dalam fiksi. Nah, maka dari itu saya membuat novel thriller berbau konspirasi dunia maya dan hacktivism, hingga lahirlah coretan kasar Cipher. Awalnya, saya lancar sekali mengetik. Hingga sampai bab 5, tiba-tiba saja semuanya menghilang. Hahahaha. Mungkin karena naskahnya terbengkalai cukup lama. Saya iseng posting di website GWP, dan ternyata malah jadi naskah 'Pilihan Editor'. Alhasil, karena kemenangan itulah saya harus membuka kembali draft yang sudah lumutan, lalu mengorek lumutnya hingga bersih dan mengilap lagi. :|

Lalu, di tengah-tengah writer's block yang melanda, apakah yang menemani saya dalam melakukan riset dan penulisan lanjutan Cipher?

Nah, berikut ini beberapa langkah yang saya tempuh saat naskah ini mendekati 'pemberhentian ide'. Sebenarnya, ini mungkin berguna bagi penulisan thriller lainnya, tak hanya techno-thriller ala Cipher.

Mari disimak! :D

~ Tetapkan Deadline

Dalam menulis naskah thriller, kalian harus menetapkan tanggal-tanggal penyelesaian agar tepat dan tidak terlalu mengulur waktu. Misalkan, tetapkan target bab. Tanggal sekian, 5 bab. Tanggal sekian, menuju 10 bab. Dan seterusnya, sesuai selera. Mengapa harus begitu? Karena, kalau naskah ini dibiarkan terbengkalai lamaaaaaaa sekali, sampai lebaran monyet mungkin kalian akan lupa naskah kalian sendiri. Apalagi kalau sub genre thriller-nya terkait teknis, misal techno-thriller yang banyak istilah teknik, atau psychothriller yang banyak tokoh sakit jiwa dan kalian malah lupa nama-namanya. Atau thriller lainnya yang 'menurut-saya-sih-ribet-karena-namanya-juga-thriller'.

Deadline ini akan jadi acuan dan pemacu dalam menulis, agar setiap deadline tertentu, kalian bisa mengevaluasi hasil tulisan kalian sebelum melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. 

~ Menyiapkan Cemilan

Martabak Telor Bebek Enaks~
Ini sebenarnya tips sesat. Tapi, menulis thriller yang serius perlu berbagai pertimbangan juga sebab-akibat dalam tiap babnya, agar jalinan cerita menjadi lebih terstruktur. Nah, cemilan ini berfungsi untuk menstimulasi otak agar tidak kelaparan saat berpikir. Daripada saat proses penulisan kelaparan dan harus berhenti untuk cari makanan dulu, lebih baik beli makanan atau cemilannya duluan. Jadi, kalau lapar dan otak sudah susah mikir, bisa langsung makan, nggak usah cari-cari lagi. Lagipula, kalau idenya lagi berapi-api, kan sayang kalau terpotong hanya karena mau jajan dulu? Iya nggak? Ya udah, iya aja deh. :|



~ Membuat Daftar Tokoh

Ini tips perlu banget lho! Saya suka membuat jalinan tokoh sebelum melanjutkan naskah. Naskah thriller biasanya terdiri dari beberapa ornamen di dalamnya, baik yang utama maupun yang hanya figuran. Nah, daftar dan tabel tokoh ini nantinya akan menjelaskan siapa saja yang jadi pemeran utama, lalu apa kepentingannya dalam cerita. Selain itu, naskah figuran juga perlu lho! Dia juga mendapat porsi dan pastinya akan menemui tokoh utama. Harus ada tabel untuk persinggungan antara tokoh ini. Selain itu, trik ini cukup efisien untuk mendeskripsikan tokoh-tokohnya, ciri-ciri fisik, nama lengkap, kebiasaan, pakaian, usia, dan juga tokoh-tokoh yang terdekat dengannya. 

