28 May 2015

Intertwine Road

Do you believe in fate?
Yeah, I do believe in fate.

Percakapan itu mengganggu benakku setiap malam, setiap menjelang tidur, maupun dalam tidur. Padahal, sudah satu botol obat tidur ukuran sedang yang kukonsumsi dalam dua minggu ini. Sepulang berkutat dengan naik turunnya neraca saham di Gedung Tuan Pembangunan, aku selalu menyempatkan diri untuk membuat badanku lelah. Semua ini kulakukan agar kepalaku yang tak berhenti bicara, segera diam karena mengikuti ritme tubuhku yang kelelahan setelah berjalan dari Gedung Tuan Pembangunan menuju kamar kosku yang kian hari kian seperti ruang jenazah.
Namun, hari ini berbeda. Tubuhku tak menemukan titik lelahnya. Ia justru semakin prima. Dampak buruknya, aku tak akan pernah bisa mendapatkan tidur nyenyak yang kuinginkan belakangan ini. Aku bertanya-tanya, hal apa yang membuatku begini?
Sambil berpikir tentang bagaimana caraku tidur, aku merasakan sesuatu yang ganjil. Kepalakuah tidakruangan kamarku seperti berputar. Setelah itu, dalam waktu sepersekian detik, dinding kamar kosku menyempit. Ia memampatkan aku ke dalam sebuah pusaran. Aku pikir, ini tentu bukanlah obat tidur.
***
“Kereta yang menuju Intertwine Road akan segera diberangkatkan dari peron delapan. Para penumpang diharapkan berdiri di belakang garis merah. Berhati-hatilah saat memasuki kereta dan perhatikan barang bawaan Anda.”
Perhentian yang asing. Baru kali ini aku melarikan diri dari tidur dan sampai pada tempat publik yang begitu padat. Biasanya, aku hanya tersesat sebentar di dalam kegelapan alam bawah sadarku sendiri dan kembali bangun dengan tubuh berkeringat juga nafas terengah-engah. Mungkin, kali ini Semesta sedang memberikan aku warna lain yang lebih menyenangkan, demi menggantikan tidurku yang tak pernah bisa kudapatkan.
Dalam hiruk-pikuk manusia, percakapan terdengar di sisi kananku. Seorang perempuan dengan lelaki yang tingginya jelas berbeda jauh denganku, sedang berbincang penuh emosi.
“I don’t believe kau. If kau walk dengan her dan kau don’t speak pada saya, saya tidak terima!” kata perempuan itu pada sang lelaki.
Aku tertegun. Bahasa yang sungguh tak pernah kudengar. Sejenak kuperhatikan, rupanya semua orang berbicara dengan bahasa yang sama. Kuperhatikan sekitar dan juga diriku sendiri. Rupanya aku hendak bekerja. Apakah benar? Bukankah ini sudah malam?
Ah aku tak mengerti. Mungkinkah aku terlempar ke suatu masa yang begitu asing?
Tak sampai sekian lama aku berpikir, deru mesin halus mendekat. Dari sisi kiri di tempatku berdiri, sebuah kotak kaca berisi manusia-manusia yang lebih mirip robot bermata merah, berhenti. Pintunya terbuka dengan segera. Hanya sekian mikrodetik, manusia-manusia yang bicara memasuki kotak kaca itu.
Aku? Bagaimana denganku? Aku terdesak di antara mereka. Hinaan dan cacian menghanguskan nalarku di pagi yang asing ini. Tas kerja dan dasiku pun terlontar entah ke mana. Tubuh mereka yang beringas mendesakku ke sana dan ke mari.
“Hey! Back off! Mundurlah kau jika don’t wanna in! Kami harus go to office in 20 minutes!”
Lalu, hinaan lain pun menusukku. “Pergilah! Back to kau punya bed, asshole! Pemalas busuk! Kau tak cocok di Intertwine Road!”
Aku tertawa. Intertwine road? Jalan yang berkelindan? Semua huru-hara dan kekacauan yang disebabkan oleh Gedung Tuan Pembangunan pada duniaku sendiri, menjadi begini di dunia asing ini. Dan mereka menyebutnya Intertwine Road? Segala hal yang berkelindan ada di sana. Begitukah?
Lamunanku berakhir, saat teriakan perempuan yang kupikir mengarah padaku menggema di ruang kaca dan interkom stasiun masa yang asing ini.
Sir! Jepit rambut saya, please selamatkan!”
Absurd. Tapi, kuambil juga jepit rambut pita hitam putih dengan besi yang nyaris berkarat. Aku bahkan malas memegangnya, sebab rasanya jepit rambut ini sudah lama tak digunakan. Sekitar berapa tahunkah kiranya?
Jawabanku ditemukan. Tepat di atas kepala, kalender seven segment, lengkap dengan jam, menit, detik, bahkan ramalan cuaca dan daftar kereta, tertera.
Intertwine Center Train Station.
18 Januari 2050, 07:05:45, Partly Cloudy.
***
Jalan Kelindan. 27 Mei 2030
“Jadi, anda berminat untuk menjadi seorang pialang saham?”
“Betul sekali Pak. Saya ingin mengarahkan saham-saham orang besar pada proyek pembangunan.”
“Anda memilih pekerjaan yang tepat. Big Brother Building adalah yang paling besar di sepanjang jalan ini dan memiliki kontribusi besar dalam perputaran saham untuk proyek-proyek pembangunan juga proyek korporasi raksasa lainnya yang bermarkas di jalan yang sama. Seperti yang Anda lihat, di seberang gedung ini sedang dibangun menara kembar yang terintegrasi dengan transportasi publik demi kemudahan para pekerja B3.”
