Wednesday, November 19, 2014

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

"Tentang Rumahku"
Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini.
Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari keseharian hidup ketiganya, menjadi nafas yang familiar bagi saya, sebab Tentang Rumahku kali ini benar-benar bercerita tentang kerinduan akan kata “pulang”. Dan perbincangan mengenai suatu kepulangan benar-benar sensitif, apalagi bagi perantau seperti saya. Hiks. K
Jika di album-album sebelumnya, berikut single yang sempat diluncurkan oleh DDH agak terdengar lebih bersemangat dan termuat pesan pemujaan terhadap alam raya—semesta beserta isinya—album yang satu ini lebih terkesan sederhana dan terdengar optimis. Kita akan berkontemplasi seiring mendengarkan lirik-lirik dalam Tentang Rumahku yang mengalir santai dan secara garis besar bercerita tentang kerinduan pada rumah. Saya percaya, folks dengan lirik-lirik bak puisi semacam ini, akan sangat mengena di hati pendengar. Saya bahkan selalu membawa Tentang Rumahku ke mana-mana. Sebab, ketika saya ingat “rumah”, maka lagu-lagu di dalam album ini akan sedikit mengobati kerinduan terhadap rumah semasa kecil saya yang kini agak jarang disinggahi.
Setelah memble-memble bicara tentang rumah, sekarang lebih baik saya coba ulas satu per satu lagu di dalam Tentang Rumahku.

Sunday, November 16, 2014

Quality Time Keluarga dan Hiburan Intelektual

Mungkin sudah lama rasanya saya tidak mengalami waktu-waktu berkualitas bersama keluarga. Kehidupan mencari sesendok berlian untuk makan di belantara ibukota yang ganas, telah menumpulkan segenap keinginan saya untuk pulang ke rumah. Padahal, mau ke mana lagi kaki berlari, ketika Jakarta telah menggerus nalar dan perasaan saya dan mengubah saya menjadi robot? 

Datang waktu, di mana doa-doa saya dikabulkan. Resign yang tidak pernah terjawab--mungkin karena bosnya takut ditagih janji dan gaji--hingga saya memutuskan kabur langsung dari pekerjaan. Mengapa? Padahal, banyak yang berkata bahwa bekerja di tempat saya yang terakhir itu sudah jadi pekerjaan paling menyenangkan. Tapi, buat saya sih tidak begitu. Duapuluhempat jam berkutat di kantor, makan tidur dan mencuci di kantor, sampai-sampai tidur saya berubah dari malam ke pagi, membuat saya lelah. Apalagi, di Jakarta tidak ada teman. Rasanya sudah macam Edward Scissorhand di kastil es. Sendirian dan menjadi dingin, bahkan mati rasa.

Maka, setelah resign saya pun pulang ke rumah, Cimahi yang sejuk. Cimahi yang sehari-hari adalah tawa, dan gosip Ibu-Ibu tetangga. Cimahi yang bisa membuat saya sedikit menjadi manusia normal--meski tetap tertidur pasca dua pagi terlewati. Lagipula, di sini semuanya serba menyenangkan. Tak perlu bermacet-macetan, tak perlu mengalami penuaan dini di jalanan, bahkan tak perlu mengantri di warteg untuk sekedar menebus rasa lapar. Yang saya cintai dari Cimahi adalah, meski tempat ini pelan-pelan mulai ditinggalkan para pendahulu dan teman-teman sebaya saya, tapi di tempat inilah masih berdiri rumah yang sebenar-benarnya. Ya begitulah, rumah masa kecil yang kini mulai dipadati pendatang baru, dan dipadati perumahan baru mulai dari kaki gunung Burangrang sampai ke Cipageran.

Seperti Minggu pagi ini. Begitu banyak hal sederhana yang menyenangkan. Minggu pagi yang mendung, yang membuat orang-orang malas bangun, kecuali Ibu saya. Sepagian, Ibu sudah berkutat di dapur, memasak sarapan bagi penghuni rumah termasuk saya. Sementara Bapak, beliau sudah terbangun dan membuka komputer personal milik adik saya. Bapak sedang mengusahakan penghasilan tambahan, karena adik saya sudah bersiap masuk kuliah dan perlu biaya ekstra untuk mewujudkannya. Dan saya? Saya terbangun pukul sebelas siang, karena sebelumnya baru tertidur pukul empat pagi setelah mengerjakan--entah apa pula yang saya kerjakan. 