~ Membuat Diagram Alir

Nah, ini sebenarnya cara yang sering digunakan dalam dunia IT. Biasanya sih, para programmer sering membuat diagram alir atau yang dikenal sebagai 'flowchart' sebelum membuat sebuah program. Selain itu, diagram juga kadang dibutuhkan oleh para 'network engineer' untuk mendefinisikan topologi maupun rangkaian kemungkinan dan sistem yang akan dibangun. Dengan diagram yang sama seperti saat saya membuat sistem monitoring dan pembagian perangkat keras, saya pun membuat diagram alir untuk tokoh-tokoh dan sebab-akibat dalam cerita. Nantinya, dari sebab-akibat ini, saya bisa membuat pembagian konflik dan ketegangan ke dalam bab-bab yang saya kerjakan. 

Misalnya, dari tokoh A -> tarik garis ke tokoh B dan kejadiannya -> tarik ke kejadian berikut -> kembali ke tokoh A -> lempar tokoh C -> dan suka-suka Anda saja deh! :)))

Nah, setelah pembagian konflik dalam outline kasar, saya bisa menuliskannya ke dalam bab yang sebenarnya, yang utuh dan tak keropos seperti hatiku.

Tabel Tokoh dan Diagram Alir

~ Membuat Outline

Outline itu ternyata penting lho teman! Dan saya baru menyadarinya setelah sekian lama. Untuk pembahasan outline ini, nanti saya akan jelaskan di posting lainnya ya, soalnya kalau dimasukkan ke posting ini, pasti kepanjangan. Haha. Intinya, saya akan membuat outline dalam menulis naskah novel apapun (tidak hanya untuk thriller), tentunya berdasarkan kepadatan konflik yang sudah saya jabarkan dalam diagram sebelumnya. :)

~ Main Game Untuk Menghilangkan Kejenuhan

Ini tips sesat! Sudah saya ingatkan dari tadi. Kadang-kadang, kalau main game online saat sedang menulis, akhirnya malah jadi nggak melanjutkan penulisan. Tapi, ini efektif sih kalau otak sudah panas karena terlalu banyak menulis tentang pembunuhan, penghancuran, penculikan, atau hal-hal yang terkait teknis yang berhubungan dengan tema cerita (misal tentang hacker, maka si tokoh A lagi bercerita tentang virus komputer yang bisa menghentikan operasional infrastruktur). Nah, main game-lah, tapi hati-hati, game bisa lebih candu dari penulisan thriller itu sendiri. *zzzzzZZZZzzz *sesat

Outline...
(outline games tapinya)

~ Membaca Referensi

Nah, ini sih sudah pasti semuanya juga setuju. Hal terpenting dalam menulis adalah membaca. Karena, kata beberapa tokoh, untuk bisa menulis, kalian harus bisa membaca dulu! Minimal, kalian mempelajari beberapa novel atau cerita yang genrenya sama atau temanya sesuai. Nah, setelah melakukan ini, minimalnya kalian bisa menulis dengan kaidah-kaidah yang ada pada referensi bacaan. Syukur-syukur, kalian malah bisa menemukan kaidah menulis sendiri dengan menggabungkan beberapa gaya penulisan dari beberapa novel, atau melakukan improvisasi gaya penulisan. 

Referensi Thriller dan Cerita Detektif @_@

~ Bersabar dan Tawakal

Hal dan hil yang terakhir tentunya adalah sabar dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jika semua langkah telah ditempuh, tapi ternyata naskah thriller masih di situ-situ saja, teman-teman hanya tinggal terus berusaha, sabar, dan berdoa. Saya saja, kadang kalau stuck dan sudah malas sekali, langsung rebahan di kasur dan tidur siang. Lalu, sore-sore bangun, ke warteg, duduk lagi depan laptop tapi tidak mengetik naskah. Karena, mau bagaimanapun juga, otak ini tidak bisa dipaksa. Jadi, kalau sudah stuck ya sudahlah. Mungkin idenya akan datang esok hari. :|

*lalu-digergaji-pembaca* *report-as-spam*

Nah, sekian dulu ya, tips sesat hari ini. Semoga teman-teman semua mendapat pencerahan yang gelap. :p

Selamat menulis dan menjadi gila! :))

Posted on Monday, March 02, 2015 by Ayu Welirang

No comments

23 February 2015

Kalau sedang susah tidur, biasanya saya menghabiskan waktu hingga mengantuk dengan memainkan game browser bernama Travian. Kalau tidak main game, saya menulis omong kosong yang panjang. Berlembar-lembar kertas bekas cetakan laporan pekerjaan, atau bekas tugas kuliah ekstensi biasanya jadi korban omong kosong itu.