“Sesungguhnya, aku hanya mencari seseorang di sini,” gumam seorang perempuan dalam hatinya, sembari membetulkan letak jepit rambutnya dan tersenyum mengangguk pada sang pewawancara.
Setelah perempuan itu bersalaman dengan tiga orang pewawancara, perempuan itu pun melangkah keluar dari ruangan kaca. Ia berjalan menyusuri lorong yang kanan-kirinya penuh dengan manusia dalam kubikel dengan berbagai kegiatan. Standar pekerja. Mengangkat telepon, memeriksa berkas, tertawa sambil minum kopi, berkutat di depan komputer, bahkan ada yang hanya mengikir kuku. Dari sekian banyak manusia, seseorang yang dicarinya, tak ada.
“Joyce!” panggil seseorang. Secercah harapan melintas di depan perempuan itu.
Si perempuan menoleh. Sejurus kemudian, senyumnya sedikit mengecil. Seorang lelaki berdasi, dengan kacamata bingkai abu-abu dan rambut yang nyaris botak, terlihat senang. Ia menyalami Joycesi perempuan.
“Kamu jadi masuk sini?” tanyanya.
“Iya. Rabu nanti aku di sini,” jawab Joyce.
Lelaki itu mengangguk gembira. “Kamu sungguh percaya pada takdir bukan?”
“Tidak tahu,” jawab Joyce singkat.
Meski begitu, lelaki itu tetap bersikeras pada perkataannya. “Aku percaya. Ini pasti takdir. Kita memang pasti bertemu lagi.”
Joyce hanya tersenyum dan beranjak dari sana. “Aku duluan ya, mau ambil surat referensi.”
Sebelum benar-benar melangkah keluar dari gedung terbesar di sepanjang jalan paling sibuk ini, Joyce kembali menoleh. Mencari-cari seseorang yang pasti tak akan pernah ia temukan.
***
Aku terbangun. Mencoba mengingat percakapan antara aku dan sebuah nama. Rokok, kopi, dan obat tidur berserakan di kamar kos busuk ini. Kepalaku pening. Mimpi itu lagi.
Kamu percaya takdir?
Tentu, aku percaya.
Takdir apa yang dimaksud? Aku juga tidak tahu. Persetan dengan hal itu. Perjalanan malam tadi membuatku bangun……
Brengsek! Aku terlambat menuju Gedung Tuan Pembangunan.
Kupakai pakaian kerjaku seadanya, tanpa mandi atau sikat gigi. Kupakai kaus kaki juga sepatu pentofel mengkilap yang harus selalu kukenakan demi sebuah kata, “moralitas dalam kerja”. Setelah kupastikan semua berada di tempat yang semestinyatak lupa kupakai celana panjangku di atas celana tidurkuaku pun segera berlalu.
Aku mengingat-ingat apakah ada yang lupa. Setelah kupastikan tak ada yang terlupakan, aku pun beranjak menuju stasiun dekat kosku menuju stasiun Sudirman di jantung hiruk-pikuk Jakarta.
Sesampaiku di kantor, semua orang telah bergegas menuju bagian lantai masing-masing dengan tergesa-gesa. Ada yang terlambat juga rupanya. Hari ini pembukaan saham untuk perusahaan mini yang mengerjakan aplikasi penting di dunia perindustrian. Aku tak tahu pasti apa namanya, sebab itu tak penting. Bagiku, uang yang masuk ke dalam kantong perusahaanku, berarti akan masuk pula ke kantong para brokernya.
“Kau terlambat!” teriak pimpinanku di pintu masuk. Ia berkacak pinggang, dengan wajah yang kupikir lebih menyerupai hantusebab bedak terlalu putih, bahkan aku tak mengerti mengapa ia memakai bedak.
“Maaf, sehabis mengurus dokumen, Pak,” jawabku.
Masih dengan posisinya semula, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ya sudah, segera menuju mejamu! Hari ini akan mulai pekerjaan akbar yang membuat kita semua menjadi kaya! Camkan itu baik-baik, kecuali jika kau tak lagi ingin ada di sini.”
Aku hanya tersenyum dan berlalu menuju mejaku. Kubikel-kubikel di lantai tempatku bekerja ini sudah penuh sesak oleh orang-orang tak kenal tidur. Telepon dipersiapkan. Grafik saham juga kurs, sepertinya sudah diganti ke layar baru. Belum lagi sekretaris bos yang hilir mudik mengurus entah apa. Semua orang seperti kuda. Dipecut dengan keras dan berlari kencang. Hanya aku yang merasa bahwa energi hidupku ada yang berkurang. Aku hanya berharap agar hari ini tak tiba-tiba jatuh tersungkur, lalu tidur. Sebab, kurasa ada yang salah di dalam kepalaku ini. Mungkin, ini yang namanya narkolepsi.
“Bekerja! Jangan melamun!” teriak bosku, hingga membuat aku tergesa berjalan ke kubikelku dan menyiapkan segalanya di meja.
Dari pembukaan pagi, hingga jam makan siang, telepon berdering tiada henti. Semua orang menginvestasikan uangnya ke perusahaan penemu aplikasi penting inisebut saja begituseperti sedang berhadapan dengan Microsoft atau apalah. Mereka tak takut uang mereka habis. Sementara aku, yang hanya jadi broker mereka, tak bisa berpikir untuk lebih kaya lagi.
Saat tiba jam makan siang, aku bergegas untuk turun dari lantai tempatku bernaung, menuju satu-satunya tempat menghilangkan penat. Taman hijauuntungnya tidak gersang.