Begitu nikmatnya bangun kali ini. Setelah mencuci muka dan menyeduh kopi hitam favorit--yang bubuknya saya curi dari teman--saya pun duduk di meja makan. Saya lupa satu hal. Ibadah membaca koran Minggu belum dilakukan, maka saya pun menitipkan uang pada Bapak yang hendak keluar, agar sekalian membeli koran Minggu. Bapak lantas kembali, dengan koran Pikiran Rakyat dan Kompas di tangan.

Setelah sarapan bersama yang seadanya tapi nikmat--apalagi karena ada petai di satu piring besar dan sambal buatan Ibu yang paling nikmat sekompleks Cipageran, saya pun menuju lantai atas untuk melanjutkan ibadah Minggu.

Kegiatan berikutnya adalah, saya, adik, dan Ibu secara bergantian mengisi TTS edisi hari Minggu ini, dari koran yang sudah dibeli tadi pagi, setelah sebelumnya saya menghabiskan kolom seni di koran Kompas yang memunculkan cerpen Seno Gumira dan puisi Joko Pinurbo. Menurut saya secara pribadi--dan diamini oleh Ibu--keluarga kami memang cukup aneh. Jika kegiatan keluarga lain di hari Minggu adalah berjalan-jalan ke Bandung kota atau menghabiskan uang di pusat perbelanjaan, naik kuda di De' Ranch dan segelintir hiburan lain yang tidak ada di Cimahi, maka keluarga saya berbeda. Waktu-waktu berkualitas keluarga kami adalah membaca koran pagi dan mengisi TTS. Bahkan, adik saya menyempatkan diri untuk googling bahasa Jepang ketika di dalam kolom mendatar ada beberapa jawaban yang mengharuskan kami menjawab dalam bahasa Jepang. Ah, sungguh aneh memang. Apa masih ada remaja seusia adik saya yang rela membuka kamus bahasa Jepang hanya untuk menjawab TTS?

Setelah TTS selesai diisi, adik saya malah beralih ke halaman Sudoku koran Pikiran Rakyat. Sudoku adalah teka-teki yang lebih sulit lagi daripada TTS, sebab di dalam sana, kita harus memikirkan probabilitas angka-angka dan perulangannya. Mendatar, menurun, bahkan yang satu ruas kotak kecil di dalam kotak besar. Saya ingat teman saya pernah menegur saya yang kala itu bermain sudoku di dalam telepon genggam. Ia berkata, "Ih, ngapain sih nggak ada kerjaan gitu main sudoku."

Saya tidak menggubrisnya kala itu dan terus berkutat di dalam sudoku sampai saya menang terus dan bisa beralih ke level "Hard". Bagi sebagian orang, mungkin bermain sudoku sebagai hiburan stress malah hanya menambah tingkat stress menjadi lebih tinggi. Tapi, tidak bagi saya dan adik saya. Sudoku adalah permainan yang menyenangkan.

Seperti itulah, hari Minggu ini dilewati tanpa pergi ke mana-mana. Bahkan, sambil menulis ini, saya belum sempat mandi. Ibu saya sudah merongrong di lantai bawah, begitu cerewetnya. Maka, dengan berat hati, saya harus mengakhiri posting siang ini, untuk menyapa air dingin yang muncul secara alami di Cimahi.

Selamat siang! Selamat menangisi akhir pekan!


Cipageran-Cimahi, 16 November 2014

Monday, November 10, 2014

Ketika Buku Konvensional Tak Lagi Jadi Teman

images source from here

Saya mengingat suatu hari pada saat saya duduk sendiri di pojok kereta rel listrik, sebuah transportasi publik yang menghubungkan saya dengan begitu efisien, dari Jakarta menuju Bogor. Pada saat itu, kondisi kereta yang saya tumpangi tidak begitu penuh, namun bisa dibilang cukup padat untuk ukuran siang hari. Saya terduduk di kursi dalam gerbong wanita, di pojok yang dekat dengan sambungan kereta alias bordes. Di sana, saya bersandar.