Tapi, ternyata waktu tidur yang diinginkan nggak datang juga. Terpaksa saya rebah di ranjang, lalu menyumpal lubang telinga dengan earphone dan memutar playlist "Bobo" di telepon pintar.

Playlist "Bobo" ini cenderung sendu. Kebanyakan sih lagu-lagu Padi. Lagu semacam "Cahaya Mata" atau "Seperti Kekasihku". Ada juga lagu-lagu lainnya yang tidak Indonesia, semisal Coldplay atau yang agak bernuansa santai--biasanya ini untuk nangkring di hammock--semacam Matchbox 20. Ya, maaf kalau pilihan lagunya agak tua. Alasannya cuma satu sih. Itu karena lagu-lagu yang sudah tua, nggak pernah lekang dimakan rayap.

Lagu sampai pada Sisir Tanah. Yang ini tentu nggak masuk jajaran "lagu tua" di playlist. Mas Danto meninabobokan saya dengan suara beratnya dan permainan gitar apik. Tapi, yang jadi masalah adalah, mendengar Mas Danto bernyanyi, saya malah jadi tak bisa tidur. Mata saya tetap terbuka, menerawang ke sudut kamar kost yang penuh poster. Di sela-sela Mas Danto bernyanyi, saya malah memikirkan soal hidup.

Mas Danto membereskan intro dan bernyanyi, "Seumpama sedih, hidup memang tugas manusia." 

Tiba-tiba saja saya ingat kehidupan. Padahal, biasanya saya cuma menjalani hari-hari seperti biasa, tanpa memikirkan remeh-temeh hidup. Kalau diingat-ingat, sudah empat bulan sejak saya memutuskan berhenti bekerja, dan kini saya tetap di kota orang. Bertahan hidup dengan apa yang saya punya dan belum mau pulang. Saya punya arti tersendiri bagi kata "merantau". Bagi saya, "merantau" adalah istilah yang saya gunakan untuk menunjukkan bahwa saya bisa pulang ke rumah dengan kemenangan atau minimal membawa kebahagiaan. Kalau saya pulang dengan keadaan serba 'pas' seperti ini, apa yang disebut menang? Entahlah. Sebut saya keras kepala. Sebut saya terlalu sinis pada sebuah kata bernama 'pulang', hingga saya memutuskan seperti ini.

Tapi, saya mulai menikmati ritme hidup saya ini. Hidup dengan bertahan di belantara kota yang ganas, serupa hutan sebenarnya. Saya kira, ritme hidup ini sedang mulai saya tata baik-baik, agar tetap berjalan baik. *ini gimana sih bahasanya?*

Namun, seperti permainan Travian, atau Clash of Clans, bertahan tentunya akan seimbang jika kita juga menyerang. Menyerang apa? Ya entahlah. Menyerang kawan mungkin, menyerang beberapa perusahaan raksasa yang menolakmu karena kamu perempuan atau hanya lulusan STM, atau mungkin menertawai mantan kolega dan pimpinanmu di kantor sebelumnya karena masih menunggak gajimu tapi kamu asyik-asyik saja hidup tanpa kekurangan. Nah, serangan seperti itulah yang bisa membuatmu tetap waras, walau di kota besar. Saya kadang menyebut ini secara sederhana sebagai 'rasa syukur'. Ya, tetap bersyukur dan menjalani hidup. Karena, seperti yang Mas Danto bilang, "Seumpama sedih, hidup memang tugas manusia." Tak berhenti di situ, Mas Danto bahkan menambahkan, "Jarang ada benar, takkan pernah ada tempat yang sungguh merdeka."

Itu juga bukan akhirnya, karena Mas Danto tetap bernyanyi. Ia mengingatkan kita bahwa hidup hanya harus terus dijalani, tanpa keluhan sana-sini. Menurutnya, "Seumpama lelah, masih tersisa banyak waktu. Menjelmakan mimpi, menggerakkan kawan, hadirkan perubahan."

