24 January 2015

Judul: Katastrofa
Penulis: Jodhi P. Giriarso
Penerbit: Moka Media
Tebal: 360 halaman, paperback
ISBN: 97979599082
Tokoh: Milan, Youri, Reza, Savo, Harsya, Dilla, Paris, Mena, Haris, Vandy, Andini, Ratih, Prof. Anggito, Arif, dll (baca sendiri yaa)

Profesor Anggito menghilang. Di saat yang yang bersamaan dua orang asing terbunuh secara brutal, dan sekelompok orang diduga hendak mengulangi fenomena Tahun Tanpa Musim Panas.

Seorang pria yang dibakar dendam.
Wartawan dengan keingintahuan yang bisa melahap bison.
Polisi dengan kebanggaan tinggi dan karier cemerlang.
Peneliti yang sedang bersiap berangkat ke Italia ketika ia harus mengejar sekelompok orang dengan misi mengerikan.
Perempuan cantik mengikuti petunjuk yang membawanya pada petualangan yang harus dibayar mahal oleh pasukan elitnya.

Mereka bersilangan jalan, memulai dari berbagai tempat yang berbeda: namun bertemu pada satu titik yang sama... Berkelindan dengan hasrat akan kekuasaan, mereka harus menghentikan segala upaya penghancuran Indonesia.

***

Cukup lama waktu yang saya tempuh untuk menyelesaikan novel thriller ini. Secara keseluruhan, saya memberi rate 4.5 untuk novel ini. Ulasan ini sendiri, sebenarnya hanya saya copy paste dari halaman Goodreads saya. Yah, hitung-hitung isi blog.

Novel ini bercerita tentang sekumpulan orang yang berkumpul dan berlomba-lomba untuk menyelesaikan teka-teki konspirasi yang nantinya mengerucut pada satu pihak. Saya sedikit teringat dengan drama Korea yang berjudul "Ghost", di mana sekumpulan orang yang berbeda latar belakang mencoba untuk melacak kejahatan dunia maya atau cyber crime yang mengerucut pada salah satu orang yang membuat ledakan kejahatan dunia maya itu hanya untuk satu tujuan. Kadang, saya jadi ingat juga dengan naskah novel saya yang masih saya rombak ulang dan berisi kisah dengan tema serupa. Balas dendam, konspirasi, politik, dan kejar-mengejar penjahat yang tak tersentuh. Yah begitulah, jatuhnya saya ke dunia thriller membuat saya senang membaca novel lain yang bergenre serupa dengan aksi heroik dan kemunculan villain di kisah-kisahnya sebagai penggerak alur. Saya juga berencana membuat novel yang benar-benar thrilling, sehingga saya perlu mempelajari thriller ala Indonesia. Dan satu hal yang saya dapat dari Katastrofa adalah: this is really thrilling, Man! Hahaha. Meski di awal-awal saya sempat kebingungan mempelajari tokoh-tokoh yang saya pikir hanya muncul sekali lewat saja, tapi ternyata tokoh-tokoh itu rupanya akan saling berhubungan dan saling bersinggungan. 

[*] Membaca Katastrofa, Seperti Merangkai Puzzle
Membaca novel ini, seperti sedang merangkai puzzle yang rumit atau bermain game "memories" bersama Pou. Mainan semacam itu membutuhkan ingatan fotografik--setidaknya bagi saya. Kadang, saya hilang acuan di tengah cerita, sehingga harus menengok bagian puzzle yang lainnya terlebih dahulu. Setelah memastikan bahwa tempat puzzle itu sesuai dengan potongannya, saya pun baru melanjutkan ke cerita berikutnya. Namun, saya acungkan jempol buat penulis novel ini, karena bisa membuat persinggungan antar tokoh ini tidak terkesan memaksakan, malah benar-benar rapi strukturnya. Pada akhirnya, saya pun berhasil menyelesaikan novel ini dengan baik, meski akhir cerita menyisakan komentar dari adik saya yang duluan menyelesaikan novel ini ketika teronggok di meja makan rumah saya. Adik saya berkomentar, "Yah, terakhirnya gantung!" Begitu katanya. Saya hanya tertawa karena saya sendiri suka sekali membuat ending yang "ya-udahlah-gitu-aja-mau-diapain-lagi". Kira-kira begitu.

Karena review ini semacam curhat personal saya, kini saya coba menarik plus dan minus dari novel ini, yang pastinya akan menyenangkan juga dibeberkan, terutama untuk saya pribadi.

(+) Lagi-lagi Mokabuku mencuri perhatian dengan menerbitkan novel dengan kualitas sampul yang baik. Sampulnya lucu, eye catching, meski jadi agak kurang thrilling. Tapi, nggak apa-apa sih menurut saya. Malah, daya jual sebuah buku itu kan terletak dari sampulnya. Betul tidak?
(+) Plotnya asyik. Aksi-aksi para tokoh dan persinggungan tokoh juga asyik. Jadi, penokohan yang banyak ini setidaknya ada artinya, bukan cuma sekedar menempelkan tokoh di sembarang tempat untuk dibuang lagi.
(+) Pembagian jadi tiga part, dengan bab yang disusun di dalam part tersebut masih enak diikuti. Ini salah satu trik sih sepertinya, untuk membagi banyak cerita menjadi tidak buang-buang bab. Karena, kalau ditulis tanpa part dan hanya menuliskan per bab pasti akan menyebalkan juga, mengingat bab di dalam novel ini sampai 80 lebih.
(+) Yah, pokoknya asyik, meski kadang saya harus bulak-balik halaman lagi untuk membereskan bab berikutnya, karena saya cepat lupa.
(+) Nama tokohnya keren-keren. Kadang bertanya-tanya, benarkah semua orang di dalam novel ini lahir di Indonesia? Hehe. Nama-nama mereka seperti "bule".

