Tuesday, October 21, 2014

Sebab Televisi Berbingkai Bangkai

Aku melihat jernih matamu, Sayang. Di sana, di dalam kotak sandiwara, berpariwara. Kelap-kelip nyala mata nyaris membakar kulitku, kulitmu jua, bagai binar neon berpuluh watt. Aku pun melihat bintang, sampai melingkari tubuhmu, wahai kekasih. Penuh teka-teki, siapakah kiranya ilmuwan yang sudi menangkap tali-tali bintang angkasa itu, sampai pada bajumu, Sayang?

Kulihat sandangmu berhias bunga. Alas kakimu berwarna cerah, bagai buah-buahan ranum yang siap dipetik. Untuk seikat bunga pada baju dan sekeranjang buah-buah segar itu, berapakah harga yang kau buang-buang ke lautan, Sayang? Tidakkah kau lebih baik menanam sejarah alternatif bagi dirimu sendiri, di depan beranda rumahmu? Dengan pohon-pohon yang lebih baik kau sirami daripada pohon di bajumu? Dan wahai kekasih, aku bertanya-tanya akan benda-benda itu, akan kau apakan kiranya mereka, ketika kau sudah renta? Kau tanamkah kelak ketika kulitmu memudar dan ditumbuhi belukar?

Kudengar pula, mereka yang menyaksikanmu, wahai kekasih, telah berlomba-lomba untuk mengumpulkan tetes keringatmu yang menjelma wewangian surga. Mungkin kesturi, mungkin bunga kamboja? Atau, ekstrak yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, yang hanya Grenouille saja yang bisa menerka, sesungguhnya wewangian apakah yang kau kenakan untuk menutupi borok di balik ketiakmu itu, Sayang? Konon, banyak orang yang kini berlomba-lomba membuka kios murahan, di dekat pasar, di dekat terminal, di dekat pangkalan angkutan desa, agar wangimu yang abadi, masuk ke dalam botol-botol kecil limaribuan. 

Tetapi, apakah aku pernah tahu, Sayang? Aku yang mendambamu dari balik layar datar hitam, tak henti-hentinya mengucap doa-doa, agar kelak pesta-pestamu tak berubah sia-sia. Apakah aku pernah silau karena binar matamu pula? Sesungguhnya bukan aku yang silau, karena layar hitam itupun mati di tengah malam. Jika warung kopi mati, maka tak ada layar datar hitam yang silau, hanya ada sunyi. Kesunyianku adalah doa bagimu, kekasih. Aku tahu, mimpimu kini telah terbeli. Telah luruh bersama jasadmu, bersama seluruh. Yang aku tahu, kekasih... Aku terus mendoakanmu tak putus-putusnya, sebab bila kau lupa, kau sungguh akan menangis sejadi-jadinya.

Sebab kau di sana, di televisi, dan aku di sini, di depan televisi yang berbingkai bangkai.
Mana kutahu wangimu kesturi atau kemboja? Jika yang kuhirup hanya asap kopi hitam di tepi warung kopi penjaga makam.


CMH, 21 Oktober 2014
sebab televisi menjual opera sabun
sandiwara, pariwara...

Wednesday, October 15, 2014

Kopimu

Ada hitam
dalam kopi yang kau kirim
bersamaan dengan rindu
yang sulit padam.

"Sabar-sabarlah."
Katamu, di dalam pesan.
Semoga aku selalu dihiasi kesabaran.
Setia menantimu di beranda
duduk bersantai
sambil menyeduh segenggam bahagia
dan menghirup aroma harap-samar
yang terhidang dari kopimu.

***

Karawang-Resinda, 15 Oktober 2014

Doa Untuk Kau Yang Akan Segera Mengakhiri Masa Lajang

Bagiku, seluruh aliran hidup hanya akan terbagi menjadi dua bentuk. Bisa ya atau tidak. Bisa nol atau satu, jika kita berbicara bilangan digital. Bisa kosong atau isi, jika kita berbicara akan air yang harus dituangkan dalam gelas atau cawan-cawan rapuh. Bisa jadi, kau memilih berubah atau tidak, karena hanya dua hal itu yang niscaya bergulir. Dan segala sesuatu yang hanya dua itu, apakah tidak ada abu-abu?