Kawan-kawan yang bisa melewati masa sulit bersama, menjelmakan mimpi-mimpi dan mendatangkan damai. Hal ini yang paling penting, karena hanya dengan memiliki kawan setia, hidup yang sulit ini dapat ditertawakan dengan bahagia. Ingat sendiri bagaimana Danny dan para paisano melewati masa krisis kehidupan dengan meminum Anggur Torelli. Bagi mereka, lebih baik tidak makan daripada tidak minum anggur. Haha. Ini adalah sebuah perumpamaan, menurut saya. "Lebih baik mabuk, daripada menjadi waras di tengah kegilaan." Hal ini juga diamini oleh Khalil Gibran, yang bahkan puisinya disadur dalam drama Korea seputar pekerja kontrak, berjudul Misaeng.

"Mesti selalu mabuk. Terang sudah, itulah masalah satu-satunya. Agar tidak merasakan beban ngeri Sang Waktu yang meremukkan bahu serta merundukkan tubuhmu ke bumi, mestilah kau bermabuk-mabuk terus-terusan. Tetapi dengan apa? Dengan anggur, dengan puisi, dengan kebajikan, sesuka hatimu. Tetapi mabuklah!"

Mabuklah sesuka hatimu, begitu kata Khalil Gibran. Lebih baik tak merasakan beban ngeri Sang Waktu dengan mabuk bersama teman-teman, daripada sendirian mencari legenda hidup yang menurut orang-penting-yang-pernah-memimpinmu agar kau cari dan kau temukan. Padahal sejujurnya, hal itu bukanlah legenda hidup yang kau inginkan, melainkan tujuan si-pemimpin-yang-pernah-menahan-bayaran-kerjamu.  Padahal, kau jelas mengetahui apa yang menjadi legenda hidupmu, sebab memang benar, seperti kata mantan pemimpinmu itu, legenda hidup ternyata ada di halaman depan rumahmu sendiri, tanpa pernah kau cari ke mana-mana. Rupanya, legenda hidup itu seperti legenda hidup milik Santiago dalam The Alchemist, si gembala kambing yang memutuskan untuk berkelana hingga akhirnya kembali ke rumah dengan menemukan legenda hidup yang sejak dulu tertanam di pekarangan rumah.

Jadi, setelah kini saya berkelana mencari legenda hidup yang tidak pernah saya amini itu, saya akhirnya menemukan legenda hidup yang sejak dahulu tidak pernah beranjak ke mana-mana. Legenda hidup saya itu selalu ada di samping saya, bahkan di dalam kepala dan hati. Legenda hidup itu adalah dunia tulis-menulis yang saya pelajari sejak saya mulai menyadari bahwa saya terikat dengan dunia itu.

Ya sudah. Begitu saja akhirnya. Walau kini saya harus bersusah-susah dengan pilihan kecil yang akan menjadi sebuah pilihan besar--seperti kata Han Suk Yool si ahli mesin yang memutuskan jadi pekerja di perusahaan trading--saya akhirnya berbahagia karena menemukan legenda hidup di pekarangan rumah sendiri.

Posted on Monday, February 23, 2015 by Ayu Welirang

No comments

17 February 2015

***Disclaimer:
Dikarenakan template blog ini baru, dan ternyata tidak bisa menggunakan formatting fonts, jadi mohon maaf kalau ada kata yang harusnya tercetak miring, tidak tercetak miring.***

***

Ketika menulis "a so called writing tips" ini, saya baru saja mengirim naskah terbaru yang selesai ditulis dalam waktu kurang lebih dua bulan. Dimulai sejak akhir November, tapi baru benar-benar ditulis secara intens sejak Desember hingga pertengahan Februari ini. Ya, hitung sendiri lah ya, berapa bulannya, saya juga nggak yakin soalnya. :))

Nah, naskah ini adalah naskah yang saya tulis pasca resign dari pekerjaan saya sebagai System Analyst di salah satu perusahaan konsultasi IT. Untuk mengisi waktu luang yang luang sekali--tentunya sebelum saya mendapatkan proyek menulis trio untuk Monthly Series #2 Grasindo--saya mengerjakan novel ini.