***
Aku rebah di taman sembari menghisap rokok dalam-dalam. Sambil memperhatikan langit yang mendungpartly cloudyaku melamun.
Lamunanku tak bisa lama, sebab seorang perempuan menyapaku. “Hari yang melelahkan ya?”
Suaranya lembut, seperti semilir angin yang menerpaku di taman ini. Ah, dan juga, wangi sampo menguar dari rambutnya yang tertiup angin.
Perempuan itu terlihat berusaha mengikat rambutnya berkali-kali, namun gagal. Sepertinya, ia hendak menggelung rambutnya hingga rapi.
“Nggak ada hari yang nggak lelah. Bahkan, hari libur pun tetap berpikir akan hari Senin,” jawabku asal.
Perempuan itu hanya tersenyum dan kembali berkutat dengan rambutnya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Nggak apa-apa,” jawabnya.
Tiba-tiba saja, dia menoleh. “Hmm, langitnya mendung. Sepertinya kemarin di berita bilang kalau tanggal 27 Mei 2015 itu nggak mendung.”
“Hari ini tanggal dua puluh enam.”
Perempuan itu lalu berhenti mengikat rambutnya dan segera berdiri sambil menepuk-nepuk bagian belakang roknya. “Wah, aku salah tanggal berarti! Hari ini, harusnya aku interview  di sana. Gedung besar itu,” katanya sembari menunjuk gedung tempatku bekerja.
Aku tertawa dan berkata padanya, “Heran. Aku mau keluar dari sana, belum berani. Dan sekarang, ada orang mau masuk sana. Aku kasih saran sedikit, jangan masuk B3 kalau nggak mau mati sakit jantung seperti orang-orang Wall Street yang kebanyakan mengkonsumsi heroin supaya bisa waras kerja.”
Perempuan itu tersenyum lagi. “Dan aku percaya kalau kamu juga banyak mengkonsumsi obat tidur.”
***
Jalan Kelindan, 1 Juni 2030
“Welcome aboard, Joyce!” sapa orang-orang pada Joyce.
Joyce terlihat senang. Senyumnya mengembang, meski dalam hatinya, ia tak begitu senang. Seseorang yang ia cari, tak ia temukan.
Sepanjang hari pertama ia bekerja, ia ditemani oleh lelaki-nyaris-botak-pemakai-kacamata yang ia bahkan tak ingin ingat-ingat namanya. Lelaki inilah yang memaksanya masuk ke gedung terkutuk ini. Padahal, Joyce setengah mati tidak mau bekerja di sini. Ia hanya mencari seseorang yang ia maksud dan memberitahunya pada kawan lamanya yang nyaris botak itu. Tapi, alih-alih memberitahunya tentang hal itu, lelaki nyaris botak hanya terus membicarakan tentang dirinya sendiritentunya ia tak bercerita tentang kepalanya yang botak.
“Joyce, kenapa? Kamu kayaknya diem aja,” tegur lelaki nyaris botak pada Joyce.
“Nggak apa-apa,” jawab Joyce.
“Wah, nggak kerasa ya udah lima belas tahun, akhirnya kita satu kantor. Sekarang kamu usia empat puluh ya? Then, how’s life?”
“Not too good. Sekarang kamu ceritakan tentang Kris. Di mana dia? Aku cuma mau kembalikan ini dan tanyakan toko bunga,” jelas Joyce sembari menyodorkan jepit rambut pada lelaki nyaris botak.
Lelaki nyaris botak itu terlihat tidak senang. Namun, ia berusaha menjawab, “So sorry. Aku lupa kasih tahu. Kris sudah resign, dari satu bulan lalu. Maaf kalau aku nggak bilang, karena aku berharap kamu masuk ke perusahaan ini dan kita bertemu lagi.”
***
Sudirman, 27 Mei 2015
“Kenapa aku harus lupa bawa ikat rambut sih?!” teriak seorang perempuan di dekat jembatan penyeberangan saat aku akan berjalan menuju tempat kerjaku.
Aku mencari-cari sesuatu di saku celanaku. Kalau aku tak salah ingat, tadi pagi ketika membeli masker, si penjual masker menyodorkan aku jepit rambut pita sebagai pengganti kembalian.
Tunggu dulu.
Jepit rambut pita?
“Kamu lagi?” tanya perempuan itu padaku, saat aku tergugu mengingat akan jepit rambut. Dan sungguh sial, ingatanku memang pendek, hingga aku tak ingat kapan aku pernah melihat jepit rambut yang kupegang ini.
“Halo. Ada orang?” tegur perempuan itu lagi.
“Oh, hai. Ketemu lagi.”
Perempuan itu melihat tanganku yang menggenggam jepit rambut pita.
“Apakah itu buatku? Atau kebetulan kau membawanya untuk seseorang, dan secara kebetulan aku sedang membutuhkan itu?”
“Aku tidak tahu.”
“Apa ini kepak sayap kupu-kupu?” tanya perempuan itu lagi tanpa membiarkan aku menjawab. Perempuan itu lantas mengambil jepit rambut di tanganku dan segera berlari menuju arah tempatku bekerja.
“Aku pinjam dulu, nanti kukembalikan!” teriaknya dari ujung sana.
Sebab sesuatu yang tidak kumengerti, kepalaku kembali penat.
***
“Saya mau resign, Pak,” gumam seorang perempuan.
“Kamu mau resign?” tanya pimpinan yang menerima perempuan itu. Ia lalu melanjutkan, “Apa kamu yakin. Kamu akan terkena penalti tersebab kontrakmu belum mencapai satu tahun.”
“Saya akan membayarnya. Tiba-tiba saja saya tidak ingin berkutat di meja kerja lagi,” jelas perempuan itu seperti main-main.