(-) Tokoh figurannya banyak juga. Seperti orang-orang yang mati karena geng motor, lalu si tokoh Fahmi yang ke Bali mencari Rahmi dan malah menjadi saksi mata kasus penembakan polisi, rasanya gimana gitu ya. Porsi dia di dalam bab itu kecil tapi dituliskan juga. Haruskah detail sampingan seperti itu ditulis? Hmmm.
(-) Ada beberapa cerita yang tiba-tiba terjadi, seperti kematian Mena dan hilangnya Savo atas kematian istrinya itu. Kalau cerita figuran saja dijelaskan dengan detail dalam bab tunggal, kenapa kisah tokoh utama malah hanya dikisahkan hanya sekilas saja? Untuk penekanan saja begitu? Kan, rasanya jadi ganjil. Tahu-tahu istrinya mati, sedangkan cerita penembakan polisi di Bali malah dibuat bab tersendiri. Gitu.
(-) Karena saya membaca novel ini dengan begitu cermat dan hati-hati, saya jadi menemukan beberapa typo. Di awal sih lancar tanpa typo, tapi di pertengahan ternyata ada typo juga. Seperti Harsya jadi Harysa, lalu ada typo untuk kata-kata apa ya? Lupa lagi. Pokoknya ada deh di tengah-tengah. *lupa halamannya* 
Tapi, typo ini masih dalam batas wajar kok, nggak mengurangi kenikmatan membaca. Wajaaar. Benar-benar wajaaaaaar. :D

Saya pikir, cuma itu sih yang mengganjal buat saya dan jadi minusnya novel ini. Selebihnya, novel ini cukup thrilling dan sangat memperkaya khazanah novel dengan genre lain di Indonesia--karena saya pikir di Indonesia terlalu banyak novel romanceyang begitu-begitu saja. Membaca ini saya mendapatkan perasaan yang sama seperti ketika saya membaca Metropolisnya Mbak Windry Ramadhina yang terbit jauh sebelum novel ini terbit. Tapi, saya rasa keduanya sama-sama bagus meski ceritanya berlatar belakang kisah yang berbeda.

Jadi, terima kasih buat Mas Jodhi P. Giriarso selaku penulis. Novel ini asyik. Berhubung saya sedang mempelajari naskah thriller Indonesia, saya jadi menikmati Katastrofa ini. Semoga, kelak Anda dapat menulis lagi novel yang lebih asyik dari ini. Sebagai pembaca--dan sama-sama penulis--thriller, saya dukung!

***

Posted on Saturday, January 24, 2015 by Ayu Welirang

2 comments

22 January 2015

“There is nothing to writing. All you do is sit down at a typewriter
and bleed.”  -- Ernest Hemingway

Ini adalah halaman "A So Called Writing Tips" yang saya buat karena iseng. Sebenarnya, hal-hal yang menyangkut tips penulisan itu, saya buat dalam rangka membagi pengalaman saya selama menulis. Karena saya adalah pemula dalam dunia penulisan fiksi dan bukan orang yang mempunyai prestasi maupun karya segudang, maka saya hanya akan membagi pengalaman pribadi ini pada teman-teman semua. Jadi, mohon untuk tidak mengAMINinya seperti teman-teman mengamini tips para penulis yang sudah melanglangbuana di angkasa sana. Da aku mah apa atuh.

Nah, karena ini tips yang muncul dari pengalaman, saya harap tips ini bisa membuka hati dan pikiran teman-teman ketika mengalami hal serupa, yaitu Writer's Block. Menurut pemahaman saya, writer's block adalah kondisi di mana tulisan-tulisan kita itu stuck atau mandek karena kehabisan ide, atau mungkin sedang bosan menulis, mungkin sedang galau (eh tapi biasanya galau itu salah satu stimulan yang baik juga sih untuk mulai menulis lagi), atau mungkin karena faktor lain yang nggak bisa dijabarkan semuanya di sini. Yang jelas, faktor-faktor itu membuat kita sulit untuk menuangkan lautan kata ke dalam "gayung". Hahaha. *apa sih* 

Terus, bagaimana kiat-kiat yang saya tempuh supaya writer's block ini nggak banyak bersarang di kepala saya? Atau, bagaimana caranya supaya naskah novel, karya tulis, atau malah SKRIPSI tidak berlama-lama di dalam hard drive dan berlumut hingga nyaris menjadi virus baru dalam dunia komputer? Nah, saya akan coba menjabarkan beberapa cara untuk menghindari atau malah melarikan diri dari writer's block yang mematikan fungsi-fungsi merangkai kata di dalam salah satu bagian otak kita. Dalam posting ini, ada beberapa stimulan yang sering kali saya gunakan ketika menghadapi fase writer's block. Stimulan ini ya semacam "thingy thing" yang bakal membantu untuk menstimulasi kinerja berpikir. Ini kesimpulan sembrono yang saya tarik sendiri ketika saya memakai cara-cara ini untuk lari dari writer's block. Tapi, percayalah! Ini bekerja lho! :D