Naskah ini sebetulnya adalah salah satu contoh bahwa ide menulis itu bukanlah ditunggu, melainkan diraih alias dipaksakan. Saya sedang menonton film tentang kenakalan remaja, dua seri dan berulang-ulang, ketika pada akhirnya ide naskah ini saya temukan. Sejenak, saya pause film yang sedang saya tonton dan saya menuliskan ide naskah di buku catatan yang biasa saya gunakan. Saya senang mencatat, karena saat menulis novel, saya tidak harus membuka jendela aplikasi lainnya hanya untuk melihat outline atau melihat garis besar cerita yang saya buat. Kalau ada di buku catatan, sambil menulis, saya masih bisa membaca garis besar cerita melalui buku catatan.

Naskah yang idenya saya cari-cari ini, akhirnya menemukan awal dan akhir. Bagaimana konflik dalam cerita diawali, dan bagaimana cara menyelesaikannya. Hingga bagian awal ditulis, saya belum menentukan seperti apa bagian tengah cerita. Nah, oleh karena itu, kehadiran outline sangat diperlukan. Berbekal pengetahuan minim dan mencari di dunia maya, akhirnya saya mengkombinasikan beberapa tips mengenai pembuatan outline dari penulis yang sudah lebih lama melanglangbuana di dunia kepenulisan. Setelah ilmu itu saya cerna, saya mencoba untuk mencatat outline singkat di buku catatan.

Mulanya, outline ini hanya terdiri dari sekian bab, juga bagaimana epilog akan mengakhiri cerita. Namun, seiring perkembangan cerita yang saya tulis, ternyata ada beberapa kebutuhan adegan maupun plot lain untuk menambah kekayaan cerita. Maka dari itu, saya harus merombak beberapa adegan dalam bab tertentu dan menukarnya ke bab lain. Dengan buku catatan, saya tinggal membuat panah-panah untuk mengarahkan bab yang ditukar itu dan menghubungkannya dengan bab yang bersangkutan. Selain itu, penambahan bab juga saya tuliskan garis besarnya, hingga ketika saya lupa, penambahan itu sudah tercatat di buku catatan.

Nah, ide yang saya cari-cari ini, akhirnya bisa membuat saya merasa puas, apalagi saat saya berhasil menyelesaikannya. Dengan bantuan outline, saya jadi lebih mudah mengembangkan ide yang datang karena saya paksa untuk datang, bukan karena saya tunggu. Kalau saya tunggu, bisa jadi malah tidak datang ide sama sekali. Hehe.

klik untuk memperbesar gambar

Ketika pengalaman ini saya tulis di blog, saya sudah mengirimkan naskah utuhnya ke salah satu penerbit dan sekarang mungkin sedang dalam proses evaluasi oleh penerbit. Naskah ini kira-kira terdiri dari 25 bab utuh, dengan prolog dan epilog. Ada sekitar 228 halaman yang berkembang dari 170 halaman karena faktor-faktor yang saya sebutkan pada paragraf di atas. Sekarang saya tinggal berdoa, semoga memang yang terbaik yang akan terjadi. Saya juga tidak sabar ingin menunjukkan tentang dunia yang saya tuliskan dalam naskah ini, kepada para pembaca yang mungkin akan menemukannya.

Saya percaya, setiap kisah dalam fiksi, akan menemukan pembacanya masing-masing. Banyak ataupun tidak, itu tak jadi soal. Yang jelas, saya tetap senang saat menyelesaikan naskah ini dan menikmati proses menulisnya.

Doakan saja ya! :)

Posted on Tuesday, February 17, 2015 by Ayu Welirang

2 comments

09 February 2015

beli di sini: PengenBuku.net | SCOOP | BukaBuku

[judul] Februari: Ecstasy
[penerbit] Grasindo Publisher
[jenis] Novel
[genre] Romance Thriller
[terbit] 09 Februari 2015
[tebal] 200 halaman

Mayang
Napasku memburu. Bayangan Nugie mati di tanganku mulai berputar. Bagaimana aku bisa membunuh dia? Aku tumbuh besar bersamanya. Aku mencintainya.

Nugie
Joya terus menatapku. Kutatap dia jauh lebih dalam, bila perlu sampai menembus harinya. Biar aku bisa menatap di sana. Ya, aku harus bisa menguasai Joya.