“Kamu jangan main-main Joyce! Ini bukan perusahaan main-main!”
“Cukup tuliskan nomor rekening yang perlu saya isikan penalti tersebut.”
Percakapan itu pun selesai, dan aku menyaksikannya dengan wajah tak mengerti. Aku, seperti mengenal perempuan dalam bingkai alam bawah sadarku itu. Tapi, di mana dan kapan, aku sungguh tak bisa mengingatnya. Hanya satu yang kutahu dalam bingkai itu, nama perempuan itu, Joyce.
***
Awal Februari 2050, Intertwine Road.
Nenek tua terbatuk-batuk di tepi kursi stasiun. Kuperkirakan usianya enam puluh tahun. Ia terlihat sedih.
“My collar, my collar. Don’t need dollar, just collar. Saya have satu janji to be finished.” gumamnya samar-samar.
Tunggu.
Aku tersesat. Lagi?
“I wish… Lebih baik saya long time ago membuka toko bunga. Kini, semuanya sudah lebih parah than before. Saya ingin kembali, but I can’t. Waiting for someone, di sini, di negeri ini, membuat saya sakit.”
Bahasa yang asing lagi. Perempuan tua itu bergumam sendiri sambil menangis perlahan. Sebelum aku sempat mendekati perempuan tua itu, aku tersedot kembali ke entah.
***
“Mas! Nggak apa-apa, Mas?” tanya orang-orang. Mereka berkerumun di sekitarku. Tanganku berpegangan pada tepi jembatan penyeberangan. Untunglah, jembatan ini cukup kuat dan terlindungi, hingga aku tak terjatuh dan mati.
“Ah, maaf. Ya, saya nggak apa-apa. Maaf saya menghalangi jalan,” gumamku pada orang-orang itu.
Sambil berusaha berdiri, aku memijat kepalaku. Seberkas sinar seperti melewati isi kepalaku. Aku mulai dapat merangkai kejadian intradimensional ini. Aku pun bangkit berdiri dan berusaha menyeimbangkan tubuhku yang limbung.
Dari atas jembatan penyeberangan, kulihat perempuan itu berjalan menjauh. Rambutnya yang terikat rapi dengan jepit rambut milikku pun bergerak ke kanan dan kiri. Setelah merasa seimbang, aku berlari menyongsongnya.
Aku menuruni tangga dengan tergesa, hingga sepatu pentofel yang menyakitkan ini sudah tak lagi kupedulikan kondisinya.
Aku memanggil nama perempuan itu. “Joyce!”
Perempuan itu menoleh. Ia melihat mataku, dan kebingungan. Aku menyongsongnya dengan tergesa.
“Jangan pergi bekerja.”
“Kamu, tahu aku?” tanya Joyce bingung.
“Stasiun. Tunggu aku di sana. Jangan pergi bekerja.”
“Kamu bicara apa sih? Aku nggak ngerti. Kamu siapa?” tanya Joyce bingung dan takut.
“Aku Kris. Tunggu aku di stasiun.”
Joyce tergugu di tempatnya, sementara aku berlari-lari menuju kantor.
***
Jalan Kelindan, Agustus 2030
“Sudah datangkah truknya?” tanya Joyce padaku.
“Sudah. Nanti tinggal ditata saja. Bunganya masih segar,” gumamku.
Thanks. You saved me. Again and again, Kris.”
Joyce lantas mendekatiku dan memelukku erat. Wajahnya berbahagia. Begitupun aku.
***
Intertwine Road, Februari 2060
Sepasang kakek dan nenek sedang duduk di tepian stasiun kereta. Sang nenek duduk bersandar di bahu sang kakek, membawa satu buket bunga dengan wangi yang semerbak. Bunga-bunga itu dan mereka yang tersenyum ceria di pagi yang kosong dan huru-hara, seolah memberi warna baru bagi pagi itu.
Jika saja mereka tak bertemu, mungkin saja stasiun itu akan tetap huru-hara dan terburu-buru seperti biasa, tanpa warna. Mereka berdua tetap hidup di jantung kota dengan cara yang berbeda.
***
Stasiun Sudirman, 27 Mei 2015
“Lama nunggu?” tanyaku pada Joyce.
“Nggak. Kenapa sih?” tanya Joyce padaku, dengan wajah takut dan bingung.
Aku tersenyum dan terduduk di sebelahnya. “Bukankah menyenangkan, duduk-duduk di jam kerja seperti ini? Sudah kubilang kan, tak perlu pergi bekerja.”
“Kris, aku baru mengetahui namamu hari ini. Bahkan, aku nggak kenal kamu sebelum ini, tentu saja karena kesalahan di taman kemarin dan karena aku meminjam jepit rambut punya pacarmu
“Bukan punya pacarku,” gumamku memotong perkataan Kris. Aku lalu melanjutkan, “Kalau aku nggak beli masker, yang sebenarnya aku juga nggak ngerti buat apa, aku nggak dapat jepit itu. Itu cuma kembalian. Dan kenapa kamu harus lewat jembatan itu? Kenapa harus bekerja jadi broker? Pekerjaan orang sakit jiwa, pekerjaan melelahkan.”
“Aku juga nggak tahu. Aku cuma pikir, aku ingin bekerja,” jawab Joyce polos.
“Karena?”
“Menabung.”
“Untuk apa? Ah ya, biar kutebak. Toko bunga kan?”
Joyce termenung dan menoleh padaku. Ia lalu berkata, “Kamu kok bisa tahu?”
“Tabunganku banyak. Ayo buka toko bunga.”
“Kamu sebenarnya… Siapa?” pekik Joyce makin takut, padaku.
“Aku cuma mau bilang, apa kamu percaya takdir?”
Joyce terdiam.
Aku bertanya lagi padanya. “I’m asking you. Do you believe in fate?”
“I don’t know. I do believe in fate, but I just did what I want.”
“Semacam toko bunga?”
Joyce diam. Aku hanya tersenyum padanya.