Menonton Film
Satu cara yang saya tempuh untuk melarikan diri dari writer's block adalah dengan menonton berbelas-belas film yang cukup menginspirasi, baik dalam dan luar negeri. Film-film ini biasanya saya dapat dari mencuri data di hard drive teman, mencuri koneksi warung milkshake depan kost untuk download beberapa film, ataupun mencuri hal-hal lain yang berkaitan. Tapi, tenang saja. Saya nggak pernah mencuri DVD dari toko DVD bajakan di dekat kost kok. Hahaha. Sudah era torrent download, kenapa masih harus beli DVD? Long life piracy! Puja kulit kerang ajaib! :))

Nah, beberapa film yang saya tonton memang nggak semuanya menyentuh perasaan, bahkan nalar. Tapi, ada banyak juga film yang membuat saya terus mengulangnya, bahkan nggak bisa move on sampai beberapa hari ke depan. Ada juga yang sampai beberapa minggu ke depan. Film-film ini, biasanya saya perhatikan secara menyeluruh, karena dari film-film itu, saya bisa mendapatkan ide, penokohan, setting tempat, perasaan, bahkan situasi yang bisa dipelajari untuk dituangkan ke dalam beberapa karya fiksi yang sedang atau akan saya buat.

salah satu film yang susah bikin move on
dan memberi saya ide novel "Tifa"

Mendengar Musik

Mendengarkan musik keras-keras, dengan speaker sering membuat saya fokus kembali. Biasanya, setelah bosan mengetik, saya menyalakan pemutar musik dan memutar lagu-lagu di dalamnya secara random. Ada ribuan lagu di hard drive saya sehingga saya malas memilihnya, kecuali ingin membuat mixtape seperti yang nanti saya jelaskan di poin berikutnya. Kalau di poin ini, saya biasanya cukup mendengarkan lagu yang dipilihkan oleh pemutar musik secara shuffle. Nah, sambil ngopi denger musik. Sudah merasa fresh seperti sedia kala, saatnya lanjutkan tulisan! :D

Menyusun Playlist atau Mixtape

Lalu, di poin ini, apa bedanya dengan poin dua? Ada banget bedanya! Di poin ini, yang membedakan dengan mendengar musik random, ya jelas di bagian pembuatan playlist. Kadang, saya juga mengemasnya jadi mixtape yang utuh, berikut gambar-gambar yang mewakili. Kadang, saya upload ke cloud untuk diunduh secara bebas. Haha. Ini pembajakan memang, tapi mixtape ini semacam setting yang tepat untuk sebuah suasana. Misal, mixtape "A Rainy Day" untuk didengarkan saat hujan. Atau, salah satu mixtape saya, "Angin Juli", untuk didengarkan di bulan Juli yang berangin kering karena kemarau. Sambil duduk di jendela lantai dua rumah, saya memotret awan yang bergulung di langit biru Cimahi, dari atas genteng rumah saya. Lalu, saya edit sedemikian rupa (sederhana saja sih, karena saya nggak jago manipulasi gambar digital). Sudah itu, saya pilih lagu-lagu yang cocok dengan suasana saat itu dan mengemasnya bersama dengan liner notes dan gambar-gambar tadi. Sudah saya upload, saya dengarkan juga lagu itu dari pemutar musik saya. Jumlahnya tidak banyak. Biasanya saya hanya membuat mixtape itu dengan sepuluh lagu pilihan. Kadang, bisa sampai lima belas juga sih, tapi tidak pernah lebih dari itu karena lagu-lagu di dalamnya itu yang benar-benar touching aja yang saya pilih. Nah, mixtape ini biasanya saya dengarkan saat suasananya cocok. Saat menulis juga. Oh ya, saya lupa. Saya juga sedang menyusun mixtape untuk teman menulis, tapi nanti saya posting belakangan saja ya soalnya belum beres. Hehe. Kalau teman-teman agak ribet dengan mixtape, teman-teman buat playlist biasa saja. Itu lho, daftar putar lagu-lagu. Nggak perlu dibikin wah seperti mixtape juga nggak apa-apa. Yang penting, daftar lagu yang ingin diputar benar-benar daftar lagu yang sesuai dengan mood kala menulis.