Joya
Kubakar ujung lintingan yang lebih besar, kuisap dalam-dalam asap organik itu. Sejenak aku lupa akan Nugie dan Mayang. Kalau aku boleh meminta, aku ingin melupa semuanya.

***

Mayang, Nugie dan Joya dicurigai sebagai pembunuh Sukoco, Sang Pemimpin Geng dan juga merupakan ayah Nugie. Si kembar Mayang dan Joya dibesarkan Sukoco setelah pria itu membunuh kedua orang tua mereka 12 tahun lalu. Tapi semua orang juga tahu, Nugie sangat membenci ayahnya sendiri. Hanya ada satu pemimpin yang boleh menguasai seluruh rusun. Mereka bertiga hanya punya dua pilihan, membunuh atau terbunuh.

***

Kumpulan review Februari: Ecstasy dari para pembaca.

Posted on Monday, February 09, 2015 by Ayu Welirang

1 comment

08 February 2015

“Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi.” ― Helvy Tiana Rosa

***

Ternyata, banyak hal yang terjadi sejak saya iseng mencoba dunia kepenulisan. Berawal dari menulis omong kosong di blog pribadi, lalu masuk ke komunitas menulis dan terus menulis omong kosong yang lain. Tak cuma itu, tertawa sendiri dan berandai-andai tentang bayangan yang perlahan menjadi nyata. Kadang saya berpikir, benar ataukah tipu daya? 

Semua itu adalah suka-duka yang saya rasakan ketika mulai menulis. Menulis apapun. Sajak, curahan hati, ulasan yang 'sok nyeni dan tendensius', catatan harian, jurnal perjalanan, dan omong kosong. Dari semua itu, tentu saja omong kosong lah yang menempati urutan pertama. Sebut saja bahasa tenar omong kosong saya ini dengan 'fiksi'.

Tentu sudah banyak fiksi yang saya tulis. Semuanya berawal dari khayalan yang tinggi. Khayalan itu notabene adalah buah pikir saya yang kelewat liar. Saya ingin menjadi seorang astronot, maka saya tuliskan. Ingin menjadi seorang musisi yang ahli, saya tuliskan ke dalam fiksi-fiksi itu. Bahkan, saya ingin menjadi seorang yang menyukai sesama jenis, saya juga menuliskannya. Banyak karakter yang muncul seiring khayalan itu berkelana. Bahkan, kadang saya mendapati diri saya sedang tersenyum, ketika bercengkerama dengan tokoh-tokoh hasil buah pikir saya sendiri. Itulah sebabnya, El Doctorow berkata, "Writing is a socially acceptable form of schizophrenia." Dan 'mereka' yang hadir dalam setiap tulisan saya, membuat saya tidak pernah kesepian. Mereka selalu hidup. Seiring halaman dokumen yang terus terisi, mereka pun semakin kenyang. Mereka tak akan mati, kecuali saya menginginkannya. Mereka tetap ada di sana, meski saya bertambah usia. Hal itulah yang membuat saya semangat untuk terus menulis.

Lalu, hal apa lagi yang membuat saya bersemangat menulis?

Tentu saja banyak hal yang membuat saya bersemangat, dan menulis dengan gembira. Omong kosong yang banyak itu, kadang mengantarkan saya untuk bertemu dengan orang-orang tak terduga. Kadang, omong kosong itu juga dilirik oleh beberapa orang yang tertarik untuk menyebarkan sabda-sabda bohong yang saya tuangkan dalam halaman kosong. Dari sana, saya semakin bersemangat. Rupanya, ada juga orang yang menelan omong kosong itu. Justru, inilah titik di mana saya makin antusias, karena saya bisa mengetahui pikiran orang itu mengenai isi pikiran saya.