***
Matraman, 28 Mei 2015
12:43 AM

P.S.
Just another piece of shit I write in the middle of the night, after a long time hiatus in writing.
Madly in love with parallel universe. What about you?
Just read it. Maybe you will find something, or you won’t find anything after all. :))



Posted on Thursday, May 28, 2015 by Ayu Welirang

No comments

02 March 2015

Saya sedang menulis thriller. Ya, THRILLER. Seperti novel 7 Divisi yang sedikit thrilling dan berbau petualangan, novel satu ini pun bernuansa thriller-suspense. Meski begitu, novel yang sedang saya garap ini tidak begitu kental akan petualangan. Dunia yang kini saya bangun, mengacu pada salah satu pekerjaan saya terdahulu, yaitu sebagai satpam cyber. Hahaha. Mengapa disebut 'satpam cyber'? Karena, dahulu sebelum saya memutuskan untuk menulis secara lepas, saya pernah bekerja di perusahaan IT dan kadang tidak tidur berhari-hari hanya untuk mengerjakan deployment aplikasi di server, juga melakukan monitoring. Karena keterbatasan SDM di kantor, apapun harus saya kerjakan. Dan yang membuat saya bangga adalah, saya menjadi perempuan satu-satunya yang berkutat di server, sementara lelakinya malah banyak yang menjadi programmer. Nah, di situ saya bangga, meski dampaknya adalah saya sering sakit maag karena telat makan, atau asam lambung terlalu banyak berinteraksi dengan kopi. Dan yang menyenangkan adalah, saya selalu ditraktir makan junk food. Well, biarpun junk food, lumayanlah daripada jajan sendiri. Jadi, uang gajian bisa ditabung (meskipun sebenarnya tabungan saya nggak pernah benar-benar banyak, saya juga bingung uang gajian lari ke mana). *dan ini adalah curhat*

Nah, kembali ke thriller. Kali ini, saya berusaha merampungkan naskah saya yang lolos dalam GWP batch 2. Judul naskah saya ini adalah CIPHER. Nah, untuk sneak-peek naskah ini, bisa dibaca di sini. Dan untuk beberapa bab naskah juga ada di halaman web GWP itu sendiri, karena waktu itu sistem seleksinya melalui web tersebut. Selengkapnya ada di sini.

Sedikit perkenalan singkat mengenai Cipher. Naskah ini ditulis saat pekerjaan sedang santai. Saya mencoba untuk mengeksplorasi dunia IT--khususnya network engineering--dan mengaplikasikannya ke dalam karya tulis (fiksi). Saya ada satu blog khusus IT dan Linux. Namun, tetap saja saya ingin menumpahkan keluh kesah saya tentang dunia IT ke dalam fiksi. Nah, maka dari itu saya membuat novel thriller berbau konspirasi dunia maya dan hacktivism, hingga lahirlah coretan kasar Cipher. Awalnya, saya lancar sekali mengetik. Hingga sampai bab 5, tiba-tiba saja semuanya menghilang. Hahahaha. Mungkin karena naskahnya terbengkalai cukup lama. Saya iseng posting di website GWP, dan ternyata malah jadi naskah 'Pilihan Editor'. Alhasil, karena kemenangan itulah saya harus membuka kembali draft yang sudah lumutan, lalu mengorek lumutnya hingga bersih dan mengilap lagi. :|

Lalu, di tengah-tengah writer's block yang melanda, apakah yang menemani saya dalam melakukan riset dan penulisan lanjutan Cipher?

Nah, berikut ini beberapa langkah yang saya tempuh saat naskah ini mendekati 'pemberhentian ide'. Sebenarnya, ini mungkin berguna bagi penulisan thriller lainnya, tak hanya techno-thriller ala Cipher.

Mari disimak! :D

~ Tetapkan Deadline

Dalam menulis naskah thriller, kalian harus menetapkan tanggal-tanggal penyelesaian agar tepat dan tidak terlalu mengulur waktu. Misalkan, tetapkan target bab. Tanggal sekian, 5 bab. Tanggal sekian, menuju 10 bab. Dan seterusnya, sesuai selera. Mengapa harus begitu? Karena, kalau naskah ini dibiarkan terbengkalai lamaaaaaaa sekali, sampai lebaran monyet mungkin kalian akan lupa naskah kalian sendiri. Apalagi kalau sub genre thriller-nya terkait teknis, misal techno-thriller yang banyak istilah teknik, atau psychothriller yang banyak tokoh sakit jiwa dan kalian malah lupa nama-namanya. Atau thriller lainnya yang 'menurut-saya-sih-ribet-karena-namanya-juga-thriller'.

Deadline ini akan jadi acuan dan pemacu dalam menulis, agar setiap deadline tertentu, kalian bisa mengevaluasi hasil tulisan kalian sebelum melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. 

~ Menyiapkan Cemilan

Martabak Telor Bebek Enaks~
Ini sebenarnya tips sesat. Tapi, menulis thriller yang serius perlu berbagai pertimbangan juga sebab-akibat dalam tiap babnya, agar jalinan cerita menjadi lebih terstruktur. Nah, cemilan ini berfungsi untuk menstimulasi otak agar tidak kelaparan saat berpikir. Daripada saat proses penulisan kelaparan dan harus berhenti untuk cari makanan dulu, lebih baik beli makanan atau cemilannya duluan. Jadi, kalau lapar dan otak sudah susah mikir, bisa langsung makan, nggak usah cari-cari lagi. Lagipula, kalau idenya lagi berapi-api, kan sayang kalau terpotong hanya karena mau jajan dulu? Iya nggak? Ya udah, iya aja deh. :|



~ Membuat Daftar Tokoh

Ini tips perlu banget lho! Saya suka membuat jalinan tokoh sebelum melanjutkan naskah. Naskah thriller biasanya terdiri dari beberapa ornamen di dalamnya, baik yang utama maupun yang hanya figuran. Nah, daftar dan tabel tokoh ini nantinya akan menjelaskan siapa saja yang jadi pemeran utama, lalu apa kepentingannya dalam cerita. Selain itu, naskah figuran juga perlu lho! Dia juga mendapat porsi dan pastinya akan menemui tokoh utama. Harus ada tabel untuk persinggungan antara tokoh ini. Selain itu, trik ini cukup efisien untuk mendeskripsikan tokoh-tokohnya, ciri-ciri fisik, nama lengkap, kebiasaan, pakaian, usia, dan juga tokoh-tokoh yang terdekat dengannya. 