Salah satu mixtape yang tadi saya sebutkan, dah pernah saya buat ada di sini. Silakan unduh: http://www.ayuwelirang.com/2014/07/mixtape-angin-juli.html

Browsing
Apalagi coba yang bisa membantu riset karya fiksi kita selain browsing di mesin pencari semacam Google? Saya banyak menulis hal-hal yang jauh di jangkauan, seperti ekspedisi gunung, perjalanan jauh, kunjungan ke negara lain, atau hal-hal lain seperti kisah alien misalnya. Nah, hal semacam ini kadang saya cari di buku-buku yang memuat tentang tema itu dan membahasnya. Tapi, kadang saya malas ke perpustakaan dan hanya ingin ada di rumah saja. Saat stuck pada riset atau tulisan yang ingin dibereskan tapi tak kunjung beres, bagaimana caranya coba untuk menghalaunya kalau saya tidak melakukan riset di bagian tertentu tulisan saya itu? Belum lagi, saya malas kemana-mana, lalu bagaimana nasibnya tulisan saya ini? Tentu cara termudah adalah dengan mengunjung situs mesin pencari. Berbekal koneksi internet minim pun, saya masih bisa berkeliling dunia lewat situs mesin pencari. Setelah browsing beberapa lama, biasanya akan ketemu juga hasil yang diinginkan. Hal-hal yang berkaitan dengan si novel yang nyaris berlumut pun, pasti akan ketemu. Selain untuk mencari data, browsing ini juga untuk bersenang-senang. Misalnya, mengumpulkan foto idola atau stalking orang gitu. :))

Membaca Manga
Ini salah satu kegiatan penting kala suntuk melanda saat sedang menulis sesuatu. Saya sih tentu banyak menulis karya fiksi akhir-akhir ini. Keinginan berkelana di dalam fiksi semakin besar dan saya mencoba untuk terus mengasah kemampuan menulis. Tapi, mau bagaimana lagi ketika writer's block itu datang? Satu-satunya kegiatan yang saya lakukan berjam-jam, berhari-hari, sampai jarang tidur itu ya ini. Mengunduh manga, atau membaca manga online di beberapa penyedia scan manga.

Beberapa bulan ke belakang, saya banyak membaca manga yang berkutat pada dunia action dan musik. Beberapa manga itu di antaranya Crows, Worst, turunan CrowsxWorst, dan Beck. Saya juga membaca Yowamushi Pedal dan manga-manga lainnya. Ini menyenangkan. Saya suka sekali dengan Crows dan Worst, juga turunannya itu. Saya malah agak susah move on sama beberapa tokoh di manga-manga itu. Saya kadung cinta sama Bouya Harumichi, Hiromi, Tsukimoto Mitsumasa, Kunou Ryuushin, Fujishiro Takumi, dan Bandou. Banyak juga sih yang lain. Tapi, cuma beberapa itu yang benar-benar melekat di hati. Selain karena fisik mereka yang dibuat "laki-laki banget", beberapa juga digambarkan memiliki sifat periang dan humoris. Duh, perempuan mana yang tidak jatuh cinta dengan tokoh macam itu? Hahaha. Saya jadi semangat menulis dan mereka juga saya tuangkan di penokohan karya-karya fiksi saya. Ciri-ciri fisik beberapa tokoh di novel maupun novelet yang saya tulis, agaknya menyerupai tokoh-tokoh tadi. Habis mau bagaimana lagi, mereka sudah kadung mendapat tempat di hati saya. Dengan menulis mereka dalam bentuk yang lain, mereka akan selamanya ada di sana. Jadi, saya tidak akan melupakan mereka.

paling atas: Bouya Harumichi! he's the man! :D

Streaming K-DRAMA
Teman-teman yang sangat hapal dan tahu kepribadian saya seperti apa, pasti langsung berkata, "Hah? Kamu suka K-DRAMA?" Mata mereka akan melotot, lalu tertawa dan geleng-geleng kepala. Banyak dari mereka yang mengenal saya sebagai pribadi yang aneh, sedikit maskulin, dan tidak ada romantis-romantisnya. Haha. Tentu hal ini sangat kontras dengan hobi streaming K-Drama. Tapi, percayalah! K-Drama ini banyak membantu saya dalam menstimulasi otak supaya bisa menulis. Berbagai plot, penokohan, tema cerita (meski akhirnya predictable juga), dan bagaimana cara tokoh-tokoh itu berinteraksi tanpa terkesan memaksa, benar-benar membantu saya dalam pengembangan outline novel menjadi cerita utuh yang saling menguatkan. Saya perlu banyak belajar, dan untuk menstimulasi itu semua, saya perlu menonton di samping membaca. Saya harus masuk ke dalam perasaan tokoh dan cerita. Satu-satunya cara ya dengan menonton K-Drama itu, karena K-Drama ini mudah sekali membuat saya sedih. Banyak K-Drama yang menarik, karena meski dalam drama itu ada love line, tema-tema yang disodorkan oleh drama Korea begitu beragam. Suatu cerita dibangun dengan latar belakang yang berbeda-beda. Misalnya, cerita tentang chef dalam Pasta atau Baker King Kim Tak Goo. Aksi para investigator dalam Ghost, H.I.T, atau Special Investigation Team. Kisah yang berbalut dendam, masa lalu kelam, atau kisah-kisah unik yang penuh humor. Nah, beberapa K-Drama ini saya tonton seperti orang kesetanan hingga akhirnya membantu saya menulis beberapa cerita yang sempat stuck karena pusing mau melanjutkan seperti apa.

beberapa drama korea yang saya suka

Mengobrol
Berbagi cerita dengan teman penulis atau dengan siapapun kadang menstimulasi pikiran kita juga. Dari obrolan-obrolan kecil, biasanya lahir ide baru maupun ilmu baru yang bisa diaplikasikan ke dalam berbagai tulisan. Jangan lupa untuk memperbanyak jaringan di dalam dunia penulisan fiksi, misalnya berteman dengan editor, anggota komunitas penulisan, bergabung dengan komunitas pembaca dan berinteraksi sebanyak mungkin dengan mereka. Dari mereka, biasanya akan ada pembicaraan yang kadang menyangkut struktur cerita, bagus-tidaknya novel atau cerita menurut standar mereka, ilmu tentang alur cerita, dan lain-lain. Nah, dari pembicaraan ini, kita akan mengetahui, karya bagaimana yang sedang mengalir di pasaran fiksi dan bagaimana kita harus menempatkan tulisan kita di dalam aliran tersebut.