Beberapa saat kemudian, untuk mengatasi kejenuhan yang melanda, saya mengeluarkan sebuah buku yang bisa dibilang sangat tebal untuk ukuran 'baca santai di dalam kereta'. Karena memang saya ingin menamatkan buku yang asyik itu, maka buku itu sedang mendapat giliran untuk dibawa kemana-mana. Beberapa menit membaca dan membolak-balik halaman, rupanya saya diperhatikan orang. Entah apakah saya yang terlalu percaya diri, entah memang orang-orang melihat saya sebagai alien, saya tak tahu pasti sebab saya membagi perhatian saya pada buku dan pada sedikit lirikan mata saya ke orang-orang di gerbong wanita itu.

Jika alien memang ada, dan spesiesnya membaur di masyarakat, mungkin mereka menganggap saya adalah salah satunya. Adalah tabu, ihwal membaca buku dewasa ini. Di sekian puluh atau sekian ratus manusia dalam gerbong, dapat dipastikan, semua menunduk melihat sebuah layar tipis yang menyala. Segala macam bentuk telepon pintar, ada di tangan masing-masing dari mereka. Saya sendiri merasa jadi satu noktah yang berbeda warna di antara mereka. Mungkin, kalau di gerbong campuran, saya masih bisa melihat bapak-bapak atau kakek-kakek yang membaca koran. Nah, dibanding membaca buku setebal 500 halaman, membaca koran rasanya masih lebih manusiawi. Entahlah, apakah keengganan mereka membaca begitu tingginya dewasa ini?

Saya sendiri tak ambil pusing. Biarkanlah mereka menganggap seseorang yang membaca di dalam transportasi publik sebagai alien. Justru, perbedaan yang mencolok seperti ini tentu akan diperhatikan lebih mendalam, syukur-syukur kalau akhirnya akan lebih banyak orang yang membaca karena meniru orang lain. Tapi, sepertinya itu sulit. Mungkin juga, mereka memang sedang membaca hal yang sama, sebuah literatur yang entah apa, hanya saja medianya berbeda. Jika saya membaca lewat buku yang masih konvensional, berupa kertas-kertas dengan wangi semerbak menyenangkan jika kita baru membuka sampul plastiknya, mereka membaca lewat media elektronik yang sekarang juga sudah banyak memuat aplikasi untuk membaca buku. Tentu ada pro kontra dalam buku model elektronik seperti ini.

Pros:
  • Media buku digital enak dibaca ketika mati lampu.
  • Tidak ribet atau berat dibawa-bawa.
  • Bisa memuat banyak judul dalam satu media.
  • Lebih enak ketika dibawa traveling.
  • Lebih praktis.
  • Yang lainnya entah deh. :P
Cons:
  • Tidak ada nilai prestise atau kepemilikan. Sebab, memiliki buku yang masih 'purba', rasa kepemilikannya beda aja gitu.
  • Tidak bisa dikoleksi di lemari buku. Sekali lagi ini soal prestise.
  • Tidak bisa ditandatangan penulisnya. Hahaha!
  • Dan serangkaian "tidak bisa" lainnya yang mungkin ditemukan pada buku digital, tapi bisa ditemukan pada buku cetak.

Saya sendiri tak bisa memetakan pro dan kontra dari buku cetak dengan buku digital secara lebih mendalam, karena ini adalah persoalan selera. Kalau ditanya selera, ya saya tentu lebih suka membaca buku-buku cetak dan mengumpulkan mereka sebagai koleksi. Ada harga dan ada rasa kepemilikan yang lebih ketika saya memiliki buku-buku dalam bentuk cetak. Meski kadang ada yang tidak terbaca karena ternyata isinya memang tidak enak dibaca, namun tetap saja buku cetak itu bisa jadi penghias lemari. Sesekali, saya bisa membuka lembar demi lembarnya jika ingin menyeruak masuk ke dalam dunia di dalam buku itu.

Ah entahlah. Nikmat membayangkan bahwa saya adalah alien di tengah kerumunan orang yang menghamba pada smartphone mereka. Peduli amat dengan mereka yang memperhatikan saya di transportasi publik atau di tempat-tempat umum seperti kafe. Jika mereka mengatakan bahwa saya adalah penyendiri yang gandrung buku, silakan saja. Saya tak masalah. Hehe. Bagi saya, buku adalah teman baik, dan sekali karya tulis menghipnotis, maka selamanya ia tak akan pergi dari dalam pikiran. Ia terus menemani.


Cimahi, 10 November 2014
sebuah tulisan bagi pejuang karya tulis, penulis, pahlawan kepenulisan dan pahlawan-pahlawan yang lahir dari dan untuk sebuah tulisan.