~ Membuat Diagram Alir

Nah, ini sebenarnya cara yang sering digunakan dalam dunia IT. Biasanya sih, para programmer sering membuat diagram alir atau yang dikenal sebagai 'flowchart' sebelum membuat sebuah program. Selain itu, diagram juga kadang dibutuhkan oleh para 'network engineer' untuk mendefinisikan topologi maupun rangkaian kemungkinan dan sistem yang akan dibangun. Dengan diagram yang sama seperti saat saya membuat sistem monitoring dan pembagian perangkat keras, saya pun membuat diagram alir untuk tokoh-tokoh dan sebab-akibat dalam cerita. Nantinya, dari sebab-akibat ini, saya bisa membuat pembagian konflik dan ketegangan ke dalam bab-bab yang saya kerjakan. 

Misalnya, dari tokoh A -> tarik garis ke tokoh B dan kejadiannya -> tarik ke kejadian berikut -> kembali ke tokoh A -> lempar tokoh C -> dan suka-suka Anda saja deh! :)))

Nah, setelah pembagian konflik dalam outline kasar, saya bisa menuliskannya ke dalam bab yang sebenarnya, yang utuh dan tak keropos seperti hatiku.

Tabel Tokoh dan Diagram Alir

~ Membuat Outline

Outline itu ternyata penting lho teman! Dan saya baru menyadarinya setelah sekian lama. Untuk pembahasan outline ini, nanti saya akan jelaskan di posting lainnya ya, soalnya kalau dimasukkan ke posting ini, pasti kepanjangan. Haha. Intinya, saya akan membuat outline dalam menulis naskah novel apapun (tidak hanya untuk thriller), tentunya berdasarkan kepadatan konflik yang sudah saya jabarkan dalam diagram sebelumnya. :)

~ Main Game Untuk Menghilangkan Kejenuhan

Ini tips sesat! Sudah saya ingatkan dari tadi. Kadang-kadang, kalau main game online saat sedang menulis, akhirnya malah jadi nggak melanjutkan penulisan. Tapi, ini efektif sih kalau otak sudah panas karena terlalu banyak menulis tentang pembunuhan, penghancuran, penculikan, atau hal-hal yang terkait teknis yang berhubungan dengan tema cerita (misal tentang hacker, maka si tokoh A lagi bercerita tentang virus komputer yang bisa menghentikan operasional infrastruktur). Nah, main game-lah, tapi hati-hati, game bisa lebih candu dari penulisan thriller itu sendiri. *zzzzzZZZZzzz *sesat

Outline...
(outline games tapinya)

~ Membaca Referensi

Nah, ini sih sudah pasti semuanya juga setuju. Hal terpenting dalam menulis adalah membaca. Karena, kata beberapa tokoh, untuk bisa menulis, kalian harus bisa membaca dulu! Minimal, kalian mempelajari beberapa novel atau cerita yang genrenya sama atau temanya sesuai. Nah, setelah melakukan ini, minimalnya kalian bisa menulis dengan kaidah-kaidah yang ada pada referensi bacaan. Syukur-syukur, kalian malah bisa menemukan kaidah menulis sendiri dengan menggabungkan beberapa gaya penulisan dari beberapa novel, atau melakukan improvisasi gaya penulisan. 

Referensi Thriller dan Cerita Detektif @_@

~ Bersabar dan Tawakal

Hal dan hil yang terakhir tentunya adalah sabar dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jika semua langkah telah ditempuh, tapi ternyata naskah thriller masih di situ-situ saja, teman-teman hanya tinggal terus berusaha, sabar, dan berdoa. Saya saja, kadang kalau stuck dan sudah malas sekali, langsung rebahan di kasur dan tidur siang. Lalu, sore-sore bangun, ke warteg, duduk lagi depan laptop tapi tidak mengetik naskah. Karena, mau bagaimanapun juga, otak ini tidak bisa dipaksa. Jadi, kalau sudah stuck ya sudahlah. Mungkin idenya akan datang esok hari. :|

*lalu-digergaji-pembaca* *report-as-spam*

Nah, sekian dulu ya, tips sesat hari ini. Semoga teman-teman semua mendapat pencerahan yang gelap. :p

Selamat menulis dan menjadi gila! :))

Posted on Monday, March 02, 2015 by Ayu Welirang

1 comment

23 February 2015

Kalau sedang susah tidur, biasanya saya menghabiskan waktu hingga mengantuk dengan memainkan game browser bernama Travian. Kalau tidak main game, saya menulis omong kosong yang panjang. Berlembar-lembar kertas bekas cetakan laporan pekerjaan, atau bekas tugas kuliah ekstensi biasanya jadi korban omong kosong itu.

Tapi, ternyata waktu tidur yang diinginkan nggak datang juga. Terpaksa saya rebah di ranjang, lalu menyumpal lubang telinga dengan earphone dan memutar playlist "Bobo" di telepon pintar.

Playlist "Bobo" ini cenderung sendu. Kebanyakan sih lagu-lagu Padi. Lagu semacam "Cahaya Mata" atau "Seperti Kekasihku". Ada juga lagu-lagu lainnya yang tidak Indonesia, semisal Coldplay atau yang agak bernuansa santai--biasanya ini untuk nangkring di hammock--semacam Matchbox 20. Ya, maaf kalau pilihan lagunya agak tua. Alasannya cuma satu sih. Itu karena lagu-lagu yang sudah tua, nggak pernah lekang dimakan rayap.

Lagu sampai pada Sisir Tanah. Yang ini tentu nggak masuk jajaran "lagu tua" di playlist. Mas Danto meninabobokan saya dengan suara beratnya dan permainan gitar apik. Tapi, yang jadi masalah adalah, mendengar Mas Danto bernyanyi, saya malah jadi tak bisa tidur. Mata saya tetap terbuka, menerawang ke sudut kamar kost yang penuh poster. Di sela-sela Mas Danto bernyanyi, saya malah memikirkan soal hidup.

Mas Danto membereskan intro dan bernyanyi, "Seumpama sedih, hidup memang tugas manusia." 