Kau pernah bicara, sekali waktu. Yang kuingat, hal itu sudah lama sekali. Kau bicara tentang bagaimana hidup harus dijalani. Memilih ke tujuan pasti atau ke entah. Itu sudah dua pilihan berbeda yang bisa saja jadi percabangan yang lebih luas lagi, sebab kau bilang, semesta ini tidaklah kecil. Meskipun, kadang ada saja hal-hal semacam cosmic coincidence yang membuat semesta luas menjadi sekecil genangan air di atas rumput depan rumahmu. Kau senang bicara tentang hal-hal yang ambigu antara pasti tak pasti. Aku sebut itu abu-abu yang kelak ada pada dua pilihan dalam aliran kehidupan. Tapi, jika berbicara tentang arah mata angin, kau tak pernah memberikan opsi yang dua itu, sebab kau bilang bahwa mata angin pastilah delapan arah. Memang betul, tapi bukankah kembalinya kau berjalan, tetap harus melewati aliran "ya" dan "tidak"? Apakah kau akan ke sana atau tidak? Kukira begitu. Yah, setidaknya hal itu yang kupahami.

Belakangan ini, aku berhubungan kembali dengan teman-teman lamamu. Mereka berkata-kata tentangmu. Mereka bicara tentang hal-hal yang aku sudah tahu. Tentang kebiasaanmu meremehkan waktu yang tak panjang-panjang amat. Waktu yang duapuluhempat jam saja masih tak cukup bagi para pekerja berkantung mata. Waktu yang kadang mungkin kau sia-siakan untuk berjalan mencari ya dan tidak dalam hidupmu. Sungguh, aku tak lelah memperhatikan, aku tak lelah mempedulikan. Aku hanya lelah untuk membicarakannya, sebab aku tahu kau ini kepala batu. Tak jauh berbeda seperti aku yang akhir-akhir ini menjadi lebih batu darimu.

Namun, hari ini aku tercengang. Sebuah kejadian yang pada pesan singkat tadi siang kau sebut sebagai, "mungkin ikatan batin", membuat aku terharu. Sebelum aku mengirim pesan pada adikmu, aku mengirim pesan pada seseorang yang sekarang ini sedang dekat denganmu. Dekat, sangat dekat. Mendengar kabar dari kalian berdua, aku ingin ikut melompat. Aku turut berbahagia, sebab aku tak ingin kau mengingat aku atau kasihan padaku. Kemarin bahkan sudah kutunjukkan seseorang yang kini sedang dekat denganku, dan kau pun memberitahuku lewat pesan singkat tadi siang. Aku bersyukur, kau mendoakan kami yang terbaik, sebagaimana aku akan mendoakan kalian berdua hal yang paling baik. Aku juga senang, karena kau berkata bahwa kami sangat cocok, meski dia yang jauh di timur sana kemarin berkata bahwa, "Ah aku terlalu kaku ya di depan dia?" Aku pikir tidak. Mungkin hanya bingung saja harus memulai pembicaraan lewat apa, sebab ia ingin menjagaku seperti kau dulu menjaga aku.

Sekarang, aku sudah tahu. Bagimu memang tak pernah ada yang abu-abu. Bebas sama sekali, atau terikat sama sekali. Kau kembali pada dirimu yang tegas memilih antara ya dan tidak, nol atau satu, hitam atau putih, hidup atau mati, dan lain sebagainya. Di usiamu yang ke duapuluhtujuh ini, aku sangat menghargai keputusanmu untuk mengubah dirimu sendiri. Berubah dari kau yang pernah berjalan pada garis ambigu, menjadi kau yang kini penuh pertimbangan akan ya dan tidak. Aku sungguh menghargai hidupmu di usiamu kini. Kau telah berproses menjadi seorang yang lebih dewasa lagi, semoga aku pun begitu.

Doa yang terbaik untuk dirimu. Selamat menempuh hidup baru dengan seseorang yang kini harus kau bahagiakan dan kau hidupi setinggi-tingginya hidup. Aku rasa haru biru ini bukan karena aku sedih cemburu atau tak ikhlas, justru semua ini adalah karena aku menghargai kau dalam kondisimu yang paling tidak abu-abu. Aku tak mau mendengar orang lain yang berkata-kata tentang dirimu dan seseorang di sampingmu itu, sebab aku mendoakan apapun pilihan yang kau jalani dari dulu hingga sekarang.

Menuliskan ini, aku teringat Sapardi yang berpuisi:

"Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

Aku menghargaimu...

Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu."

Maafkan aku mengganti kata-kata Sapardi tentang mencintai menjadi sebentuk penghargaan. Kupikir, memang begitulah kini kau di mataku. Kau sudah menjelma kakak, saudara, dan mungkin orang terdekat satu darah bagiku. Sebab itulah aku tak bisa lagi mencintaimu.

Selamat berbahagia selalu!



Karawang-Resinda, 15 Oktober 2014