Membaca Karya Teman
Ini yang paling sering saya lakukan. Saya melakukan pertemanan dengan beberapa penulis yang juga sudah lebih dulu melanglangbuana dan menurut saya, karyanya patut mendapat apresiasi. Saya menghargai setiap orang yang berusaha, apalagi dalam dunia tulis-menulis fiksi. Tidak banyak orang yang bisa menghadirkan cerita-cerita dengan tema lain dan dituturkan dengan begitu lancar. Saya menikmati proses membaca karya seperti itu, apalagi kalau karya itu datang dari teman-teman. Tidak hanya dari karya mereka yang sudah terbit saja, kadang saya membaca juga tulisan yang mereka muat di situs pribadi mereka juga. Dengan begitu, saya bisa mengikuti perkembangan menulis mereka untuk membantu perkembangan menulis saya sendiri. Saat writer's block, membaca memang jadi salah satu stimulan yang bisa diandalkan. Itulah alasannya mengapa saya suka sekali membeli buku. Hahaha. Bahkan, kalau dibilang pelit, saya ini benar-benar pelit selain urusan dengan buku. :D

Nah, kira-kira, inilah daftar kegiatan yang saya lakukan ketika sedang dilanda writer's block. Dengan kegiatan ini, kadang saya mampu mengatasi writer's block itu dengan cepat dan saya bisa melanjutkan naskah-naskah maupun tulisan-tulisan lainnya sehingga tidak berkerak di dalam hard drive saya. Teman-teman bisa mencobanya juga, walaupun saya tidak tahu pasti apakah efektif dan berfungsi pada teman-teman, karena tulisan ini memang berdasarkan pengalaman pribadi saya. Biar begitu, semoga tulisan ini bisa bermanfaat buat teman-teman. Yah, mungkin ada beberapa yang nyantol sama teman-teman.

Posted on Thursday, January 22, 2015 by Ayu Welirang

3 comments

17 January 2015

Sudah lama enggak blogging, karena saya banyak sekali kerjaan enggak jelas yang dikerjakan. Hahaha. Tapi, beberapa di antaranya sih kerjaan jelas, semacam menulis naskah novel misalnya. Jadi, posting promosi ini akan menjadi posting pertama saya di tahun 2015.

Sejak November sampai pertengahan Desember tahun kemarin--kurang lebih satu bulan--saya menyelesaikan proyek penulisan untuk Monthly Series Grasindo bersama Mbak Devania Annesya dan Bang Ari Keling. Dua penulis yang saya anggap kakak sendiri ini--karena memang lebih tua mereka daripada saya--mengajak saya untuk masuk ke dalam proyek romance-thriller yang sudah dipesan Grasindo untuk terbit awal Februari. Jadi, Mbak Annes ceritanya mampir via pesan Facebook dan mengajak saya untuk terlibat dalam proyek ini, karena memang ditulis oleh tiga orang. Mbak Annes mengajak saya karena menurutnya 7 Divisi cukup thrilling, dan saya jadi sasarannya untuk setting tempat kejadian di dalam novel. Saya mengiyakan dan mulailah kami bekerja.

Berhubung saya juga pada saat proyek ini sedang menganggur pasca resign, saya jadi agak lama menulis. Bukan karena apa-apa, tapi cuma karena koneksi internet yang kadang ada kadang tidak (karena internetnya numpang di warung depan kost). Jadi, bagian cerita saya yang sudah disusun, belum sempat dikirim ke email berantai antara saya, Mbak Annes, dan Bang Ari.

Sedikit sneak-peek, di novel Februari: Ecstasy ini, saya menulis sebagai Joya Pramoedya, seorang perempuan kembaran Mayang Pramoedya yang akan menjadi tokoh sentral di novel ini. Ide cerita awal mulanya percintaan dan thriller yang dimunculkan. Secara tiba-tiba, saya mencetuskan latarnya di rumah susun, dan ceritanya seputar pengedar narkoba. Masalah romance, karena bukan dunia saya, jadilah muncul ide seperti yang diutarakan oleh Mbak Annes. Nah, jadi novel ini benar-benar kerja keras kami bertiga yang menyatukan ide masing-masing untuk membuat kisah percintaan berbalut soft-thriller. Saya pikir, ini akan jadi sesuatu yang benar-benar mengesankan dan challenging buat saya. Sebelumnya, saya belum pernah menulis novel keroyokan, kecuali kumpulan cerita pendek yang isi ceritanya jelas berbeda-beda. Eh, pernah ding dulu, menulis keroyokan berdua dengan teman saya Ida Haryati, dengan dua tokoh berbeda dan isinya berbau feminisme. Tapi, naskah itu belum purna, karena harus ada pembaruan di sana-sini. Jadi, naskah itu terbengkalai (mungkin akan dilanjutkan kapan-kapan).