Tiba-tiba saja saya ingat kehidupan. Padahal, biasanya saya cuma menjalani hari-hari seperti biasa, tanpa memikirkan remeh-temeh hidup. Kalau diingat-ingat, sudah empat bulan sejak saya memutuskan berhenti bekerja, dan kini saya tetap di kota orang. Bertahan hidup dengan apa yang saya punya dan belum mau pulang. Saya punya arti tersendiri bagi kata "merantau". Bagi saya, "merantau" adalah istilah yang saya gunakan untuk menunjukkan bahwa saya bisa pulang ke rumah dengan kemenangan atau minimal membawa kebahagiaan. Kalau saya pulang dengan keadaan serba 'pas' seperti ini, apa yang disebut menang? Entahlah. Sebut saya keras kepala. Sebut saya terlalu sinis pada sebuah kata bernama 'pulang', hingga saya memutuskan seperti ini.

Tapi, saya mulai menikmati ritme hidup saya ini. Hidup dengan bertahan di belantara kota yang ganas, serupa hutan sebenarnya. Saya kira, ritme hidup ini sedang mulai saya tata baik-baik, agar tetap berjalan baik. *ini gimana sih bahasanya?*

Namun, seperti permainan Travian, atau Clash of Clans, bertahan tentunya akan seimbang jika kita juga menyerang. Menyerang apa? Ya entahlah. Menyerang kawan mungkin, menyerang beberapa perusahaan raksasa yang menolakmu karena kamu perempuan atau hanya lulusan STM, atau mungkin menertawai mantan kolega dan pimpinanmu di kantor sebelumnya karena masih menunggak gajimu tapi kamu asyik-asyik saja hidup tanpa kekurangan. Nah, serangan seperti itulah yang bisa membuatmu tetap waras, walau di kota besar. Saya kadang menyebut ini secara sederhana sebagai 'rasa syukur'. Ya, tetap bersyukur dan menjalani hidup. Karena, seperti yang Mas Danto bilang, "Seumpama sedih, hidup memang tugas manusia." Tak berhenti di situ, Mas Danto bahkan menambahkan, "Jarang ada benar, takkan pernah ada tempat yang sungguh merdeka."

Itu juga bukan akhirnya, karena Mas Danto tetap bernyanyi. Ia mengingatkan kita bahwa hidup hanya harus terus dijalani, tanpa keluhan sana-sini. Menurutnya, "Seumpama lelah, masih tersisa banyak waktu. Menjelmakan mimpi, menggerakkan kawan, hadirkan perubahan."

Kawan-kawan yang bisa melewati masa sulit bersama, menjelmakan mimpi-mimpi dan mendatangkan damai. Hal ini yang paling penting, karena hanya dengan memiliki kawan setia, hidup yang sulit ini dapat ditertawakan dengan bahagia. Ingat sendiri bagaimana Danny dan para paisano melewati masa krisis kehidupan dengan meminum Anggur Torelli. Bagi mereka, lebih baik tidak makan daripada tidak minum anggur. Haha. Ini adalah sebuah perumpamaan, menurut saya. "Lebih baik mabuk, daripada menjadi waras di tengah kegilaan." Hal ini juga diamini oleh Khalil Gibran, yang bahkan puisinya disadur dalam drama Korea seputar pekerja kontrak, berjudul Misaeng.

"Mesti selalu mabuk. Terang sudah, itulah masalah satu-satunya. Agar tidak merasakan beban ngeri Sang Waktu yang meremukkan bahu serta merundukkan tubuhmu ke bumi, mestilah kau bermabuk-mabuk terus-terusan. Tetapi dengan apa? Dengan anggur, dengan puisi, dengan kebajikan, sesuka hatimu. Tetapi mabuklah!"

Mabuklah sesuka hatimu, begitu kata Khalil Gibran. Lebih baik tak merasakan beban ngeri Sang Waktu dengan mabuk bersama teman-teman, daripada sendirian mencari legenda hidup yang menurut orang-penting-yang-pernah-memimpinmu agar kau cari dan kau temukan. Padahal sejujurnya, hal itu bukanlah legenda hidup yang kau inginkan, melainkan tujuan si-pemimpin-yang-pernah-menahan-bayaran-kerjamu.  Padahal, kau jelas mengetahui apa yang menjadi legenda hidupmu, sebab memang benar, seperti kata mantan pemimpinmu itu, legenda hidup ternyata ada di halaman depan rumahmu sendiri, tanpa pernah kau cari ke mana-mana. Rupanya, legenda hidup itu seperti legenda hidup milik Santiago dalam The Alchemist, si gembala kambing yang memutuskan untuk berkelana hingga akhirnya kembali ke rumah dengan menemukan legenda hidup yang sejak dulu tertanam di pekarangan rumah.

Jadi, setelah kini saya berkelana mencari legenda hidup yang tidak pernah saya amini itu, saya akhirnya menemukan legenda hidup yang sejak dahulu tidak pernah beranjak ke mana-mana. Legenda hidup saya itu selalu ada di samping saya, bahkan di dalam kepala dan hati. Legenda hidup itu adalah dunia tulis-menulis yang saya pelajari sejak saya mulai menyadari bahwa saya terikat dengan dunia itu.

Ya sudah. Begitu saja akhirnya. Walau kini saya harus bersusah-susah dengan pilihan kecil yang akan menjadi sebuah pilihan besar--seperti kata Han Suk Yool si ahli mesin yang memutuskan jadi pekerja di perusahaan trading--saya akhirnya berbahagia karena menemukan legenda hidup di pekarangan rumah sendiri.