Selain itu, omong kosong mengantar saya pada pertemuan dengan dua penulis lainnya. Sejak pertemuann itu, kami sepakat untuk menulis omong kosong bertiga. Ditetapkan oleh Mbak Annes--salah satu rekan penulis--bahwa kami akan menulis romance-thriller. Wow! Ini sepertinya menyenangkan. Eksplorasi karakter tidak dibatasi, asal sesuai dengan tema dan garis besar cerita yang sudah disepakati bersama. Kami mengerjakan perjalanan hidup yang liar dan penuh darah, di sebuah rumah susun tua yang sudah tinggal tunggu roboh. Kira-kira, selama satu bulan, kami menggarap novel trio yang akan terbit pada bulan Februari ini. Setelah selesai, kami baca lagi karya kami. Ada rasa puas dan keanehan yang timbul. Bagi saya pribadi, ini adalah naskah yang paling cepat saya bereskan. Mungkin, karena dikerjakan oleh tiga orang, naskah ini jadi cepat selesai. Naskahnya pun dilempar ke editor yang bersangkutan, lalu kami melakukan koreksi di beberapa titik, sambil menunggu sampul yang didesain oleh pihak penerbit. Setelah semua prosesnya selesai, kami tinggal menunggu kemunculan 'dia', si calon bayi. Saya sendiri senang bukan main, dan saya menunggu hal yang paling ditunggu oleh mereka yang suka menulis.

Setiap orang yang suka menulis, pasti menunggu hasil tulisannya berada di tangan pembaca. Banyak faktor yang membuat senang, tapi yang ada di atas segalanya adalah ketika tulisan atau karya menemukan pembacanya sendiri. Sebagai seseorang yang menulis karya itu, tentu saya menilai secara subjektif. Tapi, ketika saya memposisikan diri sebagai pembaca, penilaian saya sendiri menjadi objektif. Ada beberapa adegan yang menurut saya tidak efektif, tapi saya bahkan tidak menyadarinya ketika menulis hal itu. Dan setelah begini, saya tentu jadi terpacu untuk menulis omong kosong lebih banyak dan lebih baik lagi. Jika saya saja bisa menemukan hal-hal yang kurang, apalagi pembaca lainnya?

*numpang promo*
Ecstasy di...
Ki-Ka: Gramedia Grand Indonesia, Gramedia Merdeka Bandung, Gramedia Mega Mall Bekasi

Bagi saya, kelahiran karya yang saya tulis adalah kesenangan yang luar biasa. Seluruh jerih payah yang saya berikan untuk karya tersebut, terbayar lunas setelah karya itu sudah 'live'. Saya bahkan sering menjelma seorang yang sebut saja 'norak', menjelang hari lahirnya tulisan saya. Saya sering menanyakan pada teman-teman di berbagai kota, apakah novel atau buku saya sudah ada di sana? Kalau ternyata sudah muncul, bahkan sebelum tanggal kemunculannya, saya jadi makin senang. Saya juga sering melakukan promosi, dengan mengirim foto-foto novel tersebut dari toko buku yang berbeda, ke beberapa jejaring sosial. Anggaplah saya norak, saya tidak peduli. Rasa puas dan kegembiraan ini, mungkin hanya bisa dirasakan oleh orang yang menulisnya. Euforia tentu berbeda saat karya tersebut diterima penikmat karya. 

Dari semua kesenangan dan pengalaman itu, saya jadi kecanduan untuk terus menulis omong kosong. Kelak, saya akan menulis omong kosong yang lebih besar, yang lebih memikat, menulis sendirian, atau bahkan menulis beramai-ramai. Saya ingin tahu rasanya menulis omong kosong dalam medium dan pencapaian yang berbeda.


Posted on Sunday, February 08, 2015 by Ayu Welirang

3 comments

03 February 2015

Kang Komar

"Ngapain kamu ke sini?" ujar Kang Komar--si preman pasar--pada pemuda beranting hitam di hadapannya.

Pemuda itu lalu menjawab sambil cengengesan. "Saya siap untuk gabung lagi Kang."

Kang Komar pun melengos sedikit, lalu menyindir pemuda itu. "Katanya lagi merintis usaha dagang cilok."

"Bangkrut, Kang."

"Masa baru merintis udah bangkrut lagi? Ya udah, karena kamu mau gabung lagi, saya kasih misi pertama buat kamu."

Si pemuda tidak menjawab, hanya memperhatikan Kang Komar yang rambutnya keriting ala Candil Seurieus itu. Si pemuda terlihat antusias. Namun dengan sekali tebas, Kang Komar berkata, "Nah, sekarang beliin kopi!"