Nah, singkatnya, berbekal outline dari Mbak Annes untuk pengerjaan per bab, saya pun menulis. Dengan outline itu, saya jadi tidak harus menunggu cerita sebelumnya, karena cerita mengacu pada outline. Dan saya baru sadar sekarang, ternyata menulis dengan outline memang sangat membantu! Duh, ke mana saja saya selama ini? Hahaha. Mungkin, ke depannya saya akan mempraktekkan outline ini untuk beberapa naskah saya yang belum terselesaikan. Cayo!

bloody pinky for february! :))

Setelah semua selesai, maka Mbak Annes pun mengirim draft final pada editor yang memesan kami. *ceileh dipesan, kayak apaan aja* Beberapa hari kemudian, revisi awal pun muncul. Kami segera mengerjakan bagian yang perlu direvisi dan kami kirim ulang. Lalu, hasil proofread dari revisi terakhir pun muncul, beserta desain sampul yang dikirimkan editor dalam bentuk jpeg. Saya sendiri senang bukan main! Ini kali pertama saya menulis romance dan desain sampulnya benar-benar berbau cinta yang kelam. Hahahaha! Warna merah jambu agak kelam gitu, dengan kata-kata yang mewarnai bentuk hati. Saat saya cek ke akun twitter Grasindo, rupanya untuk Monthly Series #1 bulan Januari ini, warnanya merah darah, dengan ilustrasi kata-kata yang membentuk pistol. Wah, jadi merasa gimana gitu yaaa, ada di salah satu Monthly Series itu, untuk kategori romance-thriller.

Saya jadi tidak sabar menunggu 9 Februari nanti. Februari: Ecstasy akan rilis pada tanggal tersebut. Sebesar saya mencintai proses menulisnya, semoga saya pun mencintai proses membaca karya sendiri. Yang benar-benar ditunggu para penulis tentu adalah hasil jadi dari karyanya itu bukan? Saya benar-benar excited menunggu karya terbaru ini dalam proyek keroyokan.

Bagaimana dengan teman-teman? Siapkah menerima romance-thriller ini Februari nanti?

Posted on Saturday, January 17, 2015 by Ayu Welirang

6 comments

19 November 2014

"Tentang Rumahku"
Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini.
Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari keseharian hidup ketiganya, menjadi nafas yang familiar bagi saya, sebab Tentang Rumahku kali ini benar-benar bercerita tentang kerinduan akan kata “pulang”. Dan perbincangan mengenai suatu kepulangan benar-benar sensitif, apalagi bagi perantau seperti saya. Hiks. K
Jika di album-album sebelumnya, berikut single yang sempat diluncurkan oleh DDH agak terdengar lebih bersemangat dan termuat pesan pemujaan terhadap alam raya—semesta beserta isinya—album yang satu ini lebih terkesan sederhana dan terdengar optimis. Kita akan berkontemplasi seiring mendengarkan lirik-lirik dalam Tentang Rumahku yang mengalir santai dan secara garis besar bercerita tentang kerinduan pada rumah. Saya percaya, folks dengan lirik-lirik bak puisi semacam ini, akan sangat mengena di hati pendengar. Saya bahkan selalu membawa Tentang Rumahku ke mana-mana. Sebab, ketika saya ingat “rumah”, maka lagu-lagu di dalam album ini akan sedikit mengobati kerinduan terhadap rumah semasa kecil saya yang kini agak jarang disinggahi.
Setelah memble-memble bicara tentang rumah, sekarang lebih baik saya coba ulas satu per satu lagu di dalam Tentang Rumahku.

Posted on Wednesday, November 19, 2014 by Ayu Welirang

2 comments

16 November 2014

Mungkin sudah lama rasanya saya tidak mengalami waktu-waktu berkualitas bersama keluarga. Kehidupan mencari sesendok berlian untuk makan di belantara ibukota yang ganas, telah menumpulkan segenap keinginan saya untuk pulang ke rumah. Padahal, mau ke mana lagi kaki berlari, ketika Jakarta telah menggerus nalar dan perasaan saya dan mengubah saya menjadi robot? 

Datang waktu, di mana doa-doa saya dikabulkan. Resign yang tidak pernah terjawab--mungkin karena bosnya takut ditagih janji dan gaji--hingga saya memutuskan kabur langsung dari pekerjaan. Mengapa? Padahal, banyak yang berkata bahwa bekerja di tempat saya yang terakhir itu sudah jadi pekerjaan paling menyenangkan. Tapi, buat saya sih tidak begitu. Duapuluhempat jam berkutat di kantor, makan tidur dan mencuci di kantor, sampai-sampai tidur saya berubah dari malam ke pagi, membuat saya lelah. Apalagi, di Jakarta tidak ada teman. Rasanya sudah macam Edward Scissorhand di kastil es. Sendirian dan menjadi dingin, bahkan mati rasa.