Posted on Monday, February 23, 2015 by Ayu Welirang

1 comment

17 February 2015

***Disclaimer:
Dikarenakan template blog ini baru, dan ternyata tidak bisa menggunakan formatting fonts, jadi mohon maaf kalau ada kata yang harusnya tercetak miring, tidak tercetak miring.***

***

Ketika menulis "a so called writing tips" ini, saya baru saja mengirim naskah terbaru yang selesai ditulis dalam waktu kurang lebih dua bulan. Dimulai sejak akhir November, tapi baru benar-benar ditulis secara intens sejak Desember hingga pertengahan Februari ini. Ya, hitung sendiri lah ya, berapa bulannya, saya juga nggak yakin soalnya. :))

Nah, naskah ini adalah naskah yang saya tulis pasca resign dari pekerjaan saya sebagai System Analyst di salah satu perusahaan konsultasi IT. Untuk mengisi waktu luang yang luang sekali--tentunya sebelum saya mendapatkan proyek menulis trio untuk Monthly Series #2 Grasindo--saya mengerjakan novel ini.

Naskah ini sebetulnya adalah salah satu contoh bahwa ide menulis itu bukanlah ditunggu, melainkan diraih alias dipaksakan. Saya sedang menonton film tentang kenakalan remaja, dua seri dan berulang-ulang, ketika pada akhirnya ide naskah ini saya temukan. Sejenak, saya pause film yang sedang saya tonton dan saya menuliskan ide naskah di buku catatan yang biasa saya gunakan. Saya senang mencatat, karena saat menulis novel, saya tidak harus membuka jendela aplikasi lainnya hanya untuk melihat outline atau melihat garis besar cerita yang saya buat. Kalau ada di buku catatan, sambil menulis, saya masih bisa membaca garis besar cerita melalui buku catatan.

Naskah yang idenya saya cari-cari ini, akhirnya menemukan awal dan akhir. Bagaimana konflik dalam cerita diawali, dan bagaimana cara menyelesaikannya. Hingga bagian awal ditulis, saya belum menentukan seperti apa bagian tengah cerita. Nah, oleh karena itu, kehadiran outline sangat diperlukan. Berbekal pengetahuan minim dan mencari di dunia maya, akhirnya saya mengkombinasikan beberapa tips mengenai pembuatan outline dari penulis yang sudah lebih lama melanglangbuana di dunia kepenulisan. Setelah ilmu itu saya cerna, saya mencoba untuk mencatat outline singkat di buku catatan.

Mulanya, outline ini hanya terdiri dari sekian bab, juga bagaimana epilog akan mengakhiri cerita. Namun, seiring perkembangan cerita yang saya tulis, ternyata ada beberapa kebutuhan adegan maupun plot lain untuk menambah kekayaan cerita. Maka dari itu, saya harus merombak beberapa adegan dalam bab tertentu dan menukarnya ke bab lain. Dengan buku catatan, saya tinggal membuat panah-panah untuk mengarahkan bab yang ditukar itu dan menghubungkannya dengan bab yang bersangkutan. Selain itu, penambahan bab juga saya tuliskan garis besarnya, hingga ketika saya lupa, penambahan itu sudah tercatat di buku catatan.

Nah, ide yang saya cari-cari ini, akhirnya bisa membuat saya merasa puas, apalagi saat saya berhasil menyelesaikannya. Dengan bantuan outline, saya jadi lebih mudah mengembangkan ide yang datang karena saya paksa untuk datang, bukan karena saya tunggu. Kalau saya tunggu, bisa jadi malah tidak datang ide sama sekali. Hehe.

klik untuk memperbesar gambar

Ketika pengalaman ini saya tulis di blog, saya sudah mengirimkan naskah utuhnya ke salah satu penerbit dan sekarang mungkin sedang dalam proses evaluasi oleh penerbit. Naskah ini kira-kira terdiri dari 25 bab utuh, dengan prolog dan epilog. Ada sekitar 228 halaman yang berkembang dari 170 halaman karena faktor-faktor yang saya sebutkan pada paragraf di atas. Sekarang saya tinggal berdoa, semoga memang yang terbaik yang akan terjadi. Saya juga tidak sabar ingin menunjukkan tentang dunia yang saya tuliskan dalam naskah ini, kepada para pembaca yang mungkin akan menemukannya.

Saya percaya, setiap kisah dalam fiksi, akan menemukan pembacanya masing-masing. Banyak ataupun tidak, itu tak jadi soal. Yang jelas, saya tetap senang saat menyelesaikan naskah ini dan menikmati proses menulisnya.

Doakan saja ya! :)

Posted on Tuesday, February 17, 2015 by Ayu Welirang

2 comments

09 February 2015

beli di sini: PengenBuku.net | SCOOP | BukaBuku

[judul] Februari: Ecstasy
[penerbit] Grasindo Publisher
[jenis] Novel
[genre] Romance Thriller
[terbit] 09 Februari 2015
[tebal] 200 halaman

Mayang
Napasku memburu. Bayangan Nugie mati di tanganku mulai berputar. Bagaimana aku bisa membunuh dia? Aku tumbuh besar bersamanya. Aku mencintainya.

Nugie
Joya terus menatapku. Kutatap dia jauh lebih dalam, bila perlu sampai menembus harinya. Biar aku bisa menatap di sana. Ya, aku harus bisa menguasai Joya.

Joya
Kubakar ujung lintingan yang lebih besar, kuisap dalam-dalam asap organik itu. Sejenak aku lupa akan Nugie dan Mayang. Kalau aku boleh meminta, aku ingin melupa semuanya.

***

Mayang, Nugie dan Joya dicurigai sebagai pembunuh Sukoco, Sang Pemimpin Geng dan juga merupakan ayah Nugie. Si kembar Mayang dan Joya dibesarkan Sukoco setelah pria itu membunuh kedua orang tua mereka 12 tahun lalu. Tapi semua orang juga tahu, Nugie sangat membenci ayahnya sendiri. Hanya ada satu pemimpin yang boleh menguasai seluruh rusun. Mereka bertiga hanya punya dua pilihan, membunuh atau terbunuh.

***

Kumpulan review Februari: Ecstasy dari para pembaca.

Posted on Monday, February 09, 2015 by Ayu Welirang

1 comment