Si pemuda melongo. Mau tak mau, ia melangkah dari tempat nongkrong preman menuju warung. Misi pertama, membeli kopi untuk Kang Komar.

***

Penggalan cerita di atas adalah salah satu adegan antara Kang Komar dan bawahannya dalam serial televisi Preman Pensiun. Kang Komar sendiri adalah salah satu preman yang berada di bawah kepemimpinan Kang Mus atau Kang Muslihat. Sejak Kang Bahar (Didi Petet) memutuskan untuk tidak lagi turun ke jalan, hanya di rumah saja dan menyerahkan kepemimpinan 'lapangan' kepada Kang Mus, Kang Mus yang kini turun tangan membenahi kekacauan yang disebabkan oleh preman-preman di bawah kelompok Kang Bahar.

Kang Mus (kiri) dan Kang Bahar (kanan)

Preman Pensiun dihadirkan setiap hari, dan ketika sempat menonton televisi, saya tak sengaja menontonnya. Sebenarnya, sebelum serial keluarga ini tayang di salah satu televisi swasta Indonesia, saya sudah melihat iklannya. Melihat beberapa tempat di dalam serial itu, saya merasa familiar. Dan benar saja, ketika serialnya tayang perdana, suara angklung khas Jawa Barat terdengar beberapa kali di latar musiknya. Wah, tempat syutingnya juga benar-benar familiar, Bandung dan sekitarnya.

Jamal 'Koboy' - Preman Terminal
Jika pada masa kecil dulu, saya menonton serial keluarga seperti Si Doel atau Keluarga Cemara, di tahun 2015 ini, saya cukup senang karena akhirnya ada serial atau sebut saja 'sinetron' yang tidak menyebalkan seperti sinetron televisi kebanyakan. Serial keluarga semacam ini sudah saya nantikan sekian lama, sejak televisi diboikot oleh sinetron yang membuat saya malas menonton televisi. Sejak Preman Pensiun mengisi layar kaca, saya jadi kembali menyukai televisi, tentunya hanya untuk serial itu.

Bagi saya, Preman Pensiun tidak menjual hal yang muluk-muluk. Malah, bisa saya katakan bahwa serial ini begitu realistis. Adegan, tempat, dan dialog yang sederhana itu kadang malah membuat saya ikut berpikir. Bagi saya, Kang Bahar, Kang Mus, Kang Komar, dan preman lainnya adalah Robin Hood. Mereka hanya mengambil jatah keamanan yang mereka kira perlu. Mereka tidak mengganggu orang, tidak menyakiti orang, dan mereka hidup apa adanya. Mereka preman yang manusiawi. Lagipula, dibandingkan sinetron remaja yang agak menyedihkan dan tidak tepat sasaran, serial ini saya rasa lebih baik. Lebih baiknya itu berkali-kali lipat. Selain tontonannya ringan, cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari, pesan moral yang dimunculkan Preman Pensiun ini juga tinggi. Serial seperti inilah yang seharusnya banyak dimunculkan, daripada sinetron. Tingkat konsumtif dan kelahiran remaja 'salah gaul' yang muncul karena tontonan sinetron remaja yang salah kaprah, bisa diminimalisir dengan memunculkan serial serupa Preman Pensiun lebih banyak lagi.

Saya jadi menaruh harapan yang cukup kepada stasiun televisi satu ini (meski tidak terlalu tinggi karena ekspektasi berlebihan bisa menghancurkan). Saya harap ke depannya stasiun televisi ini menampilkan lebih banyak lagi serial yang memperkaya khazanah serial keluarga khas Indonesia. Tak melulu jual harapan, tak melulu percintaan, tak melulu adu domba. Serial keluarga itu ya benar-benar cerita keluarga. Dekat dengan yang menonton, menyerempet kehidupan sehari-hari, realistis, dan pastinya bernilai moral tinggi.

Oh ya, posting blog ini hanya ulasan semata. Tidak ada unsur promosi atau apapun. Yah, meskipun nama stasiun televisinya kelihatan sedikit di gambar postingnya. Adanya cuma gambar itu sih di google images.

Buat yang belum nonton, selamat menonton!

Posted on Tuesday, February 03, 2015 by Ayu Welirang

7 comments