Maka, setelah resign saya pun pulang ke rumah, Cimahi yang sejuk. Cimahi yang sehari-hari adalah tawa, dan gosip Ibu-Ibu tetangga. Cimahi yang bisa membuat saya sedikit menjadi manusia normal--meski tetap tertidur pasca dua pagi terlewati. Lagipula, di sini semuanya serba menyenangkan. Tak perlu bermacet-macetan, tak perlu mengalami penuaan dini di jalanan, bahkan tak perlu mengantri di warteg untuk sekedar menebus rasa lapar. Yang saya cintai dari Cimahi adalah, meski tempat ini pelan-pelan mulai ditinggalkan para pendahulu dan teman-teman sebaya saya, tapi di tempat inilah masih berdiri rumah yang sebenar-benarnya. Ya begitulah, rumah masa kecil yang kini mulai dipadati pendatang baru, dan dipadati perumahan baru mulai dari kaki gunung Burangrang sampai ke Cipageran.

Seperti Minggu pagi ini. Begitu banyak hal sederhana yang menyenangkan. Minggu pagi yang mendung, yang membuat orang-orang malas bangun, kecuali Ibu saya. Sepagian, Ibu sudah berkutat di dapur, memasak sarapan bagi penghuni rumah termasuk saya. Sementara Bapak, beliau sudah terbangun dan membuka komputer personal milik adik saya. Bapak sedang mengusahakan penghasilan tambahan, karena adik saya sudah bersiap masuk kuliah dan perlu biaya ekstra untuk mewujudkannya. Dan saya? Saya terbangun pukul sebelas siang, karena sebelumnya baru tertidur pukul empat pagi setelah mengerjakan--entah apa pula yang saya kerjakan. 

Begitu nikmatnya bangun kali ini. Setelah mencuci muka dan menyeduh kopi hitam favorit--yang bubuknya saya curi dari teman--saya pun duduk di meja makan. Saya lupa satu hal. Ibadah membaca koran Minggu belum dilakukan, maka saya pun menitipkan uang pada Bapak yang hendak keluar, agar sekalian membeli koran Minggu. Bapak lantas kembali, dengan koran Pikiran Rakyat dan Kompas di tangan.

Setelah sarapan bersama yang seadanya tapi nikmat--apalagi karena ada petai di satu piring besar dan sambal buatan Ibu yang paling nikmat sekompleks Cipageran, saya pun menuju lantai atas untuk melanjutkan ibadah Minggu.

Kegiatan berikutnya adalah, saya, adik, dan Ibu secara bergantian mengisi TTS edisi hari Minggu ini, dari koran yang sudah dibeli tadi pagi, setelah sebelumnya saya menghabiskan kolom seni di koran Kompas yang memunculkan cerpen Seno Gumira dan puisi Joko Pinurbo. Menurut saya secara pribadi--dan diamini oleh Ibu--keluarga kami memang cukup aneh. Jika kegiatan keluarga lain di hari Minggu adalah berjalan-jalan ke Bandung kota atau menghabiskan uang di pusat perbelanjaan, naik kuda di De' Ranch dan segelintir hiburan lain yang tidak ada di Cimahi, maka keluarga saya berbeda. Waktu-waktu berkualitas keluarga kami adalah membaca koran pagi dan mengisi TTS. Bahkan, adik saya menyempatkan diri untuk googling bahasa Jepang ketika di dalam kolom mendatar ada beberapa jawaban yang mengharuskan kami menjawab dalam bahasa Jepang. Ah, sungguh aneh memang. Apa masih ada remaja seusia adik saya yang rela membuka kamus bahasa Jepang hanya untuk menjawab TTS?

Setelah TTS selesai diisi, adik saya malah beralih ke halaman Sudoku koran Pikiran Rakyat. Sudoku adalah teka-teki yang lebih sulit lagi daripada TTS, sebab di dalam sana, kita harus memikirkan probabilitas angka-angka dan perulangannya. Mendatar, menurun, bahkan yang satu ruas kotak kecil di dalam kotak besar. Saya ingat teman saya pernah menegur saya yang kala itu bermain sudoku di dalam telepon genggam. Ia berkata, "Ih, ngapain sih nggak ada kerjaan gitu main sudoku."

Saya tidak menggubrisnya kala itu dan terus berkutat di dalam sudoku sampai saya menang terus dan bisa beralih ke level "Hard". Bagi sebagian orang, mungkin bermain sudoku sebagai hiburan stress malah hanya menambah tingkat stress menjadi lebih tinggi. Tapi, tidak bagi saya dan adik saya. Sudoku adalah permainan yang menyenangkan.

Seperti itulah, hari Minggu ini dilewati tanpa pergi ke mana-mana. Bahkan, sambil menulis ini, saya belum sempat mandi. Ibu saya sudah merongrong di lantai bawah, begitu cerewetnya. Maka, dengan berat hati, saya harus mengakhiri posting siang ini, untuk menyapa air dingin yang muncul secara alami di Cimahi.

Selamat siang! Selamat menangisi akhir pekan!


