Siluet Sore - Part 1
Matahari
sudah bergerak naik, menuju perbatasan bagi peraduannya. Sementara, orang-orang
sibuk dan tergesa menuju rumah, seorang perempuan muda, rambut ikal sebahu
dengan setelan blazer dan rok sepan berwarna senada merah muda, duduk menunggu
entah apa. Di tepi jendela kedai kopi kota metropolitan, perempuan itu
menyusuri kemacetan jalan. Mencari sesuatu, atau mungkin seseorang? Perempuan
itu nyaris tak mengedipkan mata ketika lampu dan klakson mulai
bersahut-sahutan.
Kenangan
berlarian. Bayangan mulai menepi satu per satu ke depan kedai kopi. Sore itu
mulai menangis, langit gerimis. Orang-orang sibuk mencari tempat berteduh. Ada
yang masuk ke kedai kopi, ada pula yang hanya menumpang di depan berandanya
saja. Setidaknya, mereka tak kehujanan. Setidaknya, mereka berbahagia walau
hujan menenggelamkan. Berbeda dengan perempuan itu, yang tetap sendirian, duduk
di tepi kedai menyesap kopi yang asapnya masih mengepul mesra, mencabut
kenangan dari akarnya.
Berkali-kali
ia datang ke kedai itu, hanya untuk menunggu seseorang. Ya, menunggu seseorang
bukan lagi sesuatu. Menjelang malam, kedai itu selalu kehadiran seorang musisi
berambut panjang, lelaki yang terlihat tampan meski wajahnya dihiasi jambang,
dan tangan kanannya dihiasi tato. Perempuan itu menunggu. Duduk di kedai kopi,
baginya adalah sebuah hal baru. Karena, ia nyaris tak pernah datang ke sana
kalau saja bukan karena lelaki itu yang menariknya bagai medan magnet.
Perempuan
itu hanya senang memandangi si musisi dari jauh, mengagumi matanya yang teduh,
mencari kearifan pada kata-katanya yang menghipnotis seluruh.
“Menuju
malam. Selamat datang. Saya duduk di sini lagi, mencoba menghibur kalian semua
selagi hujan bertandang ke Jakarta,” lelaki musisi itu mulai berbicara.
Dawai-dawai gitarnya mulai terpetik. Lagu syahdu dimainkan. Romantis memang,
meski perempuan pengagum itu sendirian.
“Menghitung
hari, detik demi detik. Menunggu itu kan menjemukan. Tapi ku sabar menunggu
jawabmu, jawab cintamu,” lanjut lelaki itu dan suasana pun mendadak syahdu.
Lampu remang kedai kopi menambah semuanya jadi semu.
Perempuan
itu menghamba sore, menghamba bayangan, entah sampai kapan.
--bersambung--