Cipageran-Cimahi, 16 November 2014

Posted on Sunday, November 16, 2014 by Ayu Welirang

2 comments

10 November 2014

images source from here

Saya mengingat suatu hari pada saat saya duduk sendiri di pojok kereta rel listrik, sebuah transportasi publik yang menghubungkan saya dengan begitu efisien, dari Jakarta menuju Bogor. Pada saat itu, kondisi kereta yang saya tumpangi tidak begitu penuh, namun bisa dibilang cukup padat untuk ukuran siang hari. Saya terduduk di kursi dalam gerbong wanita, di pojok yang dekat dengan sambungan kereta alias bordes. Di sana, saya bersandar.

Beberapa saat kemudian, untuk mengatasi kejenuhan yang melanda, saya mengeluarkan sebuah buku yang bisa dibilang sangat tebal untuk ukuran 'baca santai di dalam kereta'. Karena memang saya ingin menamatkan buku yang asyik itu, maka buku itu sedang mendapat giliran untuk dibawa kemana-mana. Beberapa menit membaca dan membolak-balik halaman, rupanya saya diperhatikan orang. Entah apakah saya yang terlalu percaya diri, entah memang orang-orang melihat saya sebagai alien, saya tak tahu pasti sebab saya membagi perhatian saya pada buku dan pada sedikit lirikan mata saya ke orang-orang di gerbong wanita itu.

Jika alien memang ada, dan spesiesnya membaur di masyarakat, mungkin mereka menganggap saya adalah salah satunya. Adalah tabu, ihwal membaca buku dewasa ini. Di sekian puluh atau sekian ratus manusia dalam gerbong, dapat dipastikan, semua menunduk melihat sebuah layar tipis yang menyala. Segala macam bentuk telepon pintar, ada di tangan masing-masing dari mereka. Saya sendiri merasa jadi satu noktah yang berbeda warna di antara mereka. Mungkin, kalau di gerbong campuran, saya masih bisa melihat bapak-bapak atau kakek-kakek yang membaca koran. Nah, dibanding membaca buku setebal 500 halaman, membaca koran rasanya masih lebih manusiawi. Entahlah, apakah keengganan mereka membaca begitu tingginya dewasa ini?

Saya sendiri tak ambil pusing. Biarkanlah mereka menganggap seseorang yang membaca di dalam transportasi publik sebagai alien. Justru, perbedaan yang mencolok seperti ini tentu akan diperhatikan lebih mendalam, syukur-syukur kalau akhirnya akan lebih banyak orang yang membaca karena meniru orang lain. Tapi, sepertinya itu sulit. Mungkin juga, mereka memang sedang membaca hal yang sama, sebuah literatur yang entah apa, hanya saja medianya berbeda. Jika saya membaca lewat buku yang masih konvensional, berupa kertas-kertas dengan wangi semerbak menyenangkan jika kita baru membuka sampul plastiknya, mereka membaca lewat media elektronik yang sekarang juga sudah banyak memuat aplikasi untuk membaca buku. Tentu ada pro kontra dalam buku model elektronik seperti ini.

Pros:
  • Media buku digital enak dibaca ketika mati lampu.
  • Tidak ribet atau berat dibawa-bawa.
  • Bisa memuat banyak judul dalam satu media.
  • Lebih enak ketika dibawa traveling.
  • Lebih praktis.
  • Yang lainnya entah deh. :P
Cons:
  • Tidak ada nilai prestise atau kepemilikan. Sebab, memiliki buku yang masih 'purba', rasa kepemilikannya beda aja gitu.
  • Tidak bisa dikoleksi di lemari buku. Sekali lagi ini soal prestise.
  • Tidak bisa ditandatangan penulisnya. Hahaha!
  • Dan serangkaian "tidak bisa" lainnya yang mungkin ditemukan pada buku digital, tapi bisa ditemukan pada buku cetak.

Saya sendiri tak bisa memetakan pro dan kontra dari buku cetak dengan buku digital secara lebih mendalam, karena ini adalah persoalan selera. Kalau ditanya selera, ya saya tentu lebih suka membaca buku-buku cetak dan mengumpulkan mereka sebagai koleksi. Ada harga dan ada rasa kepemilikan yang lebih ketika saya memiliki buku-buku dalam bentuk cetak. Meski kadang ada yang tidak terbaca karena ternyata isinya memang tidak enak dibaca, namun tetap saja buku cetak itu bisa jadi penghias lemari. Sesekali, saya bisa membuka lembar demi lembarnya jika ingin menyeruak masuk ke dalam dunia di dalam buku itu.

Ah entahlah. Nikmat membayangkan bahwa saya adalah alien di tengah kerumunan orang yang menghamba pada smartphone mereka. Peduli amat dengan mereka yang memperhatikan saya di transportasi publik atau di tempat-tempat umum seperti kafe. Jika mereka mengatakan bahwa saya adalah penyendiri yang gandrung buku, silakan saja. Saya tak masalah. Hehe. Bagi saya, buku adalah teman baik, dan sekali karya tulis menghipnotis, maka selamanya ia tak akan pergi dari dalam pikiran. Ia terus menemani.


Cimahi, 10 November 2014
sebuah tulisan bagi pejuang karya tulis, penulis, pahlawan kepenulisan dan pahlawan-pahlawan yang lahir dari dan untuk sebuah tulisan.

Posted on Monday, November 10, 2014 by Ayu Welirang

